#33MEMPHIS

Salah satu yang terkenal di Memphis adalah Graceland. Istana yang sekarang jadi museum legenda musik rock and roll Elvis Presley. Belum afdol ke Memphis kalau belum mampir ke rumah dan sekaligus makam Elvis Presley.

Walau aku gak begitu tertarik musik tapi melihat museum Elvis ini jadi mikir. Hebat benar Elvis ini. Dengan menyanyi rock and roll bisa meninggalkan kekayaan budaya yang keren. Gak main main jutaan orang dari seluruh dunia jadi fansnya. Dan orang dari penjuru dunia rela untuk datang ke rumahnya sekedar mengenal lebih dalam Elvis.

#32NEWYORK

Ini kota gak ada matinya. Selalu berdenyut pagi siang sore malam. Sepertinya hampir semua bangsa di dunia ada di New York. Setelah 3 hari di Washington DC kami 10 rombongan wartawan Indonesia bergeser ke kota New York melalui darat.

Kalau selama ini lihat suasana New York di film film Hollywood kini kita bisa langsung merasakan getarannya. Gedung pencakar langit di kiri kanan jalan utama. Trotoar berasap yang muncul dari saluran drainase bawah tanah. Central Park yang membelah kota. Dan tentunya merasakan transportasi umum subway.

KBRI New York dan rumah dinas duta besar Indonesia untuk PBB jadi singgahan pertama. Setelah itu tentu mengunjungi ground zero. Lokasi menara kembar WTC yang hancur di bom pada peristiwa 11 September 2001. Sebenarnya bukan hanya 2 menara kembar WTC yang hancur. Ada total 10 termasuk 7 gedung dan plaza WTC yang terletak di kawasan lower Manhattan tersebut.

Yang terpenting dari kunjungan ke New York adalah Islamic Cultural Center. Sebuah pusat kebudayaan Islam yang terletak di 3 Avenue antara jalan 96 dan 97. Masjid yang dibangun pada 1987 ini baru selesai dan digunakan pada April 1991. ICC NY jadi masjid pertama dan terbesar di NY.

Salah satu imam masjid saat itu adalah ustadz Shamsi Ali asal Indonesia. Kami berdiskusi hangat tentang kehidupan keislaman warga Amerika pasca peristiwa 911. Salah satu hikmahnya adalah ketertarikan orang Amerika pada Islam. Dan ternyata gelombang warga Amerika yang masuk Islam bertambah pesat sejak 911. Mereka penasaran atas stigma yang digulirkan media bahwa ajaran Islam identik dengan kekerasan dan terorisme. Sikap kritis masyarakat Amerika ternyata justru sebaliknya semakin mereka pelajari Islam semakin yakin bahwa Islam pembawa kedamaian.

Ustadz Shamsi menceritakan bahwa hampir tiap hari di masjid ICC NY ada warga yang bersyahadat. Karena sebelumnya saya pribadi sudah kenal dengan ust Shamsi beliau menawarkan untuk ngajak sarapan keesokan harinya. Beliau janji akan jemput saya di hotel dan sarapan di sekitar Queens tempat tinggalnya.

Esoknya saya sudah sarapan di sebuah resto halal milik warga keturunan Pakistan. Berdua berbincang dengan ust Shamsi kami bicara masalah dakwah di Amerika khsusnya di NY city. Pengunjung resto rerata sudah mengenal ust Shamsi. Mereka menyapa dan ucapkan salam. Oh ya di daerah Queens ini ada masjid Al Hikmah yang didirikan oleh komunitas orang Indonesia yang tinggal di NY. Tempat para diaspora Indonesia berkumpul dan berkegiatan.

Tak lengkap rasanya ke NY tapi tak mampir ke patung Liberty. Salah satu icon NY terletak di sebelah selatan pulau Ellis. Untuk kesana kita mesti naik kapal ferry. Sayang waktu itu tidak bisa masuk ke dalam patung karena sedang ada perbaikan. Jadi cuman puas poto poto dengan latar belakang patung Liberty.

Pulang dari patung Liberty aku terpisah dari rombongan! Keasyikan nawar kaos oblong saat mau masuk stasiun kereta bawah tanah aku di tinggal. Celingak celinguk semua kawan sudah gak ada di sekitar. Aku bergegas ke bawah stasiun ternyata mereka juga sudah tak kelihatan. Dengan modal bahasa inggris pas pasan aku nanya ke petugas. Ke peron mana aku mesti naik kereta dan turun dimana nanti. Untungnya aku bawa cover kunci hotel yang ada nama dan alamat hotelnya. Mau naik gojek tapi dulu belum ada 😊

Singkat cerita setelah beberapa kali bertanya akhirnya aku sampai juga di hotel. Aku dikasih selamat sama kawan kawan wartawan. Selamat jadi Newyorker Brur. Kesasar sendiri di kota New York tapi bisa pulang ke hotel lagi tanpa diantar polisi 😀

#brurmabrur #selfiegrafi #365harimenulis

#31WASHINGTONDC

Gak kebayang bisa pergi ke tempat jauh. Secara aku cuman wartawan majalah wanita muslimah. Bukan dari grup media besar pula. Tapi kalau rezeki memang gak kemana.

Tahun 2004 bersama 10 wartawan nasional diundang kemenlu Amerika Serikat buat kunjungan ke negeri Paman Sam. Saya waktu itu Pemred majalah Ummi. Yang lain dari Kompas, Suara Pembaruan, Waspada, Singgalang, Serambi Indonesia, majalah Gontor dll.

Selama 2 pekan kita diservice sama Amerika. Tiket, akomodasi dan lain lain disiapkan. Kita cuman disuruh bawa badan. Amerika ini kalau dari Indonesia jauh banget. Naik pesawat aja sekitar 21 jam jarak tempuhnya. Kalau di bola dunia letak Indonesia ini punggung punggungan sama Amerika. Kalau disini jam 10 pagi disana jam 10 malam.

Tajuk kunjungan para wartawan Indonesia ke Amerika adalah Pluralisme dan Toleransi Kehidupan Beragama di Amerika Serikat. Nantinya kita berkunjung ke komunitas Yahudi, Kristen dan Islam yang ada di AS.

Buat majalah Ummi ini sesuatu yang mengejutkan. Kenapa Ummi masuk radar Amerika? Apa hebatnya majalah Ummi? Kenapa dipilih? Kenapa tidak majalah lain yang lebih top?

Asal tahu aja. Beberapa hari sebelum berangkat ke Amerika aku masih jadi panitia demonstrasi Tolak George Bush datang ke Indonesia. Aku ingat tempatnya di Tugu Proklamasi Jakarta Pusat. Sejarah mencatat Amerika melakukan invansi ke Irak pada Maret 2003. Alasannya Irak punya senjata pemusnah massal. Tapi sampai Saddam Husein pemimpin Irak tumbang. Ternyata tidak ditemukan itu yang namanya senjata pemusnah massal. Yang ada hanyalah penderitaan rakyat Irak akibat digempur Amerika.

Washington DC adalah kota pertama yang kita singgahi. Ini ibukota Amerika. Gedung Putih tempat presiden Amerika bekerja ada di kota ini. White House jadi salah satu destinasi yang kita kunjungi. Walaupun tidak di gedung utama tapi pernah lah kita masuk Gedung Putih.

Saya kira ide presiden RI Jokowi bikin IKN di Kalimantan terinspirasi dari Amerika ini. Pusat pemerintahan ada di Washington DC sementara pusat bisnis tersebar di beberapa ibukota negara bagian seperti New York, Los Angeles, San Fransisco, Chicago dan lain lain.

Kunjungan wartawan Indonesia ke Amerika ini berselang 3 tahun setelah tragedi 911 tahun 2001. Dua menara kembar WTC World Trade Center di kota New York hancur dihantam pesawat terbang komersial berisi penumpang. Amerika ingin menunjukkan ke Indonesia bahwa mereka perang terhadap terorisme. Dan diharapkan Indonesia mendukung langkah Amerika.

Padahal dalam kacamata aku sebagai seorang wartawan majalah Islam. Ya Amerika setelah Uni Sovyet bubar maka musuhnya sekarang adalah Islam bukan komunis. Proyek melawan ‘terorisme’ inilah yang kemudian jadi andalan Amerika untuk memimpin dunia.

Oh ya kami hanya tiga hari di Washinton DC. Selain White House kita juga kunjungi berbagai museum yang ada di kota itu. Banyak sekali museumnya dan keren keren.

Aku manfaatkan disela waktu luang untuk kontak kawan pengurus PKS Amerika. Waktu itu ketuanya bro Barokah Widodo. Kebetulan tinggalnya dekat dari Washington DC. Cuman beberapa kilometer apartemennya dati Pentagon pusat komando tentara AS. Aku sempat menginap semalam dan ngobrol politik. Besoknya aku diantar kembali ke hotel tempat menginap di Washington DC.

Dari tempatnya Barokah aku sempat adain ‘konferensi’ by phone dengan teman teman PKS yang ada di negara bagian lain. Lumayan lebih dari sejam kita ngobrol lewat telepon. Dulu belum ada WA video group. Jadi kita cuman dengar suara aja. Itu aja kita sudah seneng bener.

Pulang dari Amerika aku bikin tulisan berseri di majalah Ummi. Lagi dicari arsip majalahnya. Nanti kalau sudah ada mau discan dan ditaruh link nya disini biar bisa diakses.

Intinya kalau kita serius ngerjain profesi kita maka Allah akan kasih jalan buat kita tambah berkembang. Siapa sangka Mabruri yang dulu cuman reporter majalah Ummi, bahasa Inggrisnya jelek, belum ada pengalaman liputan nasional eh malah bisa meliput ke luar negeri. Amerika pula.

Yuk ah kita seriusin kerjaan kita. Biar hasilnya juga berkah dan manfaat buat ummat.

#brurmabrur #selfiegrafie #365harimenulis

#30PADANG

Padang jadi kota yang paling sering dikunjungi dibanding kota lain di Sumatera. Jaman sebelum reformasi 1998 pernah ke Padang sendiri naik bus ANS. Ada perkemahan para da’i di sekitar danau Singkarak. Aku waktu itu jadi semacam pelatih untuk kegiatan perkemahan itu. Ada sedikit insiden dengan warga di sekitar tempat perkemahan. Mereka datang bawa golok dan mengusir para peserta dari lokasi kemping. Tapi alhamdulillah berkat pendekatan dari panitia kita tetap bisa pakai tempat kemping itu. Aku gak ngerti perundingannya gimana. Soalnya mereka pake bahasa minang.

Usai acara perkemahan da’i aku gak langsung pulang. Diajak naik motor ke Bukittinggi sama Ridwan. Ridwan ini nama aslinya Darwin tapi entah kenapa dipanggilnya Ridwan. Mungkin dia gak enak nama aslinya sama dengan penemu teori evolusi manusia, Darwin. Takut jadi tersangka pendukung manusia asalnya dari monyet kali si Ridwan. Ridwan ini mahasiswa Unand asal Bukittinggi. Badannya kecil, gempal dan rambut ikal. Wajahnya selalu tersenyum. Napasnya panjang dan urat capeknya udah ikang. Selama perkemahan aku dibantu sama Ridwan ‘melatih’ para da’i untuk kebugaran fisik.

Ke Padang naik mobil pribadi rame rame dengan kawan juga pernah. Sering malah. Biasanya gak cuman ke Padang aja tapi sebelumnya mampir dulu ke kota kota lain. Yang menjadi catatan penting adalah aku pertama kali merasakan naik pesawat terbang ya ke Padang ini. Waktu itu ada tugas menyampaikan bantuan dana wakaf buat pembangunan masjid yang dikelola yayasan Madani di daerah Air Tawar. Ada komponen perjalanannya yang senilai tiket pesawat. Jadilah aku diutus menyampaikan bantuan langsung ke yayasan itu. Waktu itu harga tikep pesawat lebih mahal sekitar 5-6 kali lipat dari harga. Wajar kalau aku pilih pulang naik kendaraan umum. Soalnya tiket berlaku hanya sekali jalan. Pesawatnya Mandala bukan Garuda. Seneng bener aku waktu itu bisa ngerasain naik pesawat terbang.

#29MERAK-BAKAUHENI

Pernah di ulang tahun Annida yang keberapa aku lupa, Helvy ngusulin bikin buku antologi cerpen kru Annida. Judulnya 9 Mata Hati. Sembilan ini jumlah kru Annida waktu itu; Mabruri, Septi, Helvy, Dian, Avi, inayati, Haula, Dianti dan Mala. Masing -masing bikin dua cerpen jadi total ada 18 cerpen yang ada di buku itu. Yang bingung kan aku. Walau pemred Annida tapi aku kan gak pernah bikin cerpen. Tapi Helvy kekeuh minta nulis 2 cerpen gak boleh gak. Harus he eh.

Karena sepanjang tahun 93-98 aku tugas di yayasan Bumi Andalas yang wilayah kerjanya di Sumatera maka banyak perjalanan darat yang aku lakukan. Dan kalau jalan darat pasti lah melintasi selat sunda dengan kapal ferri. Kota yang menghubungi dua pulau itu adalah Merak di Pulau Jawa dan Bakauheni di Pulau Sumatera. Jadi aku tuh udah gak hitungan naik kapal ferri nyeberang selat sunda. Dulu biar dapat harga murah sebelum berangkat kita minta surat sakti ke teman yang kerja di departemen perhubungan. Fathony kalau gak salah namanya tinggal di Tangerang. Berbekal surat sakti itu kita bisa gratis ongkos mobil. Jadi cuman bayar ongkos orang saja. Yah namanya juga masih jaman susah. Jadi segala cara mesti dilakukan. Yang penting tugas bisa diselesaikan.

Nah perjalanan naik kapal ferri yang sekitar 2 jam inilah jadi inspirasi aku bikin cerpen. Karena basic ku jurnalis jadi baru bisa nulis kalau melihat atau mengalami peristiwa. Makanya kalau suruh nulis cerpen yang ngayal ngayal gitu aku gak bisa. Aku amati bagaimana petugas parkir di kapal ferri yang begitu presisi mengatur mobil parkir di badan kapal. Mulai dari mobil truk pengangkut barang, mobil bus penumpang, mobil pribadi sampai motor roda 2.

Melintas selat sunda biasanya kita tengah malam. Nah yang aku heran di tengah malam itu ada beberapa mbak mbak penjual jamu gendong yang menawarkan jamunya kepada penumpang ferri. Terutama ke para supir truk barang dan supir bus penumpang. Luar biasa pengorbanan mereka mencari nafkah. Meninggalkan rumah, menjual jamu dengan resiko dilecehkan oleh pembelinya yang mayoritas laki berprofesi supir.

Dari pengamatan itulah kemudian lahir cerpen Merak-Bakauheni. Berkisah tentang seorang gadis penjual jamu berjilbab yang berani melawan pelecehan para pembelinya. Ya tentu semua itu hanya fiksi. Mungkin ada kejadiannya seperti itu mungkin juga tidak. Yang jelas itulah cerpen pertama kali yang aku tulis selama jadi pemred Annida.

Cerpen ke-2 aku judulnya lupa tapi cerita sekitar kejadian sehari hari yang aku lihat. Diberi bumbu imajinasi dan tentu selalu ada hikmah yang bisa dipetik dari cerita itu. Sebab kalau cuman sekedar buat cerpen tapi gak ada isinya sayang waktu dan tenaga. Sayang kertas dan tinta juga. Apalagi kalau cerpen yang kita buat malah jadi inspirasi berbuat maksiat. Tambah dosa aja kita. Pernah ada yang ngirim link di youtube, film pendek yang dibikin berdasarkan cerpenku ini. Aku sendiri malah gak tahu apa apa. Judulnya aja sudah lupa. Setelah bikin 2 cerpen buat buku antologi itu aku gak pernah bikin cerpen lagi. Haha.

Perjalanan ke sumatera ku pertama kali adalah membersamai rombongan dari Dompet Dhuafa Republika menyalurkan bantuan buat korban kebakarn hutan. Kejadian sekitar tahun 95-an peristiwa kebakaran hutan di bererapa titik sekitar provinsi Lampung dan Sumatera Selatan. Selama sepekan waktu itu tim Bumi Andalas dan tim Dompet Dhuafa mendatangi beberapa kota di lokasi kebakaran. Aku ingat ketua DD waktu itu Eri Sudewo turun langsung memimpin rombongan. Bumi Andalas membantu menyambungkan DD dengan binaan da’i mitra Bumi Andalas yang berdakwah di tempat terdampak kebakaran hutan.

Isteri sudah biasa ditinggal ke luar kota. Alhamdulilah waktu itu masih tinggal sama mertua. Jadi walau kerap ditinggal tetap ada yang menemani. Anak juga baru satu atau dua jadi tidak terlalu repot. Tapi setelah anaknya banyak juga sering ditinggal sih. Yah namanya juga Mabrur senengnya kan kabur kabur.

#28JALANMEDE

Ketemu lokasi bakal kantor ummi ini aku gak sengaja. Waktu itu lagi nginap di rumah mimih gang Duren Utan Kayu. Pagi pagi ngajak jalan anak anak ke sekitaran rumah. Lewatin Jalan Mede ada rumah sudah tidak terurus dengan halaman luas. Di pagar rumahnya ada tulisan dijual. Aku masuk nemuin yang punya rumah. Memastikan rumah itu belum ada yang beli.

Besoknya di rapat manajemen Ummi aku usulkan perusahaan untuk membeli rumah tersebut dan dibangun kantor Ummi. O ya sejak tahun 2000 aku menggantikan posisi Indra sebagai pemimpin umum/ pemimpin redaksi Ummi. Badan hukum koperasi yang dulu pernah dibikin untuk menerbitkan Ummi tak dipakai lagi. Manajemen bikin PT baru untuk penerbitan Ummi, Annida dan Saksi. Namanya PT Kimus Bina Tadzkia.

Di peruasahaan baru itu aku sebagai direktur utama. Sementara Komisaris Luthfi Hasan. Sebelum aku diangkat jadi direktur utama perusahaan baru yang menaungi Ummi itu aku minta syarat ke Ustadz Lutfhi Hasan agar bisa meneruskan kuliah S2 atas biaya perusahaan. Rencana aku mau ambil magister manajemen biar punya ilmu buat pimpin perusahaan. Selama ini aku cuman ngurusin redaksi. Karena syaratnya disetujui aku akhirnya ambil amanah itu.

Rapat manajemen memutuskan untuk membeli rumah di jalan Mede. Aku diminta untuk negosiasi harga dengan pemiliknya. Ternyata itu rumah warisan. Ada 8 anaknya yang lagi ribut rumah warisan itu harus segera dijual. Biar duitnya bisa dibagi bagi. Karena mereka butuh uang cash cepat akhirnya kesepakatan harga gak pake lama. Tanah berhasil kebeli. Tinggal cari pinjaman buat bangun kantor.

Program pertama aku diangkat jadi direktur adalah menambah ilmu. Biar kapasitas dan wawasan bertambah. Aku rencana mau ngambil Magister Manajemen di Sekolah Tinggi Manajemen PPM di Menteng. Ini adalah sekolah magister pertama dan sudah teruji dengan lulusannya yang tersebar di perusahaan swasta nasional dan BUMN.

Lah lo kan belum lulus S1 Brur, Gimana bisa sekolah S2? Nah itulah masalahnya. Dengan gercep aku meluncur ke kampus IISIP. Rencana mau minta transkip nilai dan ngelanjutin kuliah di ekstension Komunikasi UI. Ada kawan yang baru lulus dari sana. Tapi waktu aku urus transkrip nilai di IISIP bagian akademik malah nawarin aku nerusin di IISIP saja. Ya sudah. Tanpa repot repot aku langsung daftar kuliah lagi. Hanya ada satu mata kuliah lagi yang mesti aku ikutin karena ada persyaratan baru. Selebihnya karena SKS sudah cukup aku langsung bisa skripsi.

Enaknya ngerjain skripsi kalau sudah jadi direktur Ummi adalah semua bisa disuruh bantuin. Judul skripsiku tentang majalah Saksi. Kuesioner pertanyaan skripsi aku muat di majalah Saksi dan respondennya seluruh Indonesia. Ngolah datanya pakai SPSS yang ngerjain Iwan Ali tim IT di kantor. Pembimbing skripsi aku minta Dadan Iskandar. Dadan ini temen IISIP angkatan 86. Salah satu mahasiswa pinter di angkatanku. Skripsinya bareng aku waktu tahun 90. Cuman dia sampai dapat ijazah. Aku cuman dapat ijab sah. Skripsinya gak kelar. Dadan sekarang dosen jurnalistik di IISIP. Jadi udah asik bener aku bimbingan skripsi sama dia.

Kalau mau bimbingan aku telpon Dadan. Ketemuan di seberang kampus warung sate pakde solo. Sambil makan sate kita ngobrol skripsi. Dadan banyak kasih saran sekaligus referensi buku. Karena semua daya dukung bikin skripsi sudah ada. Dalam waktu 3 bulan skripsi kelar. Sidang skripsi aku jalanin dengan riang. Sebab dosen pengujinya aku kenal temen seangkatan juga yang jadi dosen. Aku lulus dapat A. Waktu wisuda tahun 2001 aku dipanggil paling pertama. Soalnya nomor induk aku di IISIP 866177 paling tua. Rata rata wisudawan saat itu nomor induk mahasiswanya kepala 96 atau 97. Ada dua orang reporter Ummi yang baru aku rekrut, wisudanya ternyata bareng aku. Haha. Pemimpin Redaksi sama reporter wisuda barengan. Mungkin aku mahasiswa paling lama yang selesai di IISIP masuk 86 wisuda 2001. Sekitar 15 tahun baru lulus.

Lulus S1 aku langsung daftar MM di Menteng. Ambil kelas MM eksekutif angkatan 30. Kuliahnya sepekan 3 kali. Mulai jam 4 sore sampai jam 9 malam. Peserta MM eksekutif ini minimal harus level manajer di perusahaan. Ada 22 orang di angkatan 30 ini. Yang asik aku bareng sama direktur makerting majalah Tempo dan direktur marketing koran Kompas. Kuliah yang buku teks nya bahasa inggris semua ini bikin mumet. Tapi ya apa boleh buat semua tugas tugas mesti dikerjain. Untungnya kuliah eksekutif ini dibikin per kelompok. Sebagian kuliahnya juga kebanyakan studi kasus. Jadi lebih banyak analisa kita yang diasah bukan hapalan hapalan di buku teks yg tebelnya minta ampun.

Alhamdulillah kuliah 3 semester kelar tepat waktu. Dari 22 orang hanya 8 orang yang kuliah sesuai dengan target 1,5 tahun atau 3 semester. Lunas sudah janji ke ibuku dan kakak kakakku kalau aku akan tetep selesaikan studi walau sudah nikah duluan. Bukan hanya S1 tapi aku lanjut ke S2. Di keluargaku cuman aku yang kuliah sampai S2. Waktu wisuda di hotel Shangrilla ibuku seneng bener. Belum pernah dia hadiri wisuda anaknya di hotel. Makanannya prasmanan bebas ambil sepuasnya. Isteriku juga ikut. Waktu itu 2003 sedang hamil anak ke-6. Alhamdulillah banyak anak banyak rezeki. Setelah anak ke-6 ini masih ada satu edisi lagi yang lahir. Anak ke-7 lahir tahun 2007. Berkah bener kerja di Ummi ya.

#27KEMUNING

Jalan Kemuning Utan Kayu ini adalah kantor terakhir yang di kontrak Ummi. Setelah di Kemuning, Ummi pindah ke kantor milik sendiri di Jalan Mede Utan Kayu. Kantor Kemuning ini banyak menyimpan kenangan dan sejarah. Rumahnya sih sederhana. Tidak terlalu luas dan rumah sudah cukup tua. Halamannya kecil. Hanya bisa buat parkir satu mobil dan beberapa motor saja. Tapi beberapa tonggak penting perjalanan Ummi dirumuskan disini.

Kru Annida mulai merancang pembentukan FLP. Forum Lingkar Pena yang diinisiasi oleh Helvy dan kawan kawan seingatku mulai dibicarakan di kantor ini. FLP memang bukan program yang lahir dari struktur redaksi Annida. Annida menjadi media untuk menyebarluakan visi misi FLP sekaligus menjaring anggota. Sinergi Annida dan FLP ini berhasil mengumpulkan ratusan para penulis di seluruh Indonesia. Cabang-cabang FLP mulai berdiri di berbagai kota. Komunitas para penulis ini kemudian diorganisir dengan baik. Sampai sekarang FLP menjadi organisasi kepenulisan yang besar. Karya para penulisnya tersebar di berbagai perusahaan penerbitn buku. Bahkan ada juga anggotanya yang kemudian bikin penerbitan sendiri.

Sejarah juga mencatat majalah Saksi lahir di kantor ini. Tahun 1998 saat Reformasi Mei menjadi berkah buat media. Saat pemerintah berganti dari Soeharto ke Habibie keran keterbukaan informasi makin lebar. SIUPP Surat Izin Usaha Penerbitan Pers yang dulu sangat sulit di dapat, kini jadi mudah. Indra dan aku mengurus SIUPP Ummi dan Annida ke departemen Penerangan. Waktu itu menterinya Yunus Yosfiah sedangkan yang menjabat Dirjen Pers dan Grafika Dailami. Setelah mengisi formulir dan memenuhi berkas yang dibutuhkan, SIUPP Ummi dan Annida dalam waktu relatif singkat sudah keluar. Tanpa butuh biaya sepeserpun. Di cetakan Ummi dan Annida terbaru dengan bangga kita cantumkan nomor SIUPP dan susunan Redaksi lengkap. Tidak lupa alamat kantor Ummi dan Annida juga sudah tercetak jelas. Lengkap dengan nomor telepon dan email. Semuanya sekarang sudah terang. Ummi Annida bukan majalah gelap lagi. Alhamdulillah

Bersamaan dengan reformasi muncul juga banyak partai politik. Jamaah tarbiyah yang selama ini beroperasi di kampus kampus negeri mendeklarasikan parpol baru dengan nama Partai Keadilan. Aku dan teman teman di Ummi yang lahir dari rahim tarbiyah otomatis bergbung dengan parpol ini. Aku jadi salah satu staf di bagian komunikasi dan informasi Partai Keadilan. Saat deklarasi Partai Keadilan di Al Azhar aku jadi panitia tim media.

Dengan beberapa teman kru Ummi kita bikin majalah Saksi. Awal mulanya sih bukan majalah tapi tabloid mini. Bentuknya seperti tabloid tapi ukurannya mini. Saksi diawal terbit dicetak sederhana 16 halaman dobel folio hitam putih. Kru Ummi yang mayoritas bapak bapak ini kemudian di switch untuk mengurus majalah politik Saksi. Mochamad Bugi yang tadinya sekretaris redaksi Ummi di plot jadi pemimpin redaksi. Sulthoni, Tate Qomarudin dan Suhud Alynudin juga masuk di tim redaksi Saksi. Ada pula Sapto Waluyo wartawan majalah Gatra dan Gamma yang kemudian bergabung. Jam terbangnya yang tinggi di media umum dipakai untuk mengembangkan Saksi. Beda dengan Ummi dan Annida yang terbit bulanan. Saksi ini maunya terbit mingguan tapi lama kelamaan redaksi gak sanggup akhirnya terbit dua mingguan.

Di redaksi Ummi perlu tenaga baru. Masuklah Sitaresmi Soekanto, Maimon Herawati. Ada juga reporter muda Gaib Maruto Sigit dan Arifah. Dua orang ini lulusan jurnalistik IISIP. sementara aku belum lulus juga dari kampus IISIP. Gaib sekarang jadi pemimpin redaksi Radio Trijaya MNC Group. Salah satu alumni Ummi yang karir jurnalisnya cemerlang. Arifah entah sekarang dimana. Selama di Ummi Annida dan Saksi entah sudah berapa puluh orang yang gabung di Ummi. Selain itu banyak juga mahasiswa yang ambil skripsinya tentang majalah Ummi atau Annida.

Sementara aku semakin lama di Ummi semakin nambah pasukan. Setelah anak ke-2 Dini Afnani meninggal di usia sebulan, isteri hamil lagi. Januari 1996 lahir anak ke-3 laki. Waktu itu pas ada kejadian terbunuhnya Yahya Ayyash pejuang Palestina. Yahya Ayyash sang muhandis atau sang insinyur adalah perakit bom jempolan. Ia menjadi target mossad Israel untuk dihabisi. Januari 1996 Yahya Ayyash syahid di bom oleh Israel. Kawan kawan yang punya anak laki dan lahir di sekitar bulan itu ramai ramai namain anaknya dengan Yahya Ayyash. Nama anakku Yahya Muhammad Ayyash.

Yang antar isteri saat melahirkan waktu itu naik mobil Dady. Soalnya sejak di rumah sudah mulai flek keluar darah. Isteriku dibawa ke RS Haji Pondok Gede. Kenapa gak ke Persahabatan yang deket? Isteriku agak trauma di rumah sakit persahabatan. Dulu waktu anak pertama lahir ada sedikit insiden di ruang perawatan. RS Persahabatan ini peninggalan Belanda. Bangunannya tua dan agak serem. Waktu habis melahirkan masuk di ruang perawatan paling ujung. Satu kamar berempat. Kamar mandinya di luar. Jadi kalau mau ke toilet, pasien mesti jalan ke luar kamar. Lampu di koridor dan di kamar mandi tidak terlalu terang. Jadi suasana tambah serem kalau malam.

Bener aja sik setelah aku antar isteri ke toilet. Pas keluar dan masuk ke dalam ruang perawatan isteriku mulai meracau. Teriak teriak gak jelas sampai bikin ribut seisi kamar. Perawat di panggil untuk meredakan. Tapi isteri malah ngamuk nendang apa saja yang ada dekatnya. Aku lihat ini bukan karena sakit fisik. Tapi ada ‘sesuatu’ yang ikut dari toilet di luar. Maka aku dekap isteriku. Aku bacain alfatihah, ayat kursi dan 3 surat terakhir juz amma. Al ikhlas, al falaq da an Nas. Terus aku baca berulang ulang. Alhamdulillah akhirnya isteriku mulai tenang. Tatapan matanya yang tadinya aneh mulai bener. Setelah beberapa saat tenang aku tanya isteriku. Kenapa tadi ngamuk? Dia gak ingat apa apa. Haha.