#19KAYUMANIS7

Selama majalah Ummi terbit sudah lebih 10 kali pindah ‘kantor’. Pertama kali di rumah kontrakan bang Aad di Bukit Duri (aku belum bergabung), setelah itu belakang Kantor Pos Utan Kayu, pindah lagi ke Kayumanis 1, terus ke Cipinang Ketoprak, balik lagi ke Kayumanis 7 samping apotik Kayumanis. Dilanjutkan ke Kampung Melayu Kecil, Cipinang Muara, Duren Tiga, Jalan Dukuh Kampung Rambutan, Jalan Kemuning Utan Kayu dan berakhir di Jalan Mede Utan Kayu. Total hampir 11 kali pindah kantor. Mungkin urutan pindahnya ada yang gak pas. Tapi seingatku itulah markas Ummi selama terbit 28 tahun.

Enaknya kerja di Ummi itu gak kaya kantor beneran. Tapi kayak rumah sendiri. Pertama kali aku dapat tugas bikin naskah, mesti bawa mesin tik sendiri dari rumah. Mesin tik antik punya babe karena hurufnya miring, Bukan tegak seperti biasa. Ngetiknya juga sambil nyender di tembok sementara mesin tik ditaruh di lekar meja kecil yang biasa buat ngaji. Makan siang kadang disiapin isterinya Bambang Sunaryo atau kita beli di warteg.

Kantor di Kayumanis 7 ini lebih besar dibanding Utan Kayu sebelumnya. Letaknya persis apotik Kayumanis. Bambang Sunaryo dan keluarga nempati bagian depan. Kantor Ummi bagian belakang. Pintunya masuk lewat garasi. Di dalam masih ada sedikit taman terbuka. Kantor Ummi di Kayumanis ini karena cukup besar sering dipakai buat ‘rapat rapat gelap’ aktifis dakwah. Waktu itu sebutannya organisasi tanpa bentuk atau OTB.

Dulu proses nerbitin majalah ribet amat gak kayak sekarang. Komputer kita belum punya. Naskah yang sudah ditulis pakai mesin tik dikumpulkan dan dibawa ke tempat setting. Ada langganan ketik setting namanya mas Tun Aji di bukit diri. Naskah yang sudah diketik ulang, bentuknya jadi gulungan panjang. Kemudian dipotong-potong sesuai dengan dummy yang sudah disiapkan. Mesti pas nempelnya dan bener halamannya. Kalau lihat Aidil nge-layout isi majalah Ummi dulu perasaan capek bener. Mesti bungkuk lama badannya. Andalannya kotak kaca, cutter sama lem kertas.

Bentuk fisik majalah Ummi gak seperti majalah wanita umumnya. Formatnya mungil sebesar buku tulis waktu SD. Sudah kecil tipis pula. Sudah tipis hitam putih pula. Makanya waktu itu harga majalah Ummi 500 perak aja. Sementara harga majalah wanita lainnya sekitar 3000-5000 rupiah. Mulai dari redaksi, pemasaran, distribusi sampai pencarian iklan kita bangun jaringan sendiri.

Pasar Ummi adalah para mahasiswi di perguruan tinggi. Diedarkan melalui perantaraan para mentor yang membina pengajian di kampus. Distribusi majalah dilakukan saat mereka pertemuan rutin pekanan. Jangan harap bisa dapatkan majalah Ummi di lapak penjual majalah/koran pinggir jalan. Semuanya berjalan semi tertutup. Tapi rapih. Duit dari penjualan majalah itu kemudian diputar kembali buat cetak majalah berikutnya.

Terus modal Ummi dari mana Brur? Nah itu dia. Gak jelas. Bang Aad yang paham dari mana asal muasal duit buat nyetak Ummi. Aku dulu tugasnya di redaksi. Gak ngurusin duit dan distribusi. Ummi ini hampir semua tulisan bentuknya artikel atau feature. Gak ada news. Jadi gak banyak liputan. Yang ada wawancara nara sumber buat bahan laporan utama. Misal Laporan Utama bulan Mei tentang pendidikan muslimah. Aku tugasnya wawancara para tokoh pendidik. Nara sumber banyakan para ustadz dan ustadzah kita juga. Jarang tokoh nasional.

Berkahnya Ummi berbanding lurus dengan banyaknya muslimah yang hijrah pake jilbab. Ummi ini bacaan muslimah kampus perkotaan. Oplahnya makin nambah sesuai dengan makin aktifnya Lembaga Dakwah Kampus (LDK) di perguruan tinggi negeri. Perlahan tapi pasti oplah Ummi makin merangkak naik. Artinya isi Ummi diterima dan disenangi pembaca. Alhamdulillah.

Hampir semua isi Ummi di produksi sendiri. Aad, Indra, Bambang tiga mahasiswa psikologi UI yang jadi pemasok tulisan. Mungkin karena ditulis dengan pendekatan psikologis yang benar, dakwah bil qalam ini mudah diterima pembaca. Banyak juga yang menjadikan tulisan di Ummi sebagai bahan buat ngisi kultum atau kajian islam.

Aku juga makin semangat kerja di Ummi. Peran aku yang tadinya cuman bantu melengkapi artikel, kini udah mulai meningkat. Usulanku buat tema Laporan Utama mulai diakomodir. Jatah untuk mengisi rubrik tetap juga mulai diberikan. Korespondensi dengan pembaca mulai banyak. Surat pembaca yang masuk PO BOX Ummi selain berisi tulisan dan usulan dari pembaca juga permintaan jadi agen di kota mereka.

Biasanya yang minta jadi agen adalah toko buku Islam yang berada di sekitar kampus. Bacaan buku islam juga lagi bagus penjualannya saat itu. Yang gak kalah lakunya adalah busana muslimah. Tiga produk ini kemudian jadi ladang bisnis yang cukup menjajikan. Banyak yang tadinya cuman iseng kemudian berkembang jadi bisnis serius.

Kalau Ummi sih dari awal udah serius. Kalau gak serius mana bisa jadi majalah. Bikin majalah kan mesti serius. Mulai dari konsep, target pembaca, pembuatan konten, pemasaran, distribusi, manajemen agen dll. Majalah ini produk intelektual. Cuman dibikin gaya pop sehingga enak dibaca dan menarik.

Ayo siapa yang dulu langganan Ummi?

#18KALIBATA

Sebelum cerita tentang Ummi lebih detail. Ada satu tugas lagi yang mesti dilaksanakan yaitu bikin buletin jumat. Di Kalibata Utara waktu itu para ustadz bikin LPPD (Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Dakwah) Khairu Ummah. Ini semacam pelatihan mubaligh, penyedia ustadz buat acara taklim dan sekaligus tenaga khotib saat khotbah solat Jumat.

Lokasi Khairu Ummah di lantai 2. Di bawahnya dipakai TK Robbi Rodhiyya. Selain dipakai buat Taman Kanak Kanak juga sekaligus rumah tinggal Ustadzah Yoyoh Yusroh dan Budi Dharmawan. Jaman dulu karena keterbatasan finansial para da’i jadi kantor dipakai merangkap tempat tinggal. Seperti kantor Ummi di Utan Kayu dipakai tempat tinggal Bambang Sunaryo. Aku juga pernah dapat ‘jatah’ tinggal di kantor Ummi saat di Kampung Melayu kecil.

Kembali ke Khairu Ummah, tugasku disitu adalah nerbitin buletin jumat. Mulai dari mencari penulisnya, membawa ke tukang setting dan layout, bawa ke percetakan di daerah jalan Pramuka, packing ke dalam plastik. Nanti tugas distribusi ke masjid masjid dijalanin sama Bambang Sutopo. Kerjaan di Ummi dan Khairu Ummah ini pararel aja. Saling beririsan. Kadang yang setting dan layout Aidil Heryana yang memang tukang lay out di majalah Ummi.

Ketua Khairu Ummah waktu itu ustadz Muchlis Abdi allahuyarham. Beliau dulu aktivis PII (Pelajar Islam Indonesia). Mubaligh yang handal. Suaranya bulat dan berwibawa. Di KU begitu biasa disingkat aku kenal para ustadz kondang. Ada Abu Ridho, ustadz Rahmat Abdullah, ustadz Abdul Hasib, ustadz Rosihan Anwar, mas Mutammimul Ula, ustadz Muinuddin dll. Sepekan sekali mereka bertemu. Rapat menentukan tema khotbah jumat yang aktual. Laporan tentang perkembangan dakwah di masjid yang mereka datangi.

Aku yang masih belia cuman jadi pendengar aja sih. Dengerin aja udah seneng. Dan memang tugasku di bagian penerbitan buletin. Biasanya sekali naik cetak kita sudah siapkan buat 4 x jumat. Jadi dalam sebulan buletin sudah jadi. Tinggal nanti proses distribusi. Alhamdulillah sampai hari ini buletin jumat Khairu Ummah masih terbit. Walaupun aku cuma tugas sekitar 2 atau 3 tahun di Khairu Ummah. Logo Khairu Ummah yang sampai sekarang masih dipakai di buletin dulu dibikin sama Aidil.

Buletin hanyalah salah satu produk ikutan saja dari Khairu Ummah. Inti dakwahnya adalah bagaimana pemberdayaan masjid. Masjid bukan hanya dipakai buat salat wajib berjamaah saja. Tapi mesti jadi sarana pembinaan ummat. Silabus khotbah setahun atau silabus ceramah ramadhan biasanya jadi produk KU.

Tapi dasar akunya yang gak pede atau memang bukan passionnya dakwah bil lisan. Aku tuh paling gak bisa kalau disuruh khotbah jumat. Kaki gemetaran, keluar keringat dingin dan pikiran gak fokus. Makanya sampai sekarang belum pernah aku jadi khotib jumat. Soalnya seringnya kalau lagi jumatan itu aku tidur. Kan gak lucu kalau jadi khotib ntar tidur juga.

#17UTANKAYU

Usai subuh di suatu hari pada Maret 1990 aku dapat perintah. ‘Brur, ente hubungi bang Aad. Dia ada di Utan Kayu kantor majalah Ummi. Ente bantuin di redaksi ya! ‘

Begitulah awal mulanya aku bergabung dengan majalah Ummi. Gak pake lamaran. Gak pake test dan gak pake wawancara. Tapi penugasan!

Siangnya aku temuin bang Adriano Rusfi nama lengkap bang Aad. ‘Kantor’ Ummi yang dimaksud sebenarnya gak layak disebut kantor. Tempatnya di belakang kantor pos Utan Kayu Raya. Masuk kantor lewat gang kecil sebelum kantor pos. Hanya muat motor. Sebelah kiri nanti ada rumah kecil 3 kamar dengan satu ruang tamu. Rumah itu tempat tinggal Bambang Sunaryo. Ada sekat di ruang tamu yang membatasi antara wilayah privat Bambang dan keluarga dengan ‘ruang redaksi’. Gak ada meja kursi ngampar aja. Di kamar satunya lagi baru ada 2 meja dan kursi.

Siang itu aku lapor sama Bang Aad bahwa ditugaskan bantu redaksi Ummi. Di kantor itu ada juga Bambang Sunaryo tuan rumah sekaligus penunggu kantor, Indra Sakti, Aidil Heryana dan Abdul Azis.

Tugas pertama aku di majalah Ummi adalah cari Keris dan Blangkon buat properti pemotretan kover majalah Ummi. Laporan utama majalah Ummi edisi itu membahas adanya praktek perdukunan di kalangan tarbiyah. Sukses aku minjem keris dan blangkon Kak Worri tetanggaku di Bearland. Habis di poto buat kover, dua benda itu aku balikin.

Majalah Ummi terbit pertama kali April 1989. Para pengelolanya ya trio mahasiswa psikologi UI yang saya sebut di atas. Aad, Indra dan Bambang. Ada Aidil bagian layout dan Abdul Azis bagian sirkulasi. Itu aja yang aku sering ketemu di Utan Kayu. Selain mereka banyak juga teman lain yang tidak terlibat langsung di keredaksian. Ada Agus Sudjatmiko, Idris Luthfi, Muchtadi dll yang aku gak terlalu ingat siapa lagi yang membidani Ummi.

Majalah ini diterbitkan dengan modal semangat yang jelas tapi modal dana gak jelas. Statusnya juga majalah liar. Kenapa liar? Karena gak ada badan hukum yang menerbitkan, alamatnya gak jelas, nama nama redaksinya juga nama alias semua. Surat menyurat dan wesel pos buat biaya berlangganan dikirim ke PO Box yang disewa di kantor pos Jatinegara. Jadi kalau ada surat atau wesel buat langganan majalah sampainya ke kotak pos di Jatinegara. Nanti Abdul Azis yang pegang kunci kotak itu akan ngambil ke kantor pos Jatinegara.

Alamat jelas yang tertera di majalah Ummi numpang di alamat rumah bang Idris Luthfi Rambe di Jl Infanteri KPAD Jatiwaringin. Bapaknya tinggal di komplek perwira angkatan darat. Jadi biar aman. Kalau diintelin biar dibales sama bapaknya Idris. O iya. Bapaknya Idris ini juga dosen aku di IISIP. Pak Nazarudin Rambe, SH ini ngajar mata kuliah pengantar ilmu hukum dan sistem hukum Indonesia.

Zaman orde Baru bikin majalah mesti ngurus SIUPP dulu. Surat Izin Usaha Penerbitan Pers. Harus punya badan hukum dan jumlah duit yang buanyak biar izin keluar. Itu baru izinnya, belum lagi modal buat nerbitinnya. Hil yang mustahal bisa dipenuhi oleh anak anak mahasiswa.

Makanya Ummi dibikin underground, diedarkan ke kalangan terbatas tetapi sebisa mungkin dikelola baik biar tetap terbit dan jadi alat dakwah.

Aku inget bener arahan saat ditugaskan di Ummi. Jadikan Ummi sebagai sarana nasyrul fikroh (penyebaran pemikiran), tanmiyatul kafa’ah (pemanfaatan potensi) dan sekaligus sebagai kasbul mai’syah (sumber penghasilan). Jadi 3 prinsip inilah yang selalu dipegang oleh para pengelola Ummi.

Aku merasa mendapat kehormatan bisa gabung di tim Ummi ini. Secara aku emang latar belakang kuliah jurnalistik, aktif sejak SMA di bidang dakwah dan sekaligus buat cari penghasilan juga.

Kalau soal penghasilan di Ummi gak usah kaget deh. Ya pastinya dibawah rata rata. Sebagai pembanding. Waktu aku lulus SMA dan jadi sales kertas komputer gajinya sekitar 180 ribu sebulan. Nah di Ummi ini kita hanya dapat 80 ribu sebulan itupun dibayar nyicil sesuai dengan setoran dari agen penjual Ummi. Jadi kita gajian 2 pekan sekali 40 ribu pekan ke-1 dan sisanya dibayar pekan ke-3. Cukup Brur? Cukup sih enggak tapi berkah. Berkah ini dimensinya lebih luas dari cukup. Karena ukurannya bukan jumlah kuantitas saja. Tapi kemanfaatan secara lahir batin yang bikin hidup makin tenang. Banyak gajinya tapi banyak masalahnya buat apa? Mendingan banyak gajinya dan banyak manfaatnya. Yegak?

Di majalah Ummi inilah separuh usiaku dihabiskan. Mulai dari bujangan tahun 90 sampai Ummi berhenti terbit 2018 aku selalu membersamai Ummi. Besok besok aku akan cerita lebih detail bagaimana kita para lelaki berjuang untuk keberlangsungan terbitnya majalah perempuan.

Memang yang paling ngerti perempuan ya lelaki. Hehe.

#16LENTENGAGUNG32

Di IISIP banyak yang bikin kaos tulisannya LA32. Biar mirip initial kota Los Angeles di California Amrik. Alamat kampus memang di jalan raya Lenteng Agung no 32. Kenapa lo mention tempat Lenteng Agung sampai 4 kali Brur? Ya karena banyak kejadian di kampus ini. Termasuk jadian aku sama temen seangkatan. Ehm…!

Mbak Hen dan mbak Yayuk kakak sepupuku sewa rumah buat kost di seberang kampus. Karena rumahnya cukup besar maka selain mereka berdua ada dua orang lagi yang tinggal di rumah kost itu. Temennya mbak Hen angkatan 85 sama temennya mbak Yayuk angkatan 86. Nah ceritanya temennya mbak Yayuk ini yang sama temen temen dijodoh-jodohin sama aku.

Gak usah sebut namanya yak. Gak enak soalnya gak happy ending. Yang jelas orangnya pendiam kayak aku. Terus gak neko-neko, cara pakaiannya juga sopan gak ngejreng. Memang belum pakai hijab. Katanya sik udah beberapa temen seangkatan yang ngajak jadian, kakak kelas juga ada yang nembak. Tapi dia tolak semua. Gak tahu kenapa dia mau sama aku. Mungkin karena aku gak macem macem orangnya. Kelihatan soleh dan suka solat di musolla. Walaupun tampangnya paspasan. Gak papa gak keren yang penting setia.

Bapaknya wartawan dan tinggal di komplek PWI Kebon Nanas Jakarta Timur. Kalau pulang kuliah terus dia mau pulang ke PWI kadang kadang aku anterin. Anterin maksudnya bareng naik kendaraan umum. Bayar sendiri sendiri juga. Haha. Yang serem kalau malam. Soalnya komplek PWI naik mikrolet dari terminal Kampung Melayu pasti ngelewatin kuburan cina. Gelap dan kanan kiri kuburan dengan nisan segede gede gaban.

Orang mah jaman dulu kalau pacaran kan nonton bioskop atau makan dimana gitu. Kalau aku mah enggak. Ngajaknya ke pengajian aja. Ngajak dengerin ceramah dan semacamnya. Jelas bete kali ya. Cuman ya mau gimana kan kita aktivis musolla. Karena aku jurusan Jurnalistik sementara dia anak humas maka kuliahnya juga banyak yang gak bareng. Kalau nganterin ke rumah PWI juga gak sampe masuk rumah. Jadi jarang ketemu orang tuanya. Seingatku cuman sekali aja ke rumahnya. Waktu itu rumahnya udah pindah ke Jaka Sampurna arah Bekasi. Aku samperin ke rumah. Sempat ngeteh dan ngobrol sama ibunya. Maksud aku mau ajak ke pengajian mumpung hari libur. Cuman anaknya gak mau. Ya sudah.

Di semester 7 ada kuliah kerja lapangan. Aku praktek kerja di Harian Pelita. Kantornya di depan Ratu Plaza Senayan. Dari jembatan semanggi lewatin dua halte bus. Harian Pelita ini salah satu koran yang kebijakan redaksinya membela kepentingan umat. Tugas tugas liputan mulai dijalankan. Biasanya dapat tugas wawancara beberapa nara sumber. Nanti hasil wawancara dijadikan bahan berita sesuai dengan agenda setting yang sudah disiapkan redaksi.

Salah satu kelebihan kuliah di iisip ini jaringan wartawannya hampir ada di semua media massa. Baik cetak maupun elektronik. Kemana aja kita datang ke kantor media. Pasi ada anak iisip yang kerja disana. Dan banyak juga yang belum lulus kuliah tapi karena sudah asik kerja di media akhirnya lupa balik kampus.

Paling seneng kalau hasil liputan kita nongol jadi headline. Pernah kejadian pas baru keluar kantor ada mobil terbakar di deket jembatn semanggi. Akunyang waktu itu lagi bawa kamera langsung jeprat jepret mobil dalam kondisi api masih menyala. Supirnya selamat dan sempat aku wawancarai. Besok paginya hasil jepretanku muncul di halaman pertama sebagai berita foto. Keren lah. Aku pamerin ke temen-temen di kampus. Anak praktek kuliah tapi beritanya bisa nembus jadi headline.

Semester 8 aku sudah skripsi. Seangkatan 86 cuman 6 atau 7 orang aja yang sudah boleh ikut bimbingan skripsi karena sudah memenuhi jumlah SKS nya. Aku ambil penelitian di majalah Matra. Tentang penulisan ilmiah populer di salah satu rubrik majalah itu. Sudah 2 bab di acc sama dosen pembimbing. Tetiba pada maret 1990 ditugaskan murobbi (guru pembimbing ngaji) aku untuk kerja di Majalah Ummi. Majalah Ummi baru terbit setahun dan perlu tenaga yang ngerti jurnalistik untuk tambah bikin maju.

Aku sami’na wa ato’na karena perintah komandan. Akibat terlalu serius ngurus kerjaan baru aku lupa ke kampus. Skripsi yang sudah 2 bab terlantar. Mau ke Lenteng Agung perasaan males bener. Dan akhirnya emang kejadian. Kuliahku enggak kelar. Aku gak pernah lagi injak kampus. Apalagi saat murobbiku nyuruh nikah tahun 91. Semua urusan kampus ditinggalkan. Termasuk yang pernah jadian dengan teman seangkatan.

Sedih deh kalau denger ceritanya. Soalnya aku denger sendiri dari orangnya setelah 22 tahun kita gak pernah bertukar kabar. Ntar yak cerita detailnya di tagar #MERDEKASELATAN 😂

#15LENTENGAGUNG02

Situasi kampus memang beda banget sama SMA. Di kampus ‘perang’ pengaruh pemikiran kental. Aku kalau gak digembleng di Majelis Taklim 31 waktu SMA mungkin udah ikut begajulan sama temen temen. Penting makanya pembinaan kepribadian islami sejak awal masuk SMA. Kalau sudah di kampus kita tinggal beatle aja.

Selain aktif di musolla kampus, aku juga ikut tim softball kampus. Latihan di lapangan softball Senayan. Sempat sekali ikut turnamen antar kampus se Jakarta. Kalah. Geng softball ini kumpulan anak agak the have. Aku juga gak tahu kenapa dulu itu bisa nyasar ikutan klub softball kampus. Padahal aku kan geng anak misqueen.

Sebagai aktivis musolla aku bikin kelompok studi Kalam. Isinya kajian tentang isu keislaman kontemporer. O ya waktu di kampus iisip gak ada Masjid. Kita kalau jumatan mesti keluar kampus. Musolla juga hanya dipakai buat solat jamaah 5 waktu. Tempatnya kecil cuman muat 40-50 jamaah sekali solat. Acara kajian islam biasanya pake lokasi di luar kampus. Sekali waktu pernah bikin dauroh buat adik angkatan di villa depkes daerah Cipanas. Acara 3 hari itu jadi ajang pengkaderan aktifis islam kampus.

Kakak angkatan yang aktifis HMI kayak bang Yosri Fajar, bang Azmi Daud, bang Edysas akhirnya juga tertarik ke kelompok tarbiyah yang aku ikuti. Gerakan anak anak tarbiyah di kampus swasta kayak iisip ini memang tak sebesar gerakannya di kampus negeri macam UI, ITB, IPB, UGM, Brawijaya dll. Tapi setidaknya di kampus iisip ada bibit tarbiyah yang mulai ditanam.

Semester 5 aku sempat kost di sekitar kampus. Sewa kamar kecil buat dua orang. Aku sekamar sama Boim Lebon salah seorang geng penulis cerita Lupus besutan Hilman Hariwijaya. Boim ini anaknya lucu, item, keriting dan gemesin. Kalau ketemu pengennya nabok aja. Sekarang Boim Lebon kerja di RCTI dan produktif sebagai penulis. Aktif juga di Forum Lingkar Pena yang dibikin Helvy dan kawan kawan.

Sementara dengan geng nongkrong aku bikin semacam ‘majalah’ kampus independen. Namanya Pengaponz. Isinya lebih ke info hiburan. Ada cerpen, cerbung, gosip gebetan, info kost sekitar kampus, sampai ramalan bintang. Majalah bukan dicetak. Tapi dipotokopi. Diperbanyak sesuai PO yang udah dibikin. Gak banyak sih eksemplarnya paling 50-100 eksemplar. Terbit juga gak jelas temponya. Sesuka suka kita aja. Otak majalah ini Fahri Asiza penulis buku anak Gramedia. Sekarang penulis skenario sinetron Dunia Terbalik.

Terus siapa cowok yang berhasil mendapatkan Ayu? Mahasiswa mana yang beruntung? Alkisah rektor waktu itu pak AM Hoetasoehoet punya anak laki. Namanya Ilham Parsaulian Hutasushut. Bang Ilham ini lulusan ITB Bandung. Dia jadi dosen di IISIP ngajar mata kuliah IAD Ilmu Alamiah Dasar. Entah gimana cerita detailnya yang jelas Bang Ilham sama mbak Yayuk jadian dan gak lama kemudian nikah. Waktu lamaran babe aku juga yang nerima lamaran Hoetasoehoet. Jadi gegara pernikahan itu aku jadi sodaraan sama pak Rektor.

Aku lupa tahun berapa mbak Yayuk sama Bang Ilham nikah. Yang jelas babe meninggal dunia Februari 1988. Berarti lamaran sebelum itu. Aku ingat resepsi pernikahan di aula Balai Kota DKI. Berarti mbak Yayuk menikah saat semester 6 atau 7. Dan habis nikah tetap kuliah sampai selesai.

Terus nasib lo gimana Brur? Apakah masih tetap menjomblo dan ngurusin kegiatan musolla? Ya gak kaku kaku amat sik. Kita mah orangnya fleksibel. Bisa masuk di kelompok mana aja. Ada sedikit story juga sama urusan hubungan dengan teman wanita di kampus ini. Tapi gak semeriah Ayu-Ilham yang bikin patah hati banyak mahasiswa. Aku mah silent aja. Tapi dalam. Haha.

#14LENTENGAGUNG01

Ada 3 jurusan waktu itu di IISIP. Jurnalistik, Hubungan Masyarakat dan Penerangan. Aku ambil jurnalistik. Kalau anak cewek kebanyakan ambil humas dan yang paling sedikit anak penerangan. Perasaan kuliah disini santai beud. Semester awal kita kebanyakan ambil kuliah pagi. kalau kuliah sore atau malam nanti kebanyakan temennya bapak bapak yang pulang kerja. Kuliah pagi juga masih fresh. Suasana kampus masih hijau banyak pepohonan. Tapi yang jelas sik temen ceweknya masih muda fresh lulusan SMA.

Anak mahasiswa mahasiswi juga kalo pakaian seenak udelnya aja. Ada banyak mahasiswa dari daerah yang kost di sekitaran kampus. Biasanya mereka ke kampus pake sendal jepit aja sama kaos oblong. Rambut pada gondrong abis keramas gak dikeringin langsung masuk kelas. Yang cewek juga pakaian mini mini sama ketat full press body. Entah kenapa begitu. Lagi model kali. Yang pakek jilbab bisa diitung dengan jari. Tahun 1986 masih jarang kali wanita muslimah pakai hijab. Apalagi di kampus model calon jurnalis begini.

Aku yang sejak SMP-SMA gak pernah terlibat urusan cewek tetiba di kampus ini jadi kepikiran. Temen geng nongkrong aku ini emang playboy cap kucing semua. Udah pada ngerokoknya kuat. Ke kampus juga cuman titip absen dan cari gebetan. Aku hapal tanda tangan mereka semua. Karena paling sering ketitipan absen aku. Mereka sibuk nongkrong di kantin sama godain cewek. Ntar pas mau ujian baru potocopy catatan.

Suatu saat babeku diminta ngewakilin bude Nur. Kakaknya bapak untuk terima lamaran anaknya yang perempuan. Bude Nur tinggal di Duren Sawit dengan anak-anaknya yang hampir semua perempuan. Anak laki cuman satu paling sulung dan sudah berkeluarga. Empat anak perempuannya masih tinggal sama bude. Pakde sudah meninggal. Mbak Wati anak perempuan paling besar juga sudah berkeluarga tinggal dengan suaminya.

Aku waktu itu ikut nganterin babe. Setelah acara lamaran selesai kita masih ngobrol ngobrol sebelum pulang. Nah disitu aku ketemu kakak sepupu mbak Hen dan adiknya mbak Yayuk. Dan ternyata…mbak Hen dan mbak Yayuk kuliahnya di IISIP juga. Mbak Hen masuk tahun 85 dan mbak Yayuk si bungsu bareng aku angkatan 86.

Nah, mbak Yayuk ini yang rupanya kemarin diomongin sama temen temen geng nongkrongku. Mereka pada ngincer Ayu. Namanya Rahayu Maryati. Di kampus panggilannya Ayu. Aku karena adik sepupu manggilnya mbak Yayuk. Ayu ini emang paling bening diantara temen temen seangkatan. Pernah beberapa kali ngeliat Ayu di kampus lagi digodain anak anak geng. Tapi waktu itu aku belum tahu kalau Ayu itu kakak sepupu. Jarang kontak antar sepupu soalnya kita.

Pas ngobrol dengan mbak Yayuk ceritalah situasi kampus tercinta. Emang dasar julukannya kampus tercinta maka banyak mahasiswa-mahasiswinya yang adu nasib mencari cinta. Ayu cerita Si Fulan lah mepet terus. Sementara si fulan yang lain gigih pedekate segala cara. Pokoknya para playboy kampus ini lagi sibuk cari korban. Termasuk beberapa nama yang ada dalam geng nongkrong aku. Dari obrolan inilah kemudian aku dan mbak yayuk bersepakat.

Aku kalau ke kampus selain naik kendaraan umum kadang naik motor juga. Honda GL 100 warisan masku yang tugas kerja di Medan. Mas Agus kerja di distributor obat dan alkes. Waktu aku kuliah dia dipindah ke Medan. Sebelumnya di Bandung. Kalau cuman mau kuliah aja biasanya aku naik angkutan umum. Kalau rencana mau main atau pergi lagi aku naik motor.

Anak nongkrong temen gengku walaupun bandel tapi sama aku sopan. Manggilnya juga ustadz. Kalau mereka lagi minum bir terus aku datang biasanya mereka langsung umpetin itu minuman. Ada ustadz datang! Yah gitu deh. Aku sendiri cengar cengir aja. Di keluargaku jangankan ngebir. Ngerokok aja gak ada cerita. Bisa digebukin pakai gesper kopel sama babe kalo ketahuan.

Nah suatu saat mereka taruhan. Siapa yang bisa ngerayu Ayu terus bisa goncengin Ayu naik motor pas pulang kuliah bakalan dapat duit dan ditraktir makan di warung sate pakde Solo depan kampus.

Haha. Udah ketahuan kan ceritanya? Mereka kan gak tahu kalau aku sama Ayu sepupuan. Jadi aku dan Ayu kerjain mereka biar pada rasa. Siang habis mata kulian pengantar ilmu komunikasi kita eksekusi rencana kita. Aku bilang ke temen nongkrongku bahwa siang ini Ayu bakalan jatuh ke tanganku dan akan ku antar pulang naik motor.

Ya jelas mereka gak percaya lah. Gak mungkin ustadz Mabruri yang tampangnya kayak Segi di film Scoobido bisa ngegaet Ayu bintang kampus yang direbutin anak anak. Tapi ya itulah namanya politik. Di dunia politik itu gak ada yang gak mungkin. Semuanya bisa deal asal ada loby dan kesepakatan sebelumnya. Win-win solution.

Mereka pada melongo ketika di parkiran motor ngeliat aku udah siap-siap ngeboncengin Ayu naik motor. Mereka takjub. Kok bisa? Pake mantera apa si Brur bisa dapet Ayu? Apakah ilmu pelet dari gunung Kemukus?

Akhirnya kita dadah-dadah ama mereka. Keluar kampus menuju Bearland. Sepanjang jalan aku ngakak sama mbak Yayuk. Sukses ngerjain anak-anak. Mbak Yayuk mampir dulu ke rumahku. Sorean dikit baru aku anterin pulang ke Duren Sawit. Dan sampe beberapa minggu ke depan mbak Yayuk bebas dari godaan playboy cap kucing. Karena udah santer beredar kabar Ayu jadian sama Brur.

Sampai akhirnya sandiwara kita ketahuan! Haha

#13LENTENGAGUNG

Tahun 1986 akhirnya aku kuliah juga. Setelah gak jebol di fakultas kedokteran UI yang kedua kali, akhirnya aku cari alternatif jurusan lain. Entah dapat wahyu atau ilham dari mana tetiba kepikiran daftar kuliah ke Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Lenteng Agung. Gak ada sejarah saudara atau tetangga kuliah disini. Mana kampusnya jauh beud dari rumah.

Rute jalan ke Kampus Tercinta ini lumayan panjang. Kalau naik bus PPD no 90 jurusan Tanjung Priok-Pasar Minggu. Habis itu nyambung miniarta Pasar Minggu-Depok. Tapiii… bus PPD no 90 ini jarang lewat. Selain busnya cuman dikit. Rutenya panjang bener. Jadi kalau mau cepat kita mesti 3x naik kendaraan umum. Mikrolet Senen-Kampung Melayu. Pindah Mikrolet Kampung Melayu – Ps Minggu. Baru naik Miniarta Ps Minggu-Depok. Hufff… tua di jalan.

Pertimbangan utama masuk IISIP karena biaya masuk kuliah dan uang semesterannya murah banget. Cuman 300 rebu satu semester. Uang masuk pertama kali juga gak mahal. Lupa aku berapa tapi gak sampe sejuta deh. Bisa dicicil pula. Jadi walaupun jauh ya sikat aja. Yang penting kuliah dulu. Urusan belakangan.

Yang jadi pertanyaan adalah: apa hubungan fakultas kedokteran dengan fakultas komunikasi? Kenapa deviasinya melenceng jauh pisan. Ilmu kedokteran ada di ujung timur sementara ilmu komunikasi ada di ujung barat. Titik temunya dimana? Gak tahu deh. Sekolah 3 tahun jurusan IPA. Tetiba kuliah ambil jurusan IPS. Ya gakpapa deh yang penting belajar.

Singkat kata. Setelah tes masuk dan lulus jadi mahasiswa kita langsung digeber sama penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) pola 100 jam. Itu artinya mahasiswa baru mesti masuk terus selama 2 pekan gak boleh bolos dengerin ceramah dan diskusi tentang Pancasila. Kalo bolos dianggap gak lulus. Kalau lulus setara dengan MKDU Pancasila 2 SKS. Dari 300 mahasiswa baru itu dibagi 3 kelompok besar. Kelompok Nusa, Bangsa dan Bahasa. Masing kelompok nanti dibikin kelas. Ada Nusa 1, Nusa 2 dan seterusnya.

Aku dapat kelas Nusa 1. Aku tengok kanan kiri gak ada satupun temen SMA seangkatan yang masuk IISIP. Semuanya kawan baru. Belakangan hari baru ketemu adik kelas SMA 31 yang barengan masuk. Namanya Avesinna. Di kampus tercinta ini bakat bakat bandelku mulai tampak. Aku bergaul sama geng tukang nongkrong. Tapi disisi lain aku masih dipantau sama mentor ngajiku di SMA untuk menjadi da’i di kampus. Jadilah aku kayak manusia yang hidup di dua alam. Kadang nongki-nongki sama geng rusuh. Tapi disaat lain aku aktif di musolla kampus.

O ya cerita dikit tentang penataran P4 yang melelahkan itu. Akhirnya aku dinyatakan lulus. Bukan hanya itu aja. Dari 300 mahasiswa baru aku dinobatkan sebagai juara 1 penataran P4. Ngalahin bang Iwan Fals yang ada di kelompok Bahasa. Juara 2 seingatku Ahmad Sibli asal SMA dari Lampung. Juara 3 Ratni.

Pemusik Iwan Fals ternyata seangkatan dengan aku juga di IISIP. Waktu itu dia lagi ngetop-ngetopnya sebagai penyanyi. Lagu lagunya penuh dengan kritik sosial. Cuman karena selama penataran P4 aku gak satu kelompok jadi kita gak saling kenal. Aku kenal dia. Bang Iwannya gak kenal aku.

Jadi aku nih gak ada bakat jadi radikal. Karena soal Pancasila aku jagonya. Buktinya juara satu P4. Cuman karena waktu itu aku ikut pengajian yang doktrinnya agak keras maka sikapku terhadap kehidupan bernegara di bawah rezim orba itu kelihatan agak berseberangan.

Cerita seputar kuliah ini banyak serunya. Gak cukup cuman sekali tulis. Ntar kita sambung di tulisan besok ya.