#24CIPINANGMUARA

Kantor Ummi selanjutnya pindah ke Cipinang Muara. Letaknya persis pinggir jalan Basuki Rahmat. Jalan lingkar luar yang tembus ke Kampung Melayu dan Casablanca. Waktu kita pindah ke kantor Jalan Basuki Rahmat ini jalanan barunya belum selesai dibangun.

Kali ini tak ada redaksi Ummi yang tinggal di kantor itu. Selain rumahnya kecil redaksi Ummi juga anaknya tambah banyak. Jadi sudah gak ada yang betah tinggal di rumah sekaligus kantor. Alhamdulillah Ummi sudah bisa menggaji office boy. Jadi dia yang tiap hari tidur di kantor dan membersihkan kantor serta melayani para karyawan saat bekerja.

Ummi juga mesti ngontrak rumah yang ruangannya rada banyak. Minimal mesti ada 3 ruang yang cukup besar buat menampung kru redaksi. Redaksi Ummi, redaksi Annida dan ruangan untuk tim pendukung seperti keuangan, disitribusi dan marketing.

Redaksi Annida yang semuanya berstatus mahasiswi UI itu juga akhirnya mereka pada lulus kuliah. Sebagian lanjut jadi kru Annida. Sebagian lagi keluar karena lanjut sekolah S2. Kru Nida awal ini dari segi akademis bisa di bilang jempolan semua. Haula Rosdiana kini menjadi salah satu guru besar di UI. Inayati pun begitu. Helvy baru tahun 2020 lalu meraih doktor di UNJ. Dian Yasmina kandidat doktor di UI. Yang paling mengenaskan memang pemred Annida yang laki laki sendiri. Kuliahnya gak jelas arah.

Aku sendiri usai tak lagi tinggal di kantor Ummi pindah kontrakan ke Kebon Manggis. Kontrakan di gang kecil ini letaknya di belakang tempat SD aku dulu. Lingkungannya agak kumuh. Depan rumah kontrakanku tiap malam selalu ramai orang nongkrong dan begadang. Belakangan aku baru tahu rumah itu bandar miras. Mau pindah kontrakan tapi sayang uang. Udah keburu bayar buat setahun. Akhirnya ya tetap bertahan di Kebon Manggis sampai kontrakan habis.

Raida anak pertama lahir tahun 1992. Baru setahun menyusui isteri sudah hamil lagi. Entah kenapa bisa begitu. Aku masih lugu waktu itu. Anak kedua perempuan lahir November 1994. Lahirnya di bidan Suminem jalan Nanas. Tempat biasa periksa kandungan isteri tiap bulan. Aku kasih nama Dini Afnani. Tapi umur Dini tidak panjang. Belum genap sebulan Dini meninggal. Awalnya aku dan isteri bawa Dini ke klinik untuk di vaksin. Entah kenapa sepulang dari klinik Dini sempat muntah. Dan badan serta bibir mulai membiru. Aku langsung bawa ke RSCM. Dari UGD karena kondisi buruk langsung masuk ICU. Beberapa jam di ICU khusus bayi, dokter memanggil aku. Kabarkan Dini sudah meninggal. Sebabnya kenapa? Dokter tak bisa kasih jawaban pasti. Kalau mau presisi ya mesti di otopsi. Aku nolak. Akhirnya bawa jenazah Dini pulang.

Jangan ditanya perasaan aku dan isteri ya. Kadang aku suka kesel sama para wartawan tivi yang meliput musibah. Misal jatuhnya pesawat Sriwijaya ke perairan Kepulauan Seribu beberapa waktu lalu. Ada aja reporter yang nanya ke keluarga korban dengan pertanyaan seperti itu. Ini maksudnya apa? Mau menggali dari keluarga korban dengan jawaban yang ajaib kah? Misal, ‘oh saya gembira sekali dengan peristiwa ini…’ begitu?

Ya sudah pastilah semua orang yang kehilangan anggota keluarganya pasti sedih. Wong kita kehilangan sendal di masjid aja sedih apalagi kehilangan anak.

Tapi sebagai manusia kita mesti sadar. Semua di dunia ini sudah ada yang mengatur. Termasuk kapan manusia meninggal. Gak peduli umur masih sebulan atau bahkan sampai seratus tahun. Kalau Allah sudah cabut rezekinya ya sampai ajalnya.

Aku mandikan sendiri jenazah Dini di rumah ibu di Matraman. Dibantu dengan mbak Lely kakak perempuanku. Usai dikafani dan di solatkan di Musolla aku bawa ke pemakaman Penggilingan Rawamangun. Dini dikubur dekat dengan makam Babe ku. Kalau ziarah ke makam babe ada hal yang menarik. Dulu di mess tentara jalan matraman raya keluarge babe, kelurga pak Sutrisno dan pak Sugiman tinggal di rumah yang sama. Cuman disekat sedemikian rupa sehingga bisa dipakai oleh 3 keluarga ini. Ketika mereka meninggal makamnya saling berdampingan. Suharno, Sutrisno dan Sugiman. Entah kenapa bisa begitu. Ini fakta.

Yang bikin sedih kalau mengenang Dini adalah sebulan setelah kematiannya. Akte kelahirannya Dini terbit. Bisa dibayangkan kan bagaimana perasaan abi Mabruri saat ngambil akte kelahiran Dini Tetapi Dininya sudah meninggal.

Diterbitkan oleh brurmabrur

Pernah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Ummi dan Annida. Kini aktif sebagai Presiden Komunitas Bambu Wulung. Sebuah komunitas yang mewadahi para pekerja, pemikir dan penyuka seni budaya. Ketua Bidang Humas PKS 2020-2025. Bisa dihubungi di ahmad.mabruri@gmail.com

2 tanggapan untuk “#24CIPINANGMUARA

Tinggalkan Balasan ke brurmabrur Batalkan balasan