#01TANJUNGPRIOK

Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta jadi tempat bersejarah buatku. Di sebuah klinik kecil aku lahir. Kalau kata ibu sih sejak di ambulan aku udah mbrojol. Istilah jawa untuk kelahiran yang lebih cepat. Waktu itu kapal laut yang membawa jamaah haji pulang dari Saudi Arabia merapat di dermaga Tanjung Priok. Turun dari kapal ibu langsung digotong ke ambulan. Nah di ambulan aku udah berontak gak sabar keluar sebelum sampai klinik. Mungkin karena mabok laut. Capek dan lelah usai ikut prosesi haji.

Jadi gimana ceritanya lo bisa kebawa naik kapal Brur? Hehe. panjang sik urusannya. Waktu itu babe dan ibu berangkat haji. Berangkat dari rumah di Cimahi Jawa Barat menuju Jakarta. Waktu itu tahun 1968 sebagian besar calon jamaah haji belum naik pesawat terbang. Tapi naik kapal laut. Kebayang kan berat bener ini perjalanan. Dari jakarta menuju pelabuhan Jedah butuh waktu sebulan. Di tanah suci kurang lebih sebulan juga. Pulang ke tanah air naik kapal laut sebulan lagi. Total perjalanan haji pergi pulang sekitar 3 bulan. Puas bener itu pergi haji. Jadi bener dulu orang orang kalau nganter haji semua sodara ikut. Sambil nangis nangis mereka lepas orang tua yang pergi haji. Karena mungkin itu adalah pertemuan terakhir. Perjalanan haji berat. Nyawa taruhannya. Cerita babe selama berangkat di kapal menuju Saudi Arabia aja hampir tiap hari calon jamaah haji solat jenazah. Ada aja calon jamaah haji yang meninggal di kapal. Mayit yang meninggal di kapal usai disolatkan dikasih pemberat dan dibuang ke laut.

Horror yak. Tapi itulah seninya berhaji jaman dulu. Musti siap lahir batin. Korbankan harta dan jiwa. Maka gak salah ganjaran haji mabrur adalah surga. Ibadahnya berat bener ini. Main fisik segala.

Yang agak unik emang ibuku sih. Kenapa emak emak hamil 6 bulan bisa lolos berangkat haji? Bukannya orang hamil gak boleh berangkat haji? Konon kata babe, ibuku tuh gak mau ditinggal sama babe. Cinta mati lah sama babe. Jadi walau hamil tetep maksa ikut haji. Ya qadarullah gimana ceritanya ane gak tahu persis yang jelas ibu akhirnya berangkat haji bareng babe. Denger cerita sih waktu diperiksa kesehatan yang maju adiknya ibu. Mukanya mirip. Tapi pas berangkat naik kapal ibu yang masuk. Sambil pake mantel besar buat nutupin perut yang lagi hamil. Tahu bener atau gak deh ini cerita. Mungkin cuman rumor atu bisa jadi hoax. Haha.

Sebenarnya tahun 1968 itu ada juga jamaah haji yang naik pesawat. Tapi harganya muahal beud. Naik kapal laut 400 ribu sedangkan naik pesawat 1,4 juta. Tiga kali lipet lebih mahal. Makanya jumlah jamaah yang naik kapal laut lebih banyak dibanding naik pesawat. Gakpapa lama yang penting murah. Jamaah haji naik kapal laut ini katanya terakhir tahun 1979. Habis itu perusahaannya pailit. Sebab biaya haji naik kapal laut tahun itu lebih mahal dibanding pesawat. Yah emang hukum dagang begitu. Orang maunya cepet dan murah. Gak mau lagi lama dan mahal. Kalau kita masih keukeh lama dan mahal ya tinggal dadah dadah aja. Bakalan bangkrut.

Jadi pas sampai Mekkah Madinah umur ane di kandungan masuk 8 bulan. Ikut deh kemana aja ibu pergi. Ziarah ke jabal Uhud, wukuf di Arafah, nginep di Mina, thawaf, sha’i semua ibadah dan ziarah gak bisa lepas. Ane ngikut aja. Ngawal ibu. Ya iya lah masak mau di tinggal di hotel. Cucian kotor kaleee…

Alhamdulillah ibu sehat sehat aja walau hamil tua. Justru yang sakit malah babe. Jadi ibu yang ngerawat babe selama sakit di tanah suci. Hebat bener dah ibu gue mah. I love you ibu! Sehat terus ya bu. Sekarang udah usia 85 tahun. Udah sepuh. Tapi masih rajin tilawah walau diatas kasur atau di kursi roda. Surga menunggumu. Aamiin

Orang tuaku ini tergolong nekad juga yak, waktu berangkat haji mereka ninggalin 4 orang anak yang masih kecil kecil. Kakakku yang paling tua waktu itu umur 10 tahun, yang kedua 9 tahun, ketiga 6 tahun dan keempat masih umur 3 tahun. Kebayang kan pengorbanan mereka saat berhaji. Meninggalkan anak masih kecil, pergi saat hamil melintasi samudera lautan. Ane mah kagak sanggup dah. Suer.

Jadi aku lahir sebagai anak kelima. Tepat saat kapal laut Mei Abeto merapat di darmaga pelabuhan Tanjung Priok. Waktu itu 9 April 1968 M bertepatan dengan 10 Muharram 1388 H. Babe kasih nama aku Ahmad Mabruri Mei Akbari. Agak panjang sik namanya tapi ini demi mengakomodir berbagai peristiwa yang mengiringi aku saat lahir. Ahmad artinya terpuji sama dengan Muhammad. Mabruri artinya diterima. Semacam doa supaya haji orangtuaku diganjar dengan haji mabrur. Mei adalah nama depan kapal laut yang membawa ke tanah suci. Sedang Akbari berkaitan dengan haji waktu itu yang bertepatan dengan wukuf Arafah jatuh pas hari Jumat. Jadi haji Akbar.

Orang yang tahu nama panjangku Ahmad Mabruri Mei Akbari selalu menuduh aku lahir bulan Mei. Mereka berhusnuzon begitu karena ada potongan nama Mei terselip di namaku. Sama seperti Agustini biasanya lahir Agustus atau Aprilia lahir April. Khusus buat aku pengecualian. Mei itu bukan bulan kelahiranku. Mei nama kapalku. Aku lahirnya April. Ngejebak bener ya?

Hidup memang kadang penuh jebakan kawan.

Diterbitkan oleh brurmabrur

Pernah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Ummi dan Annida. Kini aktif sebagai Presiden Komunitas Bambu Wulung. Sebuah komunitas yang mewadahi para pekerja, pemikir dan penyuka seni budaya. Ketua Bidang Humas PKS 2020-2025. Bisa dihubungi di ahmad.mabruri@gmail.com

2 tanggapan untuk “#01TANJUNGPRIOK

  1. Setelah sekian Purnama, akhirnya, tahu secara lengkap, siapa nama asli Ustadz Milenial. 😀 Mulah follow Ustadz saat masih bareng2 Ustadz Tif yah. Dan, waktu itu, kalau ga salah sempat ikutan maen Film Sang Murrabi. Sehat2 yah Ustadz dan Keluarga besar. Aamiin Ya Rabb.

    Suka

Tinggalkan Balasan ke Zulfi Ridwansyah Batalkan balasan