#26KAMPUNGDUKUH

Gak pernah kebayang sih kantor Ummi sampe ke jalan Dukuh sini. Letaknya di belakang kantor Jasa Marga pinggir tol jagorawi. Entah siapa yang nemuin rumah disini. Secara kru Ummi rumahnya gak ada yang deket deket sini. Tapi ya mungkin pertimbangan murah dan nyaman akhirnya kita kontrak juga. Kalau jumatan kita jalan kaki ke masjid Jasa Marga atau naik motor.

Ummi dan Annida alhamdulillah makin maju. Karyawan makin banyak. Selain tim redaksi ada divisi usaha juga. Penanganan agen makin rapih. Karena agen majalah umum sekarang mukai order Ummi dan Annida. Sentra keagenan majalah di Senen, Budi Utomo dan agen besar mulai pesan. Mitra dengan agen umum ini ada plus minusnya. Plusnya majalah kita tersebar luas di lapak mereka, terminal, pasar, dan kios kios majalah lain. Jadi kita gak usah datangin satu satu. Mereka sudah punya jaringan. Minusnya adalah soal diskon dan waktu bayar. Mereka ini minta diskon gede terus sistem bayarnya 3-1. Kita kirim majalah yang ke-3 mereka bayar kiriman kesatu. Duit kita banyak nyangkut disini. Tapi ya karena kita butuh jaringan mereka terpaksa kita ikut.

Pemimpin umum sekaligus pemimpin redaksi dipegang Indra Sakti, aku Redaktur Pelaksana. Pimpinan usaha dikomadoi Ferous. Ada inisiatif waktu itu manajemen Ummi di merger dengan majalah Ishlah. Negosiasi berlangsung cukup alot. Dari pihak Ishlah, Arifinto almarhum bersikeras digabung aja biar grup majalah makin kuat. Tapi aku dan Indra masih ragu. Soalnya laporan keuangan Ishlah waktu itu gak bagus. Ngerinya kalau Ummi gabung nanti kondisi Ummi ketularan gak bagus.

Mardani Ali Sera dulu salah satu redaksi Ishlah. Ada juga Untung Wahono, Syamsu Hilal dan beberapa kawan lain. Ishlah kontennya lebih berat. Kita tahu sendiri lah warga +62 ini umumnya gak begitu suka bacaan yang berat berat. Di televisi aja rating paling tinggi sinetron bukan program berita. Jadi wajar juga sih kalau Ishlah agak berat dari segi usaha. Dan akhirnya setahun atau dua tahun setelah rundingan proses merger itu Ishlah berhenti terbit. Ummi dan Annida terus maju dan nantinya jadi majalah resmi yang punya SIUPP Surat Izin Usaha Penerbitan Pers.

Situasi politik indonesia jelang reformasi 1998 memanas. Demo demo mahasiswa mulai marak. Kondisi ekonomi juga dirasakan makin berat. Tapi anehnya kenapa tiras Ummi perlahan naik? Nah kita juga kurang tahu penyebabnya. Hanya bisa menduga saja. Mungkin di jaman susah ini perlu kembali ke ajaran agama yang benar. Atau ada juga analisa bahwa tulisan tulisan di Ummi solutif mengatasi permasalahan keluarga.

Ummi mulai bikin rubrik khusus anak anak. Permata namanya. Tadinya hanya berupa rubruik 4 halaman saja dan menjadi baguan dari rubrikasi Ummi. Tapi ke depan rubrik ini berkembang menjadi ‘majalah’ sendiri dengan jumlah halaman 16. Otomatis karena rubrik bertambah maka karyawan juga nambah.

Perjalanan kunjungan ke kota kota di Sumatera menjadi tugas rutin. Dalam 2 bulan minimal kita kunjungan sekali ke kota di Sumatera. Bisa sekali jalan 3 kota. Atau kalau agenda tak terlalu padat bisa cuman satu kota saja.

Update perkembangan situasi politik Indonesia biasanya kita diskusikan di kantor Yayasan Sidik Mampang Prapatan. Sidik singkatan dari Studi dan Informasi Dunia Islam Kontemporer. Teman teman dari berbagai kota di Indonesia biasanya datang dan diskusi tentang perkembangan situasi kondisi daerahnya.

Tokoh dan Pengamat politk nasional banyak diundang diskusi dengan teman aktifis untuk menmbah wawasan dan perspektif baru. Kita yang belum begitu melek politik akhirnya jadi terbuka. Indonesia tidak sesang baik- baik saja.

#25DURENTIGA

Kantor Ummi di Duren Tiga ini letaknya nyempil. Pas dibelokan yang hampir membentuk sudut 90 derajat. Nah kantor Ummi pas diujung siku. Ada jalan masuk satu mobil. Ketemu pintu gerbangnya. Kalau sudah masuk gerbang ada halaman cukup luas bisa muat 3 mobil dan beberapa motor. Buat ambil dan antar majalah dari percetakan ke para agen, Ummi masih sewa mobil pick up harian. Belum ada aset berharga yang dimiliki. Kecuali alat tulis kantor. Sistem tik naskah manual sudah diganti dengan komputer. Setting huruf di tempat mas Tun Aji sudah ditinggalkan.

Para kru Ummi-Annida mulai menambah skill. Aidil dikursuskan desain grafis di Inter Study. Ilustrator Fauzi dan Dedy Ramdhan juga menambah ilmu dengan ikut seminar dan workshop. Jangan membayangkan kantor Ummi itu seperti kantor di kawasan Thamrin Sudirman ya. Ini kantor majalah pergerakan. Tak ada plang nama identitas. Yang tahu itu kantor media ya cuman pegawainya saja. Orang lain yang lewat tahunya itu rumah biasa.

Indra dan aku mulai merintis pembentukan badan hukum yang legal buat Ummi dan Annida. Pilihannya waktu itu kita bikin badan hukum koperasi. Namanya Koperasi Insan Media Ummu Salihah. Disingkat Kimus. Memang gak lazim sih media massa berbadan hukum koperasi. Tapi gak papa sebagai sebuah rintisan menuju perizinan mesti dilakukan. Ummi juga dicetak masih menggunakan mesin cetak kecil. Masih cetak di salah seorang ikhwan yang punya bisnis percetakan. Semua dikerjakan dan diorderkan antar teman saja. Alhamdulillah semuanya berkah. Gaji juga sudah bisa tepat waktu tiap akhir bulan. Gak pake dicicil nunggu setoran dari para agen.

Vespa bekas warna coklat tua yang dulu aku beli awal nikah juga sudah ganti. Dengan sedikit tabungan dan pinjem uang ke ibu, aku bisa beli vespa eksklusif 2 seken warna biru yang rada bagusan. Vespa milik Agus Jatmiko kakaknya Septi itu masih mulus. Seneng bener aku naik vespa itu. Antar isteri kemana mana lebih mantap. Bawa anak balita juga asik asik aja. Jarang mogok pula. Naik vespa yang lama aku pernah hampir celaka soalnya. Waktu itu isteri masih kuliah di al hikmah aku jemput pulang. Di daerah jalan Saharjo saat sedang melaju kencang tiba tiba ban belakang pecah. Vespa oleng ke kanan ke kiri. Alhamdulillah gak sampai jatuh terpelanting mencium aspal. Aku masih bisa kendalikan vespa sehingga selamat. Isteri waktu itu lagi hamil anak pertama. Setelah di periksa ke bengkel ternyata bukan hanya bocor tapi pecah. Pecah ban luar itu disebabkan gesekan ban dengan per shocbeker belakang. Ban jadi tipis dan robek. Alhamdulillah yang pecah ban belakang kalau ban depan mungkin bisa lain urusan.

Tugas bantu penerbitan bulettin jumat di kantor LPPD Khairu Ummah berhenti. Aku ditugaskan yang lebih menantang yaitu mengurusi dakwah di Sumatera. Ada Yayasan Bumi Andalas yang bergerak di bidang pendidikan, sosial dan dakwah. Aku ditempatkan di bagian pendidikan politik dan media. Wilayah kerjanya ya mulai dari provinsi Lampung sampai provinsi Aceh. Biasanya sebulan sekali kita kunjungi kota kota di sumatera. Kadang aku naik kendaraan umum bus antar lintas sumatera. Atau kalau kita perginya barengan kita sewa mobil selama sepekan buat mengunjungi kota kota di sumatera.

Penugasan di Sumatera ini menambah wawasan dan pengalaman. Jalan sampai kota yang jauh di luar pulau Jawa tentu banyak peristiwa terjadi. Asiknya lagi setiap kita jalan darat pasti menyeberangi selalt sund. Naik kapal ferry merak-bakauheni sudah tak asing lagi.

Agen Ummi di sumatera juga lumayan gencar menambah pelanggan. Terutama di universitas negeri. Dari mulai Unila, Unsri, Unand, Usu sampai Unsyiah Banda Aceh. Jaringan dakwah yang terbentuk itu kemudian berkembang bukan hanya untuk syiar Islam. Tapi ada juga unsur bisnisnya. Jual majalah Ummi dan Annida pada waktu hasilnya lumayan. Bisa buat bayar uang kuliah. Buya Mahyeldi yang sekarang jadi Gubernur Sumbar Terpilih dulunya juga mantan agen majalah Ummi.

Isteriku sebelum nikah jualan Ummi. Sekali terbit bisa habis 100-200 eksemplar. Tabungannya lumayan dari hasil jualan Ummi. Gak sampe bisa buat beli emas sekilo sih. Tapi bisa lah beli bakso sama es campur yang enak di pasar Sunangiri. Pas nikah sama aku tentu masih tetap jualan. Bahkan lebih banyak lagi. Diskonnya dapat lebih gede soalnya.

Itulah yang disebut berkah. Kita gak cuman ngomong doang masalah keberkahan dalam dakwah ini. Tapi sudah ngerasain bener bahwa berkah dari apa yang kita peroleh bikin hidup jadi tambah tenang. Kalau hidup kita tenang, mau cari apalagi memangnya di dunia ini?

#24CIPINANGMUARA

Kantor Ummi selanjutnya pindah ke Cipinang Muara. Letaknya persis pinggir jalan Basuki Rahmat. Jalan lingkar luar yang tembus ke Kampung Melayu dan Casablanca. Waktu kita pindah ke kantor Jalan Basuki Rahmat ini jalanan barunya belum selesai dibangun.

Kali ini tak ada redaksi Ummi yang tinggal di kantor itu. Selain rumahnya kecil redaksi Ummi juga anaknya tambah banyak. Jadi sudah gak ada yang betah tinggal di rumah sekaligus kantor. Alhamdulillah Ummi sudah bisa menggaji office boy. Jadi dia yang tiap hari tidur di kantor dan membersihkan kantor serta melayani para karyawan saat bekerja.

Ummi juga mesti ngontrak rumah yang ruangannya rada banyak. Minimal mesti ada 3 ruang yang cukup besar buat menampung kru redaksi. Redaksi Ummi, redaksi Annida dan ruangan untuk tim pendukung seperti keuangan, disitribusi dan marketing.

Redaksi Annida yang semuanya berstatus mahasiswi UI itu juga akhirnya mereka pada lulus kuliah. Sebagian lanjut jadi kru Annida. Sebagian lagi keluar karena lanjut sekolah S2. Kru Nida awal ini dari segi akademis bisa di bilang jempolan semua. Haula Rosdiana kini menjadi salah satu guru besar di UI. Inayati pun begitu. Helvy baru tahun 2020 lalu meraih doktor di UNJ. Dian Yasmina kandidat doktor di UI. Yang paling mengenaskan memang pemred Annida yang laki laki sendiri. Kuliahnya gak jelas arah.

Aku sendiri usai tak lagi tinggal di kantor Ummi pindah kontrakan ke Kebon Manggis. Kontrakan di gang kecil ini letaknya di belakang tempat SD aku dulu. Lingkungannya agak kumuh. Depan rumah kontrakanku tiap malam selalu ramai orang nongkrong dan begadang. Belakangan aku baru tahu rumah itu bandar miras. Mau pindah kontrakan tapi sayang uang. Udah keburu bayar buat setahun. Akhirnya ya tetap bertahan di Kebon Manggis sampai kontrakan habis.

Raida anak pertama lahir tahun 1992. Baru setahun menyusui isteri sudah hamil lagi. Entah kenapa bisa begitu. Aku masih lugu waktu itu. Anak kedua perempuan lahir November 1994. Lahirnya di bidan Suminem jalan Nanas. Tempat biasa periksa kandungan isteri tiap bulan. Aku kasih nama Dini Afnani. Tapi umur Dini tidak panjang. Belum genap sebulan Dini meninggal. Awalnya aku dan isteri bawa Dini ke klinik untuk di vaksin. Entah kenapa sepulang dari klinik Dini sempat muntah. Dan badan serta bibir mulai membiru. Aku langsung bawa ke RSCM. Dari UGD karena kondisi buruk langsung masuk ICU. Beberapa jam di ICU khusus bayi, dokter memanggil aku. Kabarkan Dini sudah meninggal. Sebabnya kenapa? Dokter tak bisa kasih jawaban pasti. Kalau mau presisi ya mesti di otopsi. Aku nolak. Akhirnya bawa jenazah Dini pulang.

Jangan ditanya perasaan aku dan isteri ya. Kadang aku suka kesel sama para wartawan tivi yang meliput musibah. Misal jatuhnya pesawat Sriwijaya ke perairan Kepulauan Seribu beberapa waktu lalu. Ada aja reporter yang nanya ke keluarga korban dengan pertanyaan seperti itu. Ini maksudnya apa? Mau menggali dari keluarga korban dengan jawaban yang ajaib kah? Misal, ‘oh saya gembira sekali dengan peristiwa ini…’ begitu?

Ya sudah pastilah semua orang yang kehilangan anggota keluarganya pasti sedih. Wong kita kehilangan sendal di masjid aja sedih apalagi kehilangan anak.

Tapi sebagai manusia kita mesti sadar. Semua di dunia ini sudah ada yang mengatur. Termasuk kapan manusia meninggal. Gak peduli umur masih sebulan atau bahkan sampai seratus tahun. Kalau Allah sudah cabut rezekinya ya sampai ajalnya.

Aku mandikan sendiri jenazah Dini di rumah ibu di Matraman. Dibantu dengan mbak Lely kakak perempuanku. Usai dikafani dan di solatkan di Musolla aku bawa ke pemakaman Penggilingan Rawamangun. Dini dikubur dekat dengan makam Babe ku. Kalau ziarah ke makam babe ada hal yang menarik. Dulu di mess tentara jalan matraman raya keluarge babe, kelurga pak Sutrisno dan pak Sugiman tinggal di rumah yang sama. Cuman disekat sedemikian rupa sehingga bisa dipakai oleh 3 keluarga ini. Ketika mereka meninggal makamnya saling berdampingan. Suharno, Sutrisno dan Sugiman. Entah kenapa bisa begitu. Ini fakta.

Yang bikin sedih kalau mengenang Dini adalah sebulan setelah kematiannya. Akte kelahirannya Dini terbit. Bisa dibayangkan kan bagaimana perasaan abi Mabruri saat ngambil akte kelahiran Dini Tetapi Dininya sudah meninggal.

#23KAMPUNGMELAYU

Ummi terus lanjut walau tanpa Aad. Kantor pindah lagi ke daerah Kampung Melayu Kecil. Karena Bambang anaknya sudah nambah gak cocok lagi berbagi ruangan dengan Ummi. Akhirnya aku yang tugas nunggu kantor. Mimih sedih aku keluar dari rumah gang Duren. Tapi ya mau bagaimana lagi tugas negara memanggil. Gang Duren Utan Kayu-Kampung Melayu gak terlalu jauh. Jadi kami sering nengok mimih.

Ternyata bete juga ya berkantor di rumah. Soalnya kita gak kemana-mana. Pindah kamar doang. Rumah kampung Melayu ini cukup besar 2 lantai. Agak masuk gang kecil tapi masih bisa masuk mobil. Daerah perumahan padat dan langganan banjir. Karena letaknya tak jauh dari bibir kali ciliwung. Pernah waktu banjir besar air hampir masuk rumah. Sementara tetangga beda RT yang letaknya di bawah air kali sudah hampir sampai atap rumah.

Aku dan keluarga kecil dengan anak satu tempatin lantai bawah. Sementara lantai atas buat kantor Ummi. Kantor masuknya dari pintu samping bukan pintu utama. Jadi privacy gak terganggu. Aku lupa di kampung melayu ini Ummi satu tahun atau 2 tahun. Yang jelas buat aku ini pelajaran bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Rumah ini letaknya di perkampungan padat. Dengan tetangga rumah saling dempet. Sebagai keluarga baru dan pendatang tentu mesti bisa menyesuaikan diri. Alhamdulillah aku gak pernah kelahi sama tetangga.

Sementara itu suami isteri Dadi dan Septi bikin majalah but remaja. Namanya Annida. Annida waktu itu terbit tahun 1991. Septi sebagai pemimpin redaksinya, Dadi sebagai pimpinan usaha. Suami isteri ini selain usaha katering juga mulai berdakwah ke kalangan remaja muslimah lewat majalah. Bedanya dengan Ummi yang redaksinya bapak bapak. Septi merekrut mahasiswi UI yang masih gadis belia. Selain Septi yang lulusan IKIP Jakarta ada beberapa mahasiswi UI yang gabung antara lain Helvy Tiana Rosa, Dian Yasmina Fajri, Inayati, Dewi Fitri Lestari dan Haula Rosdiana. Lo masih inget aja Brur kalo nama lengkapnya anak anak gadis cantik?

Jadi begini ceritanya kenapa aku inget bener nama nama mereka. Dua tahun Annida yang dirintis Dady dan Septi tirasnya stag gak naik naik. Dulu andalan pemasukan majalah kita ya cuman tiras. Belum ada pemasukan dari iklan. Maka kalau tiras cuman sedikit ya pasti gak nutup ongkos produksi. Alias rugi. Aku usul sama Indra supaya Annida bergabung aja jadi satu manajemen. Ya dengan syarat kebijakan redaksionalnya kita yang atur. Aku lihat majalah Annida ini segmennya remaja tapi pendekatan redaksionalnya dewasa. Rubrikasinya terlalu banyak dan kesannya ‘menggurui’ mereka. Gak cocok.

Jaman itu ada majalah Anita Cemerlang. Isinya cerita pendek dan cerita bersambung sama hiburan ramalan bintang. Laku keras. Maka saya usul dibawah manajemen Ummi nanti kita ubah Annida jadi seri kisah Islami. Isinya ya cerita pendek dan cerbung tapi nuansanya islami. Bukan sekedar cinta cintaan aja. Tim redaksi Ummi setuju. Akhirnya aku yang lobi Daddy dan Septi.

Daddy dan Septi ini kan ‘mertua’ku hehe. Jadi gak susah meyakinkan bahwa Annida nanti punya prospek bagus buat dakwah di kalangan remaja. Tentu dengan sentuhan yang beda. Akhirnya deal. Tahun 1993 Annida resmi gabung dengan Ummi dengan sentuhan gaya baru. Jadilah majalah Seri Kisah-kisah Islami Annida dengan redaksi yang sama tapi gaya berbeda. Yang berubah cuman pemimpin redaksinya aja. Tadinya Septi sekarang aku ditugaskan manajemen Ummi jadi pemred Annida.

Jadi kenapa akutuh kenal bener nama nama mahasiswi Ui redaksi Annida itu karena hampir tiap pekan rapat sama mereka. Para mahasiswi kampus ternama dengan talenta luar biasa. Pemrednya anak IISIP gak jelas lulusnya kapan. Gak bisa bikin cerpen pula. Haha. Biasa rapat sama bapak bapak ngurus Ummi. Sekarang rapat bareng para gadis ngurus cerpen.

Cerita HTR Alhamasah nama pena Helvy waktu itu yang judulnya Ketika Mas Gagah Pergi menandai era baru sastra islami di indonesia. Dia jadi cover dan cerita utama. Annida gaya baru edisi pertama itu habis tak tersisa. Kita para redaksi makin ceria dan tambah semangat. Akhirnya sesuai dengan prediksi. Cerita islami mulai digemari. Menjamur menggurita. Bukan hanya di majalah Annida saja. Tapi sudah merambah ke penerbit buku.

Emang lo bisa Brur bikin cerpen? Kan anak buah pada jago jago semua? Masak pemrednya malah kagak bisa bikin cerpen? Ya habis gimana. Kita cuman punya ide doang. Yang pinter pinter kan mereka. Udah syukur alhamdulillah mereka mau dipimpin sama mabruri yang dhoif ini. Jadi. Di Annida aku gak nulis cerpen tapi cuman pegang rubrik Kafe Nida sama bikin skrip buat komik Senyum Nida.

Rubrik Kafe Nida ini cuman satu halaman, Pembaca bertanya Nida menjawab. Pertanyaan dikirim lewat kartu pos. (Dulu belum ada WA. Maap) nanti saya yang tugas jawab. Jawabannya biasanya ngaci bener. Tanya apa jawabnya apa. Gak nyambung. Tapi lucu. Di bagian belakang majalah Annida ada komik strip Senyum Nida. Si Nida Ciri khasnya jilbab panjang yang ujungnya meliuk kayak keris, sama kaca mata Nida yang framenya gede nenggelamin hidung Nida. Aku yang bikin naskah skrip. Nanti Fauzi yang bikin gambar komiknya. Ini juga bikin ngakak para akhwat jaman dulu. Walopun sering garing sik leluconnya. Tapi mayan dah.

Yah. Alhamdulillah Annida dan Ummi terus berkembang. Dengan ide dan kreasi baru. Pola pemasaran yang baru juga. Dan sistem keagenan yang lebih terbuka. Aku sekarang hidup di dua kaki. Di majalah Ummi sebagai redaktur. Di Annida sebagai pemred. Enak dong Brur gaji dobel? Enak apaan? Gaji mah tetep. Kerjaannya aja nambah jadi dobel. Tapi aku hepi kok. Santuy aja.

#22KAYUMANIS1

Kantor Ummi di Kayumanis 1 ini gak lama. Posisinya hampir dekat ke arah jalan Pramuka. Seberang rel kereta api nanti ketemu pasar burung Pramuka. Seingat aku cuman beberapa bulan saja. Kantor ini rumah kontrakannya Adriano Rusfi pimpinan Ummi. Di sampingnya ada semacam paviliun. Karena kita redaksi cuman berlima jadi kantor sering sering pindah juga gak masalah. Barang cuman sedikit dan gak bakalan ada klien yang datang juga.

Adriano Rusfi atau biasa dipanggil bang Aad ini bukan turunan Meksiko tapi urang awak asal Sumatera Barat. Badannya kecil imut tapi nyalinya gede. Kalau nulis tajam dan kalau punya mau susah dilawan. waktu itu Ummi mau mulai ekspansi. Masuk tahun ketiga mesti ada perubahan. Format yang tadinya mungil seukuran buku tulis anak SD mulai berubah agak besar dikit. Untuk menggenjot tiras mesti buka keagenan yang lebih luas. Selama ini keagenan Ummi basisnya masih kampus. Agennya anak mahasiswa aktivis islam yang nyambi jualan Ummi buat nambah biaya kuliah. Belum ada keagenan yang profesional.

O ya selain Ummi yang sudah terbit ada juga majalah yang lebih dulu eksis yaitu Sabili. Kalau Ummi terbit mulai 1989, Sabili yang dikomandoi Zainal Muttaqin terbit 1988. Sabili lebih galak isinya. Pembelaan kepada politik keumatan sangat kental. Zainal Muttaqin mahasiswa politik di UI. Biasanya aktivis islam saat itu kalau beli majalah atau ngeagenin majalah selalu couple Sabili dan Ummi. Sabili buat konsumsi politik dan wawasan keislaman. Ummi buat para muslimah membangun keluarga islami.

Balik lagi ke Adriano Rusfi. Dia punya ide untuk cantumin daftar agen Ummi se Indonesia. Maksudnya agar orang yang mau langganan bisa langsung kontak alamat dan no telpon yang ada di majalah itu. Maksudnya bagus buat pengembangan Ummi ke depan tapi ada faktor keamanan ketika nama nama agen diumumkan beserta alamat lengkap dan nomor kontaknya.

Maka pada Ummi terbitan terbaru di cetak nama agen seluruh Indonesia. Ditaruh di halaman 2 cover depan dan halaman 3 cover belakang. Setelah majalah jadi semua ternyata ada yang protes berkaitan pemunculan nama nama agen itu. Dalihnya masalah keamanan dakwah yang masih rawan dan terbacanya peta dakwah gerakan tarbiyah di masa itu. Akhirnya diputuskan agar daftr nama agen itu ditarik sebelum Ummi diedarkan. Nah, masalah muncul trkait teknis ‘penghilangan’ nama agen itu, Mau bikin cover baru dan ganti cover lama. Atau menghapus dengan tiner daftar agen itu.

Kalau yang pertama akan nambah biaya. Ummi gak punya duit. Kalau opsi kedua waktunya bakal lama. Karena proses menghapus dengan tiner ini gak bisa cepat. Majalah dibuka, ambil kapas celupin tiner kemudian menggosok daftar agen yang sudah tercetak di halaman 2 dan 3 cover. Kebayang kan ribetnya?

Tapi walau ribet karena biaya murah yang diambil opsi 2. Jadilah kita kerja keras berhari-hari ngapusin cetakan pakai tiner. Oplah waktu itu sekitar 10 ribu eksemplar. Kebayangkan pegelnya? Nah hal inilah yang bikin Aad konflik dengan pengurus Ummi lainnya. Aad anggap gak masalah pencantuman nama agen itu. Tapi Indra, Bambang dan aku serta yang lainnya maunya dihapus demi keamanan. Mulailah pecah di dalam Ummi. Kata sepakat gak kunjung tiba. Ujung-ujungnya Aad cabut. Indra Sakti menggantikan posisi Aad.

Itulah khas orang-orang media. Kalau ide idenya gak tersalurkan ya cabut. Bikin yang baru lagi. Majalah majalah nasional waktu itu juga banyak pengelolanya yang konflik. Majalah Gatra sebagian pimpinan dan wartawannnya bikin majalah Gamma. Sebelumnya awak Gatra juga dulu bekas awak Tempo yang gak puas dengan pengelola majalah Tempo.

Jadi jangan dikira semua berjalan mulus mulus aja. Sabili yang dipimpin Zainal Muttaqin juga gak sepi dari konflik baik di awal terbit maupun saat Sabili sudah besar. Dulu selain Sabili muncul juga majalah Ishlah. Salah satu sebab munculnya Ishlah kalau tak salah juga karena gak cocok dengan manajemen Sabili pimpinan Zainal Muttaqin.

Mengelola gagasan dari banyak kepala memang bukan perkara mudah. Walau sama sama lahir dari rahim tarbiyah tapi tak semua pikiran bisa diseragamkan. Kalau kaos partai mah gampang diseragamin. Tinggal order ke konveksi. Yang susah memang mempersempit jurang perbedaan.

Ummi tetap lanjut kok. Walau pimpinan berganti tapi misi menyebarkan gagasan tak boleh berhenti. Di bawah komando Indra perlahan tapi pasti Ummi makin besar. Badan hukum yang menjadi landasan legal sebuah penerbitan juga mulai diurus.

Yup. Lanjut!

#21CIPINANG

Kantor Ummi di Cipinang Ketoprak ini paling gak berkesan buatku. Yang tinggal di kantor ini bukan Bambang Sunaryo. Tapi Riyadh Rosyadi adik iparnya Bambang. Rosyad demikian biasa dipanggil orangnya pendiam. Ganteng dan pintar mijit. Pernah ada syaikh dari Kuwait berkunjung ke Indonesia. Sakit terus dipijit Rosyad terus sembuh. Rosyad kemudian diajak ke kuwait dan tinggal disana sekitar 6 bulan khusus buat mijit.

Rosyad adik kelas di SMA 31. Dia mecahin rekor nikah paling cepet saat usia 21. Kalau tak salah sekarang Rosyad pimpinan pesantren di Gorang Gareng Magetan. Kampung halaman orangtuanya. Pernah juga Rosyad jadi anggota DPRD dari PKS.

Kenapa kantor Ummi disini kurang sip? Posisinya pinggir jalan bener. Berisik mobil lalu lalang. Halamannya kecil. Buat parkir motor aja 3 biji udah penuh. Rosyad yang tinggal di kantor kerjanya gak di Ummi. Jadi kurang nyambung. Pokoknya kantor Ummi disini paling gak asik.

Sementara habis nikah kemarin aku gak tinggal di Matraman lagi. Pindah ke rumah mertua di gang Duren. Kalau ada yang gak tahu gang Duren dimana, letaknya deket AlManar masjid Dakwah Islam. salah satu syarat aku diterima jadi mantu adalah mesti tinggal di gg duren. Karena mimih (panggilan ibu mertua) tinggal berdua sama isteriku. Jadi kalau ada aku. Di rumah ada anak lelakinya.

Ya emang udah rezekinya mabrur lah. Lagian emang lo mau tinggal dimana brur? Duit udah kagak punya. Sarung aja waktu nikah pinjem ama Bambang. Mau ngontrak rumah juga paling gak punya duit. Memang Allah sudah atur rapih banget. Mertua pengen dapat mantu yang rumahnya deket dan bisa nemenin di rumah. Soalnya kakak isteriku tahun sebelumnya nikah langsung dibawa ke Makassar sama suaminya. Makanya dapat mantu Mabruri seneng bener. Tinggal masih satu kecamatan. Kerja deket sekitar utan kayu-rawamangun. Anaknya juga baik. Gak pernah gigit. Tampangnya sik gak ganteng ganteng amat. Gakpapa deh yang penting setia. Yegak?

Isteriku waktu nikah masih kuliah di Ma’had Al Hikmah jalan Bangka Jakarta Selatan. Al Hikmah pimpinan ustadz Hasib selain bikin ma’had juga buka Madrasah Aliyah. Tugasku selain jadi suami juga nganter isteri kuliah. Biasanya isteri naik bus Mayasari Bakti jurusan Pulo Gadung -BlokM. Naiknya dari halte lapangan golf Rawamangun. Sekarang ada aku yang nganterin. Alhamdulillah janji Allah emang pasti. Anak muda disuruh nikah. Kalau dia miskin nanti Allah kasih kekayaan. Aku yang nikah modal nekad doang beberapa pekan setelah nikah bisa beli vespa bekas. Warnanya cokelat tua dan harganya miring. Cuman 350 rebu. Dengan vespa itu aku anter jemput isteri kuliah. Pokoknya penganten baru mesra bener deh kalau udah goncengan. Kayak pelem Galih dan Ratna.

O ya. Isteriku ini tingginya sepantaran aku. Umurnya lebih muda setahun. SMA nya di Muhammadiyah 12 Rawamangun. Sejak SMA sampai kuliah katanya banyak cowok yang pengen jadi pacarnya. Dari mulai yang pake kode kodean. Sampai yang terang-terangan nyamperin ke rumahnya. Cuman semuanya ditolak. Dia takut sama cowok katanya dan gak mau pacaran. Terus kenapa mau sama Mabrur? Dia juga bingung kenapa sama Mabruri dia malah mau. Gak pernah kenal. Gak pernah lihat sebelumnya. Tapi pas dilamar langsung terima. Padahal aku gak pernah belajar ilmu pelet atau sebangsanya. Syirik!

Aku percaya kalau dulu waktu masih gadis banyak cowok yang demen sama isteriku. Untuk ukuran akhwat isteriku termasuk tinggi. Hampir 170 cm. Wajahnya mirip artis Ida Royani. Malah kalo aku bilang cakepan isteriku. Kalau pakai baju juga matching antara gamis sama kerudung. Dandan pake macem macem gak pernah. Paling pake bedak tipis tipis. Lipstik aja aku seumur nikah sampe sekarang belum oernah beliin. Kalau becandaan anak sekarang Mabruri dapat isteri Cici ini anugerah. Cici dapat suami Mabruri musibah. Haha. Bisa aaeee…

Karena aku suka anter isteri ke Alhikmah akhirnya aku ditawari ngajar Jurnalistik di Aliyah. Begitu juga di Ma’had al Hikmahnya. Alhamdulillah rezeki Allah sudah atur. Selain di Ummi aku dapat penghasilan tambahan dari Alhikmah. Emang bener nikah ini bikin tambah kaya.

Gak pake lama selang setahun habis nikah isteriku melahirkan bayi perempuan. Selama hamil periksanya di bidan Suminem jalan Nanas. Rencana melahirkan juga di bidan. Tapi ternyata posisi bayi sungsang. Bidan gak berani dan kasih rujukan ke rumah sakit Persahabatan Rawamangun. Aku pasrah. Pas masuk ruang bersalin diusir sama dokter gak boleh masuk. Doa supaya gak lahir sesar. Masalahnya duit buat operasi kagak punya. Alhamdulillah walau lahir sungsang pantat duluan tapi tidak operasi sesar.

Di halaman pertama majalah Ummi ada susunan redaksi. Walau semua redaksi laki laki tapi ada satu nama perempuan. Raida Rumaisha. Ya itu nama samaran aku. Aku udah rencana kalau punya anak perempuan mau dinamain Raida Rumaisha. Nama penaku di majalah Ummi. Allah kabulkan doaku. Lahir perempuan. Isteri manut aja anaknya dinamain seperti itu. Kedengarnnya bagus. Raida artinya pemimpin perempuan. Rumaisha nama sahabiah nabi Saw. yang biasa dipanggil Ummu Sulaim.

Selain aku dan isteri yang bahagia dapat anak perempuan. Mertua juga seneng. Rumah tambah rame.

#20GANGDUREN

Setahun kerja di Ummi lumayan banyak pengalaman. Kalau selama ini hanya teori menulis yang diajarin di kampus, sekarang langsung dipraktekin. Aku bersyukur kuliahku sama kerjaanku related bener, istilahnya anak jaksel. Kan banyak orang yang antara kuliah sama kerjaan gak nyambung. Kuliah di pertanian tapi kerjanya di bank. Haha.

Cuman yang gak tahan kerja di Ummi ini tiap hari di bulli karena diojok-ojok suruh nikah. Soalnya yang lain udah pada married. Biasalah. Sekarang juga begitu sik. Kalau satu geng ada yang belum nikah dia jadi sasaran bulli. Btw sampe sekarang ada lo geng nongkrong aku waktu kuliah dulu belum nikah. Tapi jodoh ini emang misteri sik. Mirip rezeki, kadang ia datang dari arah yang tak terduga.

Sama seperti waktu aku masuk sekolah kecepatan. Nikah aku juga keknya rada prematur. Umurku waktu nikah baru 23 tahun lewat 40 hari. Proses nikahnya juga gercep. Model nikah para aktifis jaman itu yang rada rada gak ada akhlak sama keluarga.

Setelah dikasih pencerahan pentingnya nikah buat aktifis dakwah akhirnya aku pasrah. Doktrin nikah saat itu adalah lebih cepat lebih bagus agar kita terhindar dari maksiat. Gak ada aturan lulus kuliah dulu baru nikah. Buat nikah gak perlu nunggu kaya, karena setelah nikah nanti Allah akan mencukupi kebutuhan kita. Sebelum nikah gak boleh pacaran bolehnya ta’aruf aja.

Dari 4 doktrin itu aku sih oke aja. Cuman yang terakhir aja udah kejadian. Berarti aku gak boleh sama temennya mbak Yayuk yang di kampus dong? Gak lama Bambang nyodorin biodata akhwat murid binaan istrinya. Aku baca dan pelajari. Oke kita liat dulu orangnya. Soalnya kalau cuman liat fotonya kita agak agak gimana gitu. Kan banyak kejadian antara foto dan kenyataan terjadi penyimpangan yang cukup ekstrem.

Maka di suatu sore sepulang kerja itu akhwat ceritanya main ke rumah Bambang dan isterinya. Aku pulang kerja nunggu aja di ruang belakang tempat kantor Ummi. Kan rumahnya Bambang sama kantor Ummi disitu-situ juga. Terus si akhwat ini ceritanya diajak ke belakang. Aku disuruh ngeliatin. Kira kira di hati ada ser seran gak? Deg degan gak liat mukanya? Belum sempat komunikasi sih sama itu akhwat. Aku bilang sama Bambang gak usah diterusin dah ya. Entah kenapa batinku gak sreg aja. Jadi kita stop sampai disitu.

Alternatif ke-2 ada yang nawarin temannya Bambang. Namanya Dady Kusradi dia punya murid binaan lagi mau dicariin suami. Dady nyodorin data akhwatnya. Rumahnya di gang Duren Utan Kayu. Anak bungsu dari 7 bersaudara. Dady bilang tahun lalu aku jadi panitia walimahan kakaknya yang nikah sama ikhwan lulusan STAN dan langsung tugas di Makassar.

Aku iyain aja dah. Habis liat biodata dan foto poscardnya yang pake jilbab guede warna coklat aku putuskan buat ketemua. Aku ingat ketemuan sama itu akhwat dilaksanakan pekan pertama ramadhan di rumah kontrakan Dady di jalan Gading Raya. Ditemani suami Isteri Dady dan Septi aku dikenalkan sama akhwat itu. Di ruang tamu kita pertemuan singkat aja gak sampai sejam. Aku sih iya. Gak tahu dianya.

Sebelumnya aku gak pernah kenal calon isteriku ini. Dia juga gak pernah liat tampangku beredar di sekitar Utan Kayu. Tapi kata Dady dianya oke aja. Gak jadi masalah miskin juga dan belum selesai kuliah. Yang penting ikhwan sejati. Haha.

Singkat kata melalui perantaraan Dady aku akhirnya sepakat mau khitbah 2 pekan lagi. Emang rada gokil ini si Brur. Gak pake napas panjang anak orang langsung di geber aja. Maka pada suatu malam di bulan ramadhan aku ajak ibuku ngelamar ke gang Duren rumah calon mertua. Situwesyen di rumahku juga sebenarnya kurang kondusip. Pasalnya mbak mbakku gak setuju aku nikah secepat ini. Apalagi kuliah belum beres. Kerjaan juga gak jelas jelas amat.

Tapi dasar emang si Mabrur udah kalap apa keinginannya mesti diturutin. Ini jihad! Maka ngelamarlah aku berdua aja sama ibuku. Ngelamar juga gak bawa apa apa. Bawa badan doang sama modal nekad. Dari pihak isteri ada ibunya, mamangnya dan kakak laki lakinya. Bapaknya sudah lama meninggal.

Mang Dayat adik ibunya yang jadi tuan rumah sebenarnya gak mau terima lamaran aku. Dia masih trauma dengan pernikahan kakaknya calon isteriku yang tahun lalu prosesnya aneh bin ajaib. Tamu undangan laki dan perempuan di pisah. Udah gitu pengantin juga gak duduk bareng. Yang laki sama mertua dan ortu laki. Yang perempuan di ruangan lain sama ibu dan mertua perempuan.

Ini aliran islam apa? Islam ekstrem. Ajaran Khomeini? Begitu kira kira pertanyaan mang Dayat, mamangnya calon isteriku. Belum selesai kegegeran tahun lalu kakaknya, sekarang adiknya mau bikin gara gara lagi. Dengan cara nikah yang gak lazim pada saat itu. Tapi karena calon isteriku udah diwanti wanti sama Dady supaya terima akhirnya ya dengan terpaksa lamaran diterima.

Yang bikin runyam lagi adalah acara nikah dan walimah aku minta dilaksanakan habis lebaran. Dalam tempo yang singkat dan seksama kayak teks proklamasi 1945. Emang lo punya duit berapa brur sok ngatur ngtur begitu? Nah itu masalahnya kita juga gak punya duit banyak. Buat acara walimahan emang kita nyumbang sih. Duit seuprit gitu palingan juga cuman bisa buat beli daging buat di rendang sama capcai doang.

Akhirnya pernikahan berlangsung juga. Sebulan setelah lebaran. Tepatnya 5 Dzulqaidah 1411 H. Tempat di rumah calon isteri. Tapi minus kehadiran dari ibu dan saudara saudaraku. Jadi ceritanya karena akunya terlalu ngotot memaksakan kehendak dan gak ada akhlak sama keluarga besar. Aku juga waktu nikah ngelompatin 2 kakak perempuanku. Sesuatu yang kurang elok di adat keluarga suku jawa. Jadi Mabrur silakan nikah tapi keluarga besar gak ada yang akan hadir.

Malam sebelum besok ahad nikah aku nginep di kantor Ummi. Rencana besok pagi berangkat dari kantor. Malam itu aku sendirian di kantor. Makan nasi goreng beli sama abang gerobak yang lewat karena laper. Gak lama Indra datang bawain setelan jas bekas dia nikah tempo hari. Abis dicoba ternyata pas. Alhamdulillah. Karena bawaanku cuman satu tas kecil aja, banyak yang ketinggalan di rumah Bearland. Cuman mas kawin aja yang inget kebawa. Sarung aja aku minjem sama Bambang.

Paginya aku dijemput naik vw kombi punyanya Yusuf Budiman. Yusuf ini adek kelas di IISIP. Salah seorang anak buah hasil pengkaderan selama di kampus. Diantar ke gang Duren Utan Kayu. Jam 9 akad nikah berlangsung. Cuman yang bikin kesel pihak keluarga isteri adalah kenapa ibu dan saudara saudaraku pada gak datang?

Dulu sik kita anggap gagah nikah model seperti ini. Tapi setelah direnungi saat sekarang banyak kesalahan yang mesti diperbaiki buat para da’i. Pola komunikasi yang memaksakan kehendak. Tidak mau kompromi dan mau menang sendiri. Merasa diri dan kelompoknya saja yang benar. Ini tak boleh terjadi saat sekarang. Alih alih kita mau menyambung silaturahim dan persaudaraan dengan wasilah pernikahan yang terjadi malah kesalahpahaman dan permusuhan.

Trus gimana nasip temen lo yang katanya udah jadian di kampus? Yang suka dianterin pulang kuliah? Nah itu juga kesalahan fatal si Brur. Alih alih mau dakwah eh malah bikin patah hati. Gak pake ngomong. Gak pake introduce maen kabur gitu aja. Emang hati perempuan dibikin dari apa brur? Payah mabrur dah 😔

Inget ye brur jangan diulangin lagi yang kayak begito! Lo ntar kalo mo nikah lagi yang bener, jangan sradak sruduk kayak dulu.

Ashiap bos!