Tahun 1986 akhirnya aku kuliah juga. Setelah gak jebol di fakultas kedokteran UI yang kedua kali, akhirnya aku cari alternatif jurusan lain. Entah dapat wahyu atau ilham dari mana tetiba kepikiran daftar kuliah ke Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Lenteng Agung. Gak ada sejarah saudara atau tetangga kuliah disini. Mana kampusnya jauh beud dari rumah.
Rute jalan ke Kampus Tercinta ini lumayan panjang. Kalau naik bus PPD no 90 jurusan Tanjung Priok-Pasar Minggu. Habis itu nyambung miniarta Pasar Minggu-Depok. Tapiii… bus PPD no 90 ini jarang lewat. Selain busnya cuman dikit. Rutenya panjang bener. Jadi kalau mau cepat kita mesti 3x naik kendaraan umum. Mikrolet Senen-Kampung Melayu. Pindah Mikrolet Kampung Melayu – Ps Minggu. Baru naik Miniarta Ps Minggu-Depok. Hufff… tua di jalan.
Pertimbangan utama masuk IISIP karena biaya masuk kuliah dan uang semesterannya murah banget. Cuman 300 rebu satu semester. Uang masuk pertama kali juga gak mahal. Lupa aku berapa tapi gak sampe sejuta deh. Bisa dicicil pula. Jadi walaupun jauh ya sikat aja. Yang penting kuliah dulu. Urusan belakangan.
Yang jadi pertanyaan adalah: apa hubungan fakultas kedokteran dengan fakultas komunikasi? Kenapa deviasinya melenceng jauh pisan. Ilmu kedokteran ada di ujung timur sementara ilmu komunikasi ada di ujung barat. Titik temunya dimana? Gak tahu deh. Sekolah 3 tahun jurusan IPA. Tetiba kuliah ambil jurusan IPS. Ya gakpapa deh yang penting belajar.
Singkat kata. Setelah tes masuk dan lulus jadi mahasiswa kita langsung digeber sama penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) pola 100 jam. Itu artinya mahasiswa baru mesti masuk terus selama 2 pekan gak boleh bolos dengerin ceramah dan diskusi tentang Pancasila. Kalo bolos dianggap gak lulus. Kalau lulus setara dengan MKDU Pancasila 2 SKS. Dari 300 mahasiswa baru itu dibagi 3 kelompok besar. Kelompok Nusa, Bangsa dan Bahasa. Masing kelompok nanti dibikin kelas. Ada Nusa 1, Nusa 2 dan seterusnya.
Aku dapat kelas Nusa 1. Aku tengok kanan kiri gak ada satupun temen SMA seangkatan yang masuk IISIP. Semuanya kawan baru. Belakangan hari baru ketemu adik kelas SMA 31 yang barengan masuk. Namanya Avesinna. Di kampus tercinta ini bakat bakat bandelku mulai tampak. Aku bergaul sama geng tukang nongkrong. Tapi disisi lain aku masih dipantau sama mentor ngajiku di SMA untuk menjadi da’i di kampus. Jadilah aku kayak manusia yang hidup di dua alam. Kadang nongki-nongki sama geng rusuh. Tapi disaat lain aku aktif di musolla kampus.
O ya cerita dikit tentang penataran P4 yang melelahkan itu. Akhirnya aku dinyatakan lulus. Bukan hanya itu aja. Dari 300 mahasiswa baru aku dinobatkan sebagai juara 1 penataran P4. Ngalahin bang Iwan Fals yang ada di kelompok Bahasa. Juara 2 seingatku Ahmad Sibli asal SMA dari Lampung. Juara 3 Ratni.
Pemusik Iwan Fals ternyata seangkatan dengan aku juga di IISIP. Waktu itu dia lagi ngetop-ngetopnya sebagai penyanyi. Lagu lagunya penuh dengan kritik sosial. Cuman karena selama penataran P4 aku gak satu kelompok jadi kita gak saling kenal. Aku kenal dia. Bang Iwannya gak kenal aku.
Jadi aku nih gak ada bakat jadi radikal. Karena soal Pancasila aku jagonya. Buktinya juara satu P4. Cuman karena waktu itu aku ikut pengajian yang doktrinnya agak keras maka sikapku terhadap kehidupan bernegara di bawah rezim orba itu kelihatan agak berseberangan.
Cerita seputar kuliah ini banyak serunya. Gak cukup cuman sekali tulis. Ntar kita sambung di tulisan besok ya.
Khatam baca dari 01Tanjungpriuk sampai 12Kapukamal sekali duduk…mantaf…tulisannya Bang
SukaSuka
Makasih bang. Masih banyak yang typo belum diedit. Ntar dirapiin biar tambah asyik.
SukaSuka