#16LENTENGAGUNG32

Di IISIP banyak yang bikin kaos tulisannya LA32. Biar mirip initial kota Los Angeles di California Amrik. Alamat kampus memang di jalan raya Lenteng Agung no 32. Kenapa lo mention tempat Lenteng Agung sampai 4 kali Brur? Ya karena banyak kejadian di kampus ini. Termasuk jadian aku sama temen seangkatan. Ehm…!

Mbak Hen dan mbak Yayuk kakak sepupuku sewa rumah buat kost di seberang kampus. Karena rumahnya cukup besar maka selain mereka berdua ada dua orang lagi yang tinggal di rumah kost itu. Temennya mbak Hen angkatan 85 sama temennya mbak Yayuk angkatan 86. Nah ceritanya temennya mbak Yayuk ini yang sama temen temen dijodoh-jodohin sama aku.

Gak usah sebut namanya yak. Gak enak soalnya gak happy ending. Yang jelas orangnya pendiam kayak aku. Terus gak neko-neko, cara pakaiannya juga sopan gak ngejreng. Memang belum pakai hijab. Katanya sik udah beberapa temen seangkatan yang ngajak jadian, kakak kelas juga ada yang nembak. Tapi dia tolak semua. Gak tahu kenapa dia mau sama aku. Mungkin karena aku gak macem macem orangnya. Kelihatan soleh dan suka solat di musolla. Walaupun tampangnya paspasan. Gak papa gak keren yang penting setia.

Bapaknya wartawan dan tinggal di komplek PWI Kebon Nanas Jakarta Timur. Kalau pulang kuliah terus dia mau pulang ke PWI kadang kadang aku anterin. Anterin maksudnya bareng naik kendaraan umum. Bayar sendiri sendiri juga. Haha. Yang serem kalau malam. Soalnya komplek PWI naik mikrolet dari terminal Kampung Melayu pasti ngelewatin kuburan cina. Gelap dan kanan kiri kuburan dengan nisan segede gede gaban.

Orang mah jaman dulu kalau pacaran kan nonton bioskop atau makan dimana gitu. Kalau aku mah enggak. Ngajaknya ke pengajian aja. Ngajak dengerin ceramah dan semacamnya. Jelas bete kali ya. Cuman ya mau gimana kan kita aktivis musolla. Karena aku jurusan Jurnalistik sementara dia anak humas maka kuliahnya juga banyak yang gak bareng. Kalau nganterin ke rumah PWI juga gak sampe masuk rumah. Jadi jarang ketemu orang tuanya. Seingatku cuman sekali aja ke rumahnya. Waktu itu rumahnya udah pindah ke Jaka Sampurna arah Bekasi. Aku samperin ke rumah. Sempat ngeteh dan ngobrol sama ibunya. Maksud aku mau ajak ke pengajian mumpung hari libur. Cuman anaknya gak mau. Ya sudah.

Di semester 7 ada kuliah kerja lapangan. Aku praktek kerja di Harian Pelita. Kantornya di depan Ratu Plaza Senayan. Dari jembatan semanggi lewatin dua halte bus. Harian Pelita ini salah satu koran yang kebijakan redaksinya membela kepentingan umat. Tugas tugas liputan mulai dijalankan. Biasanya dapat tugas wawancara beberapa nara sumber. Nanti hasil wawancara dijadikan bahan berita sesuai dengan agenda setting yang sudah disiapkan redaksi.

Salah satu kelebihan kuliah di iisip ini jaringan wartawannya hampir ada di semua media massa. Baik cetak maupun elektronik. Kemana aja kita datang ke kantor media. Pasi ada anak iisip yang kerja disana. Dan banyak juga yang belum lulus kuliah tapi karena sudah asik kerja di media akhirnya lupa balik kampus.

Paling seneng kalau hasil liputan kita nongol jadi headline. Pernah kejadian pas baru keluar kantor ada mobil terbakar di deket jembatn semanggi. Akunyang waktu itu lagi bawa kamera langsung jeprat jepret mobil dalam kondisi api masih menyala. Supirnya selamat dan sempat aku wawancarai. Besok paginya hasil jepretanku muncul di halaman pertama sebagai berita foto. Keren lah. Aku pamerin ke temen-temen di kampus. Anak praktek kuliah tapi beritanya bisa nembus jadi headline.

Semester 8 aku sudah skripsi. Seangkatan 86 cuman 6 atau 7 orang aja yang sudah boleh ikut bimbingan skripsi karena sudah memenuhi jumlah SKS nya. Aku ambil penelitian di majalah Matra. Tentang penulisan ilmiah populer di salah satu rubrik majalah itu. Sudah 2 bab di acc sama dosen pembimbing. Tetiba pada maret 1990 ditugaskan murobbi (guru pembimbing ngaji) aku untuk kerja di Majalah Ummi. Majalah Ummi baru terbit setahun dan perlu tenaga yang ngerti jurnalistik untuk tambah bikin maju.

Aku sami’na wa ato’na karena perintah komandan. Akibat terlalu serius ngurus kerjaan baru aku lupa ke kampus. Skripsi yang sudah 2 bab terlantar. Mau ke Lenteng Agung perasaan males bener. Dan akhirnya emang kejadian. Kuliahku enggak kelar. Aku gak pernah lagi injak kampus. Apalagi saat murobbiku nyuruh nikah tahun 91. Semua urusan kampus ditinggalkan. Termasuk yang pernah jadian dengan teman seangkatan.

Sedih deh kalau denger ceritanya. Soalnya aku denger sendiri dari orangnya setelah 22 tahun kita gak pernah bertukar kabar. Ntar yak cerita detailnya di tagar #MERDEKASELATAN 😂

Diterbitkan oleh brurmabrur

Pernah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Ummi dan Annida. Kini aktif sebagai Presiden Komunitas Bambu Wulung. Sebuah komunitas yang mewadahi para pekerja, pemikir dan penyuka seni budaya. Ketua Bidang Humas PKS 2020-2025. Bisa dihubungi di ahmad.mabruri@gmail.com

2 tanggapan untuk “#16LENTENGAGUNG32

Tinggalkan Balasan ke brurmabrur Batalkan balasan