#12KAPUKKAMAL

Murid-murid KBIM otaknya emang encer encer. Hampir semuanya diterima di peguruan tinggi negeri. Paling banyak masuk UI. Sebagian ada yang di ITB dan IPB. Ada juga yang di IKIP. Yang gak dapat universitas negeri cuman si Brur doang. Haha…

Aku bukannya gak pinter sik. Tapi kurang beruntung aja. Selain emang parah di pelajaran matematika pilihan fakultasnya juga terlalu tinggi. Dari pertama aku pilih fakultas kedokteran. Pilihan kedua baru MIPA jurusan biologi. Ternyata dua duanya gak diterima. Mau ke kampus swasta biayanya mahal. Babe juga sudah menjelang pensiun di tentara. Usia 55 tahun sudah Masuk MPP (Masa Persiapan Pensiun).

Jadi waktu temen temen seangkatanku pada kuliah aku malah sibuk cari kerja. Umurku lulus SMA pas 17 tahun lewat 2 bulan. KTP baru jadi. SIM C juga baru diurus. Sambil nunggu kuliah tahun depan aku mulai cari kerja. Babe langganan koran dan majalah cukup banyak untuk ukuran waktu itu. Koran Kompas dan Pelita serta Sinar Harapan langganan bulanan. Majalah Gadis, Hai dan Bobo juga langganan rutin. Kami anak anak biasa membaca. Belum lagi kesenangan baca buku cerita seri karangan SH Mintardja.

Beberapa judul cerita seri kerajaan jawa dan cerita olah kanuragan seperti Api Di Bukit Menoreh, Nagasasra Sabukinten, Hijaunya Lembah Hijaunya Pegunungan dll sudah habis aku lahap sejak SMP. Kalau soal bacaan buku babe ini termasuk royal. Rak buku nya juga penuh terus. Terutama buku buku agama dan tafsir Quran.

Nah, aku itu cari kerja lihat lowongan perkejaan di koran Kompas. Biasanya banyak diiklankan tiap hari. Mulai iklan display maupun iklan baris. Modal kertas folio bergaris dan tulisan tangan aku ngelamar ke beberapa lowongan.

Lamaran pertama aku dipanggil. Kantornya di daerah glodok kota. Ternyata perusahaan elektonik. Aku diminta jadi tenaga marketing mesin cuci merek Ariston. Cuman karena sistem gajinya gak menarik aku males jalanin. Aku ngelamar ke perusahaan lain. Kali ini perusahaan otomotif Mitsubishi cari pekerja. Aku ikut psikotest di daerah kebayoran. Yang daftar 200 an orang. Kita test psikologi dari pagi sampai sore. Hasilnya diumumkan sore itu juga. Alhamdulillah aku lolos test pertama. Test kedua yang tinggal 30 orangan aku ikutin lagi hari esoknya. Dan alhamdulillah aku masih lolos. Tinggal test kesehatan dan fisik. Kali ini tempat testnya di pabrik mobilnya di Pulogadung. Dari 12 orang yang test fisik dan kesehatan ternyata yng diterima cuman 4 orang. Aku gagal. Larinya kurang kenceng kali. Atau badannya kurang atletis.

Gakpapa sih. Aku gak kecewa. Syukur dapat pengalaman baru anak baru lulus SMA udah ikut test macam macam. Yang ketiga lamaranku dipanggil oleh sebuah pabrik kertas komputer. Nama PT nya Royal Standart. Produsen amplop merek Jaya dan baru buka divisi baru kertas komputer. Setelah melalui seleksi tertulis dn wawancara aku diterima kerja sebagai karyawan percobaan selama 3 bulan.

Seneng bener kita anak SMA udah kerja dengan hasil upaya sendiri. Gak ngandelin koneksi babe atau sodara. Murni hasil test. Cuman yang masalah ini kantor jauh bener. Tempatnya di Kapuk Kamal Muara Jakarta Barat. Dari Grogol masih ke arah Daan Mogot, terus kewtin Pesing baru setelah melewati peternakan babi kita sampai ke jaln Kapuk Kamal. Jarak dari rumah sekitar 30 kilometer.

Jabatanku adalah sales representatif. Kerjaannya nawarin kertas komputer ke kantor kantor pemerinth dan swasta. Karena ada beberapa sales representatif maka area jakarta dibagi 4 zona. Aku kebagian di daerah segitiga emas Kuningan, Sudirman dan Gatot Subroto. Hampir semua gedung bertingkat di daerah itu pernah aku masukin.

Jadi rute harianku adalah Matraman-Kapuk Kamal untuk absen dan bikin rencana kunjungan. Kemudian Kapuk Kamal segitiga emas. Biasanya sehari aku jadwalkan antara 4-6 kunjungan ke calon klien. Setelah itu kita kembali ke kantor Kapuk Kamal untuk laporan. Baru pulang ke Matraman. Total kilometer yang aku jalani tiap hari sekitar 125 kilometer. Waktu itu aku motornya Honda GL Pro 100 warna hitam.

Alhamdulillah 3 bulan dilewati dengan sukses. Karena penjualanku selalu sesuai target maka aku diangkat jadi pegawai tetap di bulan keempat. Pokoknya waktu itu kerenlah aku mah. Lulus SMA udah langsung kerja dan punya penghasilan sendiri. Gaji ku waktu itu hampir sama dengan gaji pensiun babe sebagai tentara. Bahkan kalau ada insentif penjualan gajiku bisa lebih besar lagi.

Jadi sales ini merupakan pengalaman tak terlupakan. Sekaligus proses belajar langsung yang gak bisa didapatkan di bangku kuliah. Aku bersyukur Allah mudahkan semua yang aku kerjakan. Sampai akhirnya aku mengundurkan diri dari perusahaan ini karena waktu pendaftaran masuk perguruan tinggi akan dibuka kembali.

Jadi aku udah ada tabungan buat masuk kuliah. Gak pake minta orang tua lagi. Pengalaman kerja kurang dari setahun ini menambah kepercayaan diri.

#11KAYUMANIS

Lulus SMP Muhammadiyah tahun 1982 aku diterima di SMA Negeri 31 di Jalan Kayumanis Timur. Jarak rumah ke SMA 31 agak jauh. Sekitar 4 Kilometer. Tapi aku tetap jalan kaki pergi pulang. Rutenya nyebrang jalan lewat Pasar Palmeriam. Nyebarang rel kereta api. Trus motong jalan lewat gang kecil. Nanti langsung nembus ke depan pintu gerbang SMA 31.

Semua anak kelas 1 waktu itu masuk siang. Kelasku masuk pertama di kelas 1 sebelas lanjut ke kelas 1 IPA 6, 2 IPA 3 dan terakhir 3 IPA 2. Ada dua orang temen SMP yang juga diterima di 31. Arman dan Dede Janata. Mereka berdua tinggal di bukit duri Manggarai. Kalau berangkat sekolah selalu nyamper dulu ke rumah. Baru nanti kita bertiga jalan bareng ke sekolah.

Mulai dari kelas 1 aku sudah gabung di ekskul Majelis Taklim 31. Ketua majelis taklimnya waktu itu kakak kelas 2 Abrory MD Jabbar. Namanya mirip mirip sama aku. Tapi ganteng dan pinteran kak Abrory. Sampai sekarang masih suka kontak dengan kak Abrory. Dia salah satu pengacara dan budayawan. Suka dengan lukisan dan musikalisasi puisi. Tinggal di kawasan elit Pondok Indah. Beberapa kali bikin acara di rumahnya.

Ketua Majelis Taklim angkatan aku Rahmat Imanuddin. Aku waktu itu jadi seksi perpustakaan MT31 bareng dengan Ariono Anggar. Nah pas kita kelas 3, ketua MT31 dijabat Abdullah Muaz atau Bang Uwo. Beliau sekarang pimpinan pondok pesantren Assyifa Subang. Fadly Zon yang sekarang politisi Gerindra adik kelas Abdullah Muaz. Fadly ini masih keponakan penyair Taufik Ismail. Taufik Ismail tinggal di jalan Utan Kayu Raya. Satu deret dengan Komunitas Utan Kayu 68H.

Urusanku selama di SMA selain sekolah adalah urusan majelis taklim. Dari mulai kelas 2 udah sibuk rekrutmen cari adik kelas yang mau ikut ngaji. O ya waktu itu yang dominan mempengaruhi kegiatan keislaman di SMA 31 dari HMI, PII dan Tarbiyah. Aku sempat ikut ngaji dengan mentornya bang Ka’ban salah satu ketua HMI. Waktu bang Ka’ban masih kuliah di Jayabaya kalau gak salah. Aku ikut kelompok pengajian malam di daerah rumah komplek Pertamina jalan Pemuda.

Gak lama sih ngaji sama bang Ka’ban karena sejak kelas 2 di SMA 31 masuk mentoring agama Islam. Bagain dari program MT31. Diajarkan di kelas kelas sebagai bagian dari pembinaan dan perekrutan anggota MT31. Majelis Taklim ini tidak dibawah OSIS ya. Kalau di tempat lain kan ada seksi Rohis yang masih dibawah OSIS. Tapi di 31 namanya MT31 dan markasnya di Musolla. Dia punya mekanisme sendiri dalam memilih ketua dan menyusun pengurusnya.

Di MT 31 selain berorganisasi dan belajar islam kita juga ada grup musikalisasi puisi dan teater, Didi Petet tercatat pernah menjadi peltih teater di MT31. Yang agak lama dan sudah dianggap saudara yaitu Mas Wess. Pelatih musikalisasi puisi. Asalnya dari Jogja dan karena waktu itu masih bujangan sempat tinggal di rumah Matraman selama sekitar satu tahun. Selain latihan musikalisasi puisi di sekolah maka musholla Matraman yang dikelola babe jadi markas kedua. Anak anak majelis taklim sering ngumpul di musholla ini. Letaknya paling strategis soalnya. Pinggir jalan besar dan halaman luas.

Yang rutin ngasih pengajian di mentoring MT 31 adalah Bang Anca atau nama lengkapnya Ihsan Arlansyah Tanjung, mahasiswa psikologi UI. Ada juga Ustadz Lani dan beberapa ustadz lain. Dulu lagi rame penolakan asas tunggal Pancasila buat landasan ormas. HMI sempat pecah. PII juga. Mereka banyak yang kemudian bergerak di bawah tanah.

Orang bilang masa sma adalah masa paling indah. Apalagi cinta monyet masa SMA. Cuman itu gak berlaku buat aku. Selama SMA ini gak ada cewek yang aku taksir dan gak ada cewek yang naksir aku. O iya karena sejak kelas 1 aku sudah masuk akil baligh jadi badanku gak kecil lagi. Suara sudah pecah dan badan juga jadi tinggi. Kalau kata si Doel anak betawi kerjaanku selama di SMA sembahyang dan mengaji. Haha…

Mushola Matraman Raya di mess rumahku jadi pusat kegiatan kedua setelah sekolah. Di musholla ini juga aku belajar jadi imam solat dan belajar ceramah kultum kalo babe lagi gak di rumah. Aku juga mulai ‘ngajar’ ngaji Alquran temen temen sebaya yang tinggal bareng di mess.

Bukan hanya anak SMA 31. Sejak kang Harna buka bimbel KBIM (Kelompok Belajar Intelektual Muslim) gratis buat anak kelas 3 SMA yang mau kuliah, musholla ini kalau siang jadi tempat belajar. Muridnya dari berbagai SMA Negeri. Mulai SMA 1, 3, 4, 7, 8, 31, 37 dll. Habib Aboe Bakar yang sekarang jadi sekjen PKS dulu pernah jadi murid disini. Tapi selain murid Aboe juga sebagai pengajar materi materi islam. Iya sih. Selain bimbel fisika, kimia, biologi, matematika semua murid wajib ikut materi keislaman.

Cuman KBIM di musholla ini gak sampai setahun. Tetanggaku pada komplain. Ini kelompok belajar apaan? Kok murid perempuannya yang belajar pakai jilbab lebar lebar beud warna hitam dan abu. Pakai cadar pulak! Mereka protes ke babe. Aliran islam apaan ini?

KBIM akhirnya pindah ke masjid Jami’ Matraman. Di seberang Taman Amir Hamzah. Di lantai 2 ada 2 ruangan yang bisa dipakai buat kegiatan bimbel. Setelah dari situ KBIM berubah nama jadi Nurul Fikri dan tempatnya pindah ke daerah Kenari.

#10SALEMBA

Saat kelas 3 SMP babe pernah kirim aku ikut pesantren kilat di masjid Arif Rahman Hakim – UI Salemba. Nama programnya BABA Bimbingan Agama Bagi Anak. Kalau gak salah pesantren liburan semester selama sepekan. Selain belajar AlQuran, mendengarkan kisah Islami dan lain lain, di akhir pesantren kilat diadakan piknik ke daerah wisata. Aku lupa tempatnya dimana tapi yang aku ingat kita peserta sanlat naik mobil truk tentara ke tempat wisata itu

Rupanya babe yang kasih akses ke panitia pesantren kilat untuk bisa pake mobil truk tentara. Entah panitia dapat gratisan atau cuman bayar uang bensin saja. Yang jelas kita anak anak peserta sanlat ceria bahagia pergi naik truk tentara. Beda rasanya dengan naik bus. Tempat duduk truk tentara ini berhadap-hadapan jadi kita bisa saling ngobrol dengan leluasa. Sebagian duduk di lantai truk karena kursi tak mencukupi. Kalau naik bus kita kan ngobrolnya paling sama teman sebangku kita aja. Ya gak?

Masjid ARH Ui letaknya gak jauh dari rumah Matraman Raya. Hanya melewati 2 perempatan; Matraman dan Salemba, maka kita akan sampai ke masjid ARH UI. Masjid kampus ini letaknya strategis di pinggir jalan. Tidak terlalu besar masjidnya. Tapi cukup nyaman. Takmir masjidnya ya kebanyakan anak mahasiswa. Dulu kampus UI terpusat di Salemba. Kemudian beberapa fakulas ada yang kampusnya di Rawamangun gabung dengan kampus IKIP. Sekarang hampir semua kegiatan mahasiswa UI terpusat di Depok. Hanya mungkin Fakultas Kedokteran yang masih di Salemba. Masalahnya RS Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo letaknya berdempetan dengan kampus fakultas kedoktern UI. Rumah Sakit rujukan nasional ini tempat para mahasiswa kedokteran UI belajar praktek kerja.

Salah seorang mahasiswa UI yang jadi panitia pesantren kilat di masjid ARH UI namanya Suharna Surapranata. kang Harna waktu itu masih kuliah di fakultas MIPA jurusan fisika. Namanya mirip dengan babe. Cuman karena babe orang jawa namanya jadi Suharno Priyoprasojo. Sementara kang Harna urang sunda pisan. Asal jangan kebalik aja Suharna Priyoprasojo dengan Suharno Surapranata. Haha.

Kang Harna ini pernah jadi menristek di jaman SBY presiden 2009-2014. Perkenalan saya dengan kang Harna jadi sudah lama bener ya sejak tahun 1982 udah interaksi dengan beliau. Ternyata hubungan pak Harno babeku dengan kang Harna mahasiswa Fisika UI terus lanjut. Kelak 3 tahun kemudian kang Harna membuka bimbingan belajar KBIM (Kelompok Belajar Intelektua Muslim) buat anak anak kelas 3 SMA. Tempatnya pertama kali di Mushola Matraman Raya 104 yang dikelola babe. KBIM ini cikal bakal dari bimbingan belajar Nurul Fikri yang kemudian berkembang menjadi salah satu sekolah Islam terpadu yang maju.

Balik lagi ke kegiatan di masjid ARH-UI Salemba, Mereka ngadain training 3 hari di daerah Cimanggis. Persisnya di galeri Aminah Art Shop. Aku ingat ketua panitianya bang Imron Khazim Bukhori mahasiswa kedokteran. Training ala cuci otak yang dilakukan temen – temen HMI itu mengawali interaksiku dengan gerakan Islam. Pemateri saat itu ada Bang Imaduddin dari ITB pengarang buku Kuliah Tauhid yang fenomenal itu. Ada para pentolan HMI waktu itu bang Egy Sudjana, Toni Ardi yang kalo ceramah keras kritik orde baru. Dan beberapa pemateri lain yang aku lupa. Kalaumgak salah bang Ka’ban juga ngisi deh.

Aku waktu itu peserta paling muda. Baru lulus SMP kelas 3. Sementara peserta lain rata-rata anak SMA bahkan ada yang kuliah. Ketemu pertama kali dengan bang Ade Chalifah mahasiswa fakultas sastra UI di training ini. Kelak bang Ade nikah dengan Mariana salah satu peserta juga.

#09PONDOKJATI

Lulus SD mestinya tahun 1978. Cuman karena waktu itu Daoed Yoesoef mendikbud bikin kebijakan perpanjangan sekolah 1 semester maka tahun itu kita kelulusannya bukan di Desember 1978 tapi di Juni 1979. Iseng aja ya pak menteri. Tahun ajaran baru semua mundur 6 bulan. Aku gak ngerti alasannya apa. Mungkin skor masih imbang. Sehingga perlu perpanjangan waktu.

Di sistem pendaftaran berdasarkan rayonisasi aku diterima di SMP Negeri 97 Galur Sari Utan Kayu. Lumayan jauh kalau jalan kaki dari rumah. Udah gitu babe maunya aku sekolah di Muhammadiyah. Biar ada landasan agama yang kuat. Akhirnya aku nyusul kakak sekolah di SMP Muhammadiyah V Kayumanis. Letaknya persis di seberang stasiun kereta api Pondok Jati. Jarak dari rumah ke sekolah sekitar 2 kilometer saja. Cukup jalan kaki tak usah naik kendaraan umum.

Masuk di kelas 1A aku badannya paling kecil. Duduk sebangku paling depan dengan Koswara Edi yang badannya kecil juga. Bedanya aku badan kecil karena masih muda. Belum masuk usia baligh. Kalau Engkos begitu panggilannya 3 tahun usianya diatasku. Tapi emang badannya kecil. Walau kecil Engkos nyalinya besar. Sering kelahi. Sama anak yang badannya gede dia gak takut.

Sampai sekarang kita alumni SMP masih komunikasi di grup whatsapp. Engkos ternyata sudah meninggal beberapa tahun lalu karena sakit. Gusti Taufik temen sebangku waktu kelas 3 D juga meninggal 2 bulan karena terinfeksi covid-19.

Di SMP ini tak banyak peristiwa menonjol. Biasa saja. Naik kelas 2 aku mulai sering main sepulang sekolah. Biasanya pulang ke rumah. Ganti baju sekolah. Makan siang. Terus naik sepeda main sama temen geng SMP. Pulang sore setelah ashar atau kadang menjelang maghrib baru sampai rumah.

Walau sekolah di Muhammadiyah waktu itu jarang guru perempuan yang pakai hijab. Apalagi murid perempuannya. Seingatku hanya bu Mariana yang pakai kerudung. Beliau mengajar baca Alquran.

Pemakaian hijab baru mulai marak sekitar tahun 83-an. Itu juga banyak drama. Pelarangan jilbab di sekolah. Murid-murid yang dikeluarkan dari SMA Negeri karena kekeuh gak mau lepas jilbab saat di sekolah. Sampai heboh jilbab beracun. Dan akhirnya muncul gelombang demo jilbab. Akhirnya pemerintah menyerah. Jilbab diperbolehkan dipakai di sekolah negeri. Dan sampai sekarang jilbab bukan hanya sekedar untuk menutup aurat. Bahkan lehih sebagai gaya hidup.

#08MANGGARAI

Mulai kelas 4 SD aku dan kakakku mas Agus didaftarkan masuk klub bola Putera Dewata. Latihannya 2 kali sepekan di lapangan bola Manggarai. Letaknya dekat stasiun kereta api Manggarai. Samping STM Karya Guna. Lapangannya sekarang udah gak ada. Udah jadi kantor tentara TNI AD.

Jarak dari rumah ke Manggarai sekitar 4 km. Latihan dimulai jam 1 siang sampai ashar. Kadang berangkat latihan gonceng sepeda sama Mas Agus. Atau jalan kaki bareng temen temen di komplek yang ikut klub bola juga.

Sampai lapangan kita pemanasan lari keliling lapangan 5x. Habis itu teori dan latihan bola. Terakhir kita baru main 2×30 menit. Kakak Alizar pelatih bola biasanya jadi wasit atau di pinggir lapangan. Perhatiin kita main dan kasih instruksi sambil teriak. Kalau mainnya kita gak bener kakak Alizar suruh kita kumpul dan di briefing.

Anak gawang. Itu istilah anak anak yang ikut klub bola. Salah satu kegembiraan anak gawang manakala dapat tugas ‘jaga bola’ di GBK Senayan. Dulu ada Galatama. Liga Sepakbola Utama. Pertandingan antar klub level nasional. Maennya malam abis maghrib di GBK. Pernah suatu hari klub Putera Dewata dapat tugas jaga bola. Anak gawang ini tugasnya ngambil bola yang keluar lapangan. Waktu itu lagi tanding Indonesia Muda vs Arseto Solo. Aku tugas jaga bola di posisi tendangan sudut. Instruksi kakak Alizar kalau jaga bola itu jangan nunggu bola. Tapi jemput bola. Maka saat ada bola meluncur ke arah ku langsung aja aku kejar dan tangkap. Aku dimarahin sama Johanes Auri bek kiri IM. Pasalnya bola belum keluar lapangan aku udah jemput. Haha. Aku disorakin penonton. Disambitin pakai botol air mineral. Babak kedua aku digeser jaga bolanya dari posisi tendangan sudut ke posisi tengah. Nasib.

Selain latihan bola, klub Putera Dewata juga ikut kompetisi tahunan. Aku masuk kategori C untuk anak usia 8-12 tahun. Biasanya kita tanding hari ahad pagi di Lapangan Banteng dekat masjid Istiqlal. Lapangan Banteng dulu ada stadion kecil milik klub MBFA. Pelatihnya namanya si Bung. Selain itu masih ada 4 lapangan bola yang siap dipakai untuk kompetisi masing masing kategori. Belasan klub bola berkompetisi tiap tahun. Juaranya paling sering MBFA di semua kategori. Putera Dewata biasanya di peringkat 3 atau 5.

Pengalaman ikut klub bola ini sangat manfaat di kemudin hari. Saat masuk dunia kerja. Membangun kekompakan tim dan kerjasama yang rapi jadi modal sukses di setiap proyek. Berlatih bola juga ngajarin kita gak boleh egois. Sehebat hebatnya skill bola kita gak berguna kalau gak bisa membangun kemistri dengan tim.

Ikut klub juga bikin anak mandiri. Pengalaman tour ke luar kota pernah juga aku alami. Pertandingan persahabatan dengan klub di Magelang dan sekitarnya. Nginep beberapa hari. Jauh dari orangtua. Bertemu dengan kawan baru. Sebuah kemewahan buat anak seumuranku.

Putera Dewata ini klub miskin. Sponsornya dari iuran anggota aja. Entah bagaimana kak Alizar membiayai klub ini bisa eksis cukup lama. Kak Alizar ini emang cinta mati sama bola. Dia gak nikah sampai akhir hayatnya. Pacar dan isterinya ya bola. Saat kak Alizar meninggal, klub Putera Dewata juga bubar, gak ada yang meneruskan. Aku ikut klub bola sampai kelas 2 SMP. Posisi kalau lagi tanding biasanya bek kiri atau gelandang. Aku ini pemain bertahan. Bukan striker atau penyerang. Aku gak jago gocek bola kayak Christian Ronaldo. Tugasku bersama kiper mengamankan gawang jangan sampai kebobolan.

Hobi main bola ini kebawa terus sampai dewasa. Olah ragaku ya cuman main bola atau futsal. Olah raga lain gak bisa. Paling lari atau jalan kaki. Ikut olah raga bela diri gak pernah. Babe kebetulan pengurus PGJSI Persatuan Gerak Jalan Seluruh Indonesia. Latihan jalan hampir tiap pekan keliling komplek GBK. Event tahunan perlombaan jalan kaki yang aku ikuti sejak SD adalah jalan kaki Bogor-Jakarta. Start di depan Walikota Bogor finish di Merdeka Selatan Balai Kota DKI. Sertifikatnya masih aku simpan sampai sekarang.

Kemewahan anak gawang itu kalau bisa tanding di GBK. Biasanya final kompetisi bola enggak di lapangan banteng tapi di GBK. Putera Dewata jarang masuk final. Jadi aku belum pernah merumput di GBK. Paling banter main di stadion Menteng.

Tapi setidaknya saat usia hampir 50 aku bisa merasakan kemewahan nonton pertandingan bola di stadion terkenal dunia. Di sela sela tugas kerja aku sempat nonton piala Champion Real Madrid vs AC Milan di Stadion Santiago Bernabeu di Madrid. Atau nonton La Liga partai elclassico Real Madrid vs Barcelona di Camp Nou. Alhamdulillah klub favouriku di kedua pertndingan itu menang. Hala Madrid!

Pengalaman paling menyedihkan adalah saat Final World Cup 2014 Brasil. Tiket final Jerman-Argentina di stadion Maracana di Rio de Janeiro sudah kebeli. Aku udah ngebanyangin bakal duduk di stadion megah itu menyaksikan Lionel Messi dan tim Panser Jerman berlaga. Sayang belum kesampaian. Aku salah baca jadwal penerbangan. Pesawat berangkat Sabtu dinihari jam 01.00 kebacanya jam 01 siang. Jumat malam jam 11 lagi tidur telpon berdering dering. Teman-temanku nanya, ‘Brur dimane lo? Kita dah mau boarding!!’

Aku lemes. Gak mungkin kekejar dari Bogor ke Bandara Soetta. Koper juga belum siap sama sekali. Akhirnya aku ditinggal. Padahal sehari sebelumnya aku dah pamit seminggu sama temen kantor. Mau pelesiran sambil nonton final piala dunia.

Saking malunya perasaan pengen bunuh diri aja. Tapi takut mati. Nasip lo Brur. 😩

#07KEBONMANGGIS

Pindah ke Jakarta berarti pindah sekolah juga. Babe juga pindah kantor. Kalau aku gak salah Babe kantornya di Kobek Komando Perbekalan jalan Tongkol Jakarta Utara. Sebenarnya dari TNI AD sudah sediakan perumahan baru buat Babe. Rumah itu nanti jadi milik Babe. Letaknya di Pondok Gede. Tapi karena Pondok Gede waktu tahun 75 itu jauh bener dari pusat kota dan masih sepi, jatah rumah gak diambil. Malah dikasihkan ke anak buah babe.

Mbak Tuti kakak sulung masuk sekolah PGA (Pendidikan Guru Agama) Darul Mukminin di daerah Prumpung Jatinegara. Mbak Leli kakak nomor dua di SMTK (Sekolah Menengah Teknologi Kerumahtanggaan) Negeri di bilangan Pasar Baru. Mas Agus kakak nomor tiga di ST (Sekolah Teknik) jalan Kramat Raya. Mbak Piping kakak nomor empat di SD Pandawa. Ini sekolah punya isteri tentara. Tempatnya di dalam komplek Bearland. Aku masuk SD Negeri Kebon Manggis 09 pagi. Sedangkan dua adik laki laki Mahmud dan Iyan belum sekolah masih Balita.

Karena kecepetan masuk SD maka saat pindah kelas 3, guru di Kebon Manggis nyuruh aku masuk kelas 1 lagi. Umurku juga masih 7 tahun. Badanku juga masih kecil kayak anak cacingan. Ya jelas aku gak mau lah. Aku tetep mau masuk kelas 3. Pak Sadeli Sunyoto kepala sekolah SD waktu itu akhirnya aku tetap masuk di kelas 3. Pak Sadeli ini aku ngebayanginnya mirip dengan lagu Oemar Bakrie ciptaan Iwan Fals. Pak Sadeli rumahnya di Jalan Slamet Riyadi. Kalau ke sekolah naik sepeda kumbang. Pasti lewat depan rumahku. Rambutnya di sisir rapih belah pinggir dan selalu pakai minyak rambut tancho. Jadi kayak ada efek basah dan gak mudah berantakan. Pake kemeja selalu putih lengan pendek. Sepatu pantopel dan tas kulit. Cuman apa dari kulit buaya atau kulit biawak aku gak ngerti. Pak Sadeli selain kepala sekolah dia mengajar pelajaran menggambar. Nah akautuh seneng bener dengan pelajaran ini. Gambaranku bagus bagus. Pontennya selalu diatas 8.

SD Kebon Manggis 09 ini gak jauh dari rumah. Hanya sekitar 1 kilometer. Aku sekolah jalan kaki menyusuri troroar yang lebar. Letak sekolah agak masuk sedikit di jalan Kebon Manggis 1. Setelah melewati Kelurahan sebelah kanan itulah sekolahanku. Jajanan apa yang paling suka disekolahan? Krupuk mie kuning besar yang dicelup kuah sambel. Sebenarnya bisa juga pake sambel saos ubi yang diletakkan diatas kerupuk mie. Makannya nanti kerupuk dipotek dan dicocol ke sambel ubi itu. Tapi aku lebih suka yang kerupuknya direndam sebentar di kuah cabe. Lebih meresap bumbunya. Dan dapat sensasinya.

Di depan sekolahan aku ingat itu rumah penyanyi Wiwik Sumbogo. Lo inget aja Brur?. Ya ingetlah secara adiknya Wiwik Sumbogo sekelas ama sayah. Haha. Namanya Dyah Widiandari. Panggilannya Widi. Paling cantik di kelas sik. Yah namanya juga keluarga artis. ketularan cantiklah. Tapi kalo pinter mah masih pinteran gue.

Selama 4 tahun lebih satu semester aku sekolah di Kebon Manggis. Ada beberapa peristiwa yang masih teringat dan gak bakal lupa. Gak berapa lama awal masuk kelas 3 aku jadi korban perundungan atau bullian temen sekelas. Pasalnya aku pernah beabe di celana. Wkwkwk. Ini mungkin karena pagi pagi aku males antri mau buang air besar di rumah. Udah gitu toilet di sekolahan you know lah joroknya minta ampun. Mungkin aku mules abis makan krupuk mie maka kejadian dah. Sejak kejadian aku berak di celana dalam kelas itu aku dibulli sama temen temen. Nasib emang.

Peristiwa kedua adalah waktu kelas 5. Aku main lari-larian sama temen waktu jam istirahat. Karena kurang hati hati aku kepeleset dan jatuh dengan tangan kiri membentur pinggiran got. Akibatnya lengan atas sebelah kiri patah dan sendi tangan bergeser. Aku nangis kejer. Orang rumah dikabarin. Tapi karena bapak masih kerja maka yang jemput aku pak Bakri. Pak Bakri ini tukang tambal ban yang mangkal di depan rumah matraman raya. Dengan badannya yang besar aku digendong pulang ke rumah. Sampai di rumah aku dilarikan ke RSPAD Gatot Subroto. Tanganku di gips dan mesti pakai gendongan. Hampir sebulan lebih tanganku terbungkus gips. Waktu dibuka kulit jadi belang dan gak keliatan kurus pucat. Lebih dari dua bulan aku mesti bolak balik rumah sakit untuk fisio terapi. Pasalnya tanganku bengkok gak bisa diluruskan. Alhamdulillah lama kelamaan bisa lurus juga walaupun gak lurus lurus amat sih.

Guru yang paling galak adalah pak Bambang guru matematika. Anak anak yang nilai ulangannya 5 kebawah disuruh maju ke depan kelas menghadap papan tulis. Pak Bambang lalu ambil penggaris kayu yang panjangnya 1 meter. Dan pantat murid kw 5 itu kena tampar penggaris. Kejam ya? Lo pernah kena juga Brur? Ya iya lah. Kan gue pinter cuman pelajaran ngegambar doang sama biologi. Kalau matematika ampun kita. Underdog.

Temen SD yang masih keinget Nugra Bintas, juara kelas, ganteng anak perwira kolonel rumahnya di Kesatrian Raya. Teman sebangku Upit nama lengkapnya Prihantoro. Pinter juga badannya agak kecil pantaran saya. Ada juga Albertus Sucahyo. Katolik taat yang kabarnya sekarang jadi pastor. Kalau gak salah dia lanjut ke sekolah seminari di Magelang. Yang perempun? Ada Novarini anak padang. Pinter juga. Kelak dikemudian hari aku malah berteman sama kakaknya Novarina yang ketemu di pengajiannya Johan Efendi di jalan Proklamasi. Ada juga Erna anak Bearland yang mukanya mirip Wiwit. Wiwit ini rumahnya satu mess dengan aku di Matraman Raya. Wiwit anaknya pak Sutrisno yang menempati ruangan depan mess. Sekilas Erna dan Wiwit mukanya hampir sama. Mereka duduk sebangku. Tapi lama kelamaan aku pernatiin ternyata mukanya beda. Haha… labil bener sih lo Brur. O ya ada juga Ester dan Susan. Mereka ini tinggal di panti asuhan seberang Kebon Manggis. Letaknya di pinggir jalan Matraman Raya tapi nomor ganjil. Nama panti asuhannya Vincentius puteri kalau gak salah.

Yang bandel ada juga namanya Munkar. Dia anak Bearland. Pangkat bapaknya belum banyak. Alias masih prajurit. Kalau pulang sekolah dia gak langsung pulang. Nongkrong dulu di ujung jalan mau masuk Bearlanf depan warung pakde. Ntar kalau ada anak kecil lewat yang bukan anak Bearland dia palakin. Dimintain duit buat jajan. Aku beberapa kali diajak malakin bareng. Tapi hati nuraniku berkata ini bukan perbuatan terpuji. Maka aku tolak. Prinsipku lebih baik gak jajan daripada jajan dari hasil malak.

Aku jadi teringat ceramahnya pak Tifatul Sembiring yang sering diulang ulang. Daging yang tumbuh dari makanan haram dan uang yang haram maka nerakalah tempatnya. Ngerik ya.

Ah bisa aja lo Brur. Berak masih di celana aja belagu!

#06JAKARTA

Cuman sekitar 7 tahun aku tinggal di Cibereum Cimahi. Naik kelas 3 SD mesti ikut babe pindah tugas ke Jakarta. Yah namanya juga tentara mesti siap siaga ditugaskan dimana saja. Yang aku ingat ada truk besar angkut perabotan dari Cimahi ke Jakarta. Beberapa hari setelah truk perabotan meluncur ke Jakarta baru kami sekeluarga pindah. Babe, ibu dan 7 orang anak. Adikku yang bungsu berarti masih umur 3 tahun. Babe waktu itu selain ada mobil dinas Gaz warna hijau tentara punya juga sedan Holden warna putih hijau. Kami sekeluarga pindah naik Holden itu.

Di Jakarta kami tinggal di mess tentara. Letaknya pinggir jalan utama Matraman Raya 104. Mess tempat tinggal kami ini adalah bagian terdepan dari komplek tentara yang dikenal dengan sebutan Bearland. Bearland terdiri dari 14 Kesatrian. Rumah yang kami tempati masuk Kesatrian 1 karena letaknya di depan. Dibandingkan rumah dinas di Cimahi mess di Matraman Raya ini jauh lebih kecil rumahnya. Halamannya aja yang luas.

Ceritanya mess ini dulu rumah pejabat Belanda. Rumah utamanya besar dan kokoh. Plafonnya tinggi sekitar 8 meteran. Kusen pintu dan jendela dari kayu jati balok ukuran besar. Di sekitar rumah utama itu ada rumah pembantu, kandang kuda dan kandang ayam.

Nah kami pindah ke rumah utama ini. Cuman masalahnya rumah utama ini bukan untuk keluargaku saja. Kita berbagi dengan 2 keluarga tentara yang lain. Jadi rumah utama ini disekat sedemikan rupa jadi tempat tinggal 3 keluarga. Keluarga pak Sutrisno menempati bagian depan, keluarga pak Sugiman bagian belakang dan keluarga kami pak Suharno bagian tengah rumah. Kebayang kan betapa sempitnya ‘rumah’ kami. Keluarga dengan 7 anak cuman menempati 2 ruangan.

Selain kami 3 keluarga di rumah utama. Di mess tentara ini juga tinggal 6 keluarga lain yang menempati rumah rumah petak kecil di sekeliling rumah utama. Yang paling parah adalah kita semua 9 keluarga ini gak punya kamar mandi dan toilet pribadi. Hanya ada 3 kamar mandi umum dan 2 WC umum. Jadi kalau pagi mau berangkat sekolah atau kerja kita antri mandi 9 keluarga di 3 kamar mandi. Belum lagi kalau urusan buang hajat. Letak WC yang agak di belakang dan kita mesti bawa seember air sendiri untuk siram dan bersihkan bekar beabe kita. Sedih deh kalau inget perut kita udah mules bener tapi antrian bab panjang. Nahan kebeletnya itu yang kita gak tahan.

Matraman raya ini jalan utama yang menghubungkan 3 kotamadya yaitu Jakarta Timur, Selatan dan Pusat. Kalau kita naik kendaraan dari arah Jatinegara menuju Salemba maka perempatan Matraman ini jadi simpul. Kalau ke arah kiri menuju pintu air manggarai maka masuk jakarta Selatan, kalau terus Salemba masuk Jakarta Pusat sedangkan kalau ambil kanan arah Pramuka masuk Jakarta Timur.

Walaupun rumah mess kecil tapi posisi rumah matraman raya ini sangat strategis. Pinggir jalan Raya 4 jalur. Dulu di seberang rumah ada toko buku Pustaka Dian. Samping toko buku ada Bizar Taylor. Penjahit baju terkenal pada jamannya. Masih satu deret dengan Bizar taylor ada perkampungan orang Ambon. Anak Bearland seringkali tawuran sama anak kampung Ambon ini. Selain dengan anak kampung Ambon lawan tanding tawuran anak Bearland adalah anak Palmeriam dan anak Tegalan. Pokoknya tiada hari tanpa tawuran buat anak Bearland.

Halaman mess Matraman Raya 104 ini luas. Ada pohon asem jawa dan pohon sengon besar tumbuh di halamannya. Kami anak anak puas maen di halaman ini. Mulai main dampu, bentengan, petak umpet, galasin, main kasti, main bola, main karet, main volley bisa dimainin disini.

Buat sodara sodara kami yang tinggal di luar kota, kalau ada perlu di Jakarta maka rumah matraman ini jadi tempat singgah. Mau cari sekolah, mau lanjutin kuliah, mau wawancara kerja dll. Selalu rumah ini jadi rujukan. Gampang dicari. Di pinggir jalan raya. Semua kendaraan umum ke segala jurusan pastinya lewat depan rumah.

Dalam sejarah pergerakan Islam era reformasi. Musholla Matraman Raya 104 ini jadi salah satu saksi sejarah. Sebelum orang-orang yang terlibat kemudian mendirikan partai. Nanti ya detailnya kita sambung di sessi lain. Sekarang kita ngomongin masa bermain si Brur kecil di Bearland ini.