Gak kebayang bisa pergi ke tempat jauh. Secara aku cuman wartawan majalah wanita muslimah. Bukan dari grup media besar pula. Tapi kalau rezeki memang gak kemana.
Tahun 2004 bersama 10 wartawan nasional diundang kemenlu Amerika Serikat buat kunjungan ke negeri Paman Sam. Saya waktu itu Pemred majalah Ummi. Yang lain dari Kompas, Suara Pembaruan, Waspada, Singgalang, Serambi Indonesia, majalah Gontor dll.
Selama 2 pekan kita diservice sama Amerika. Tiket, akomodasi dan lain lain disiapkan. Kita cuman disuruh bawa badan. Amerika ini kalau dari Indonesia jauh banget. Naik pesawat aja sekitar 21 jam jarak tempuhnya. Kalau di bola dunia letak Indonesia ini punggung punggungan sama Amerika. Kalau disini jam 10 pagi disana jam 10 malam.
Tajuk kunjungan para wartawan Indonesia ke Amerika adalah Pluralisme dan Toleransi Kehidupan Beragama di Amerika Serikat. Nantinya kita berkunjung ke komunitas Yahudi, Kristen dan Islam yang ada di AS.
Buat majalah Ummi ini sesuatu yang mengejutkan. Kenapa Ummi masuk radar Amerika? Apa hebatnya majalah Ummi? Kenapa dipilih? Kenapa tidak majalah lain yang lebih top?
Asal tahu aja. Beberapa hari sebelum berangkat ke Amerika aku masih jadi panitia demonstrasi Tolak George Bush datang ke Indonesia. Aku ingat tempatnya di Tugu Proklamasi Jakarta Pusat. Sejarah mencatat Amerika melakukan invansi ke Irak pada Maret 2003. Alasannya Irak punya senjata pemusnah massal. Tapi sampai Saddam Husein pemimpin Irak tumbang. Ternyata tidak ditemukan itu yang namanya senjata pemusnah massal. Yang ada hanyalah penderitaan rakyat Irak akibat digempur Amerika.
Washington DC adalah kota pertama yang kita singgahi. Ini ibukota Amerika. Gedung Putih tempat presiden Amerika bekerja ada di kota ini. White House jadi salah satu destinasi yang kita kunjungi. Walaupun tidak di gedung utama tapi pernah lah kita masuk Gedung Putih.
Saya kira ide presiden RI Jokowi bikin IKN di Kalimantan terinspirasi dari Amerika ini. Pusat pemerintahan ada di Washington DC sementara pusat bisnis tersebar di beberapa ibukota negara bagian seperti New York, Los Angeles, San Fransisco, Chicago dan lain lain.
Kunjungan wartawan Indonesia ke Amerika ini berselang 3 tahun setelah tragedi 911 tahun 2001. Dua menara kembar WTC World Trade Center di kota New York hancur dihantam pesawat terbang komersial berisi penumpang. Amerika ingin menunjukkan ke Indonesia bahwa mereka perang terhadap terorisme. Dan diharapkan Indonesia mendukung langkah Amerika.
Padahal dalam kacamata aku sebagai seorang wartawan majalah Islam. Ya Amerika setelah Uni Sovyet bubar maka musuhnya sekarang adalah Islam bukan komunis. Proyek melawan ‘terorisme’ inilah yang kemudian jadi andalan Amerika untuk memimpin dunia.
Oh ya kami hanya tiga hari di Washinton DC. Selain White House kita juga kunjungi berbagai museum yang ada di kota itu. Banyak sekali museumnya dan keren keren.
Aku manfaatkan disela waktu luang untuk kontak kawan pengurus PKS Amerika. Waktu itu ketuanya bro Barokah Widodo. Kebetulan tinggalnya dekat dari Washington DC. Cuman beberapa kilometer apartemennya dati Pentagon pusat komando tentara AS. Aku sempat menginap semalam dan ngobrol politik. Besoknya aku diantar kembali ke hotel tempat menginap di Washington DC.
Dari tempatnya Barokah aku sempat adain ‘konferensi’ by phone dengan teman teman PKS yang ada di negara bagian lain. Lumayan lebih dari sejam kita ngobrol lewat telepon. Dulu belum ada WA video group. Jadi kita cuman dengar suara aja. Itu aja kita sudah seneng bener.
Pulang dari Amerika aku bikin tulisan berseri di majalah Ummi. Lagi dicari arsip majalahnya. Nanti kalau sudah ada mau discan dan ditaruh link nya disini biar bisa diakses.
Intinya kalau kita serius ngerjain profesi kita maka Allah akan kasih jalan buat kita tambah berkembang. Siapa sangka Mabruri yang dulu cuman reporter majalah Ummi, bahasa Inggrisnya jelek, belum ada pengalaman liputan nasional eh malah bisa meliput ke luar negeri. Amerika pula.
Yuk ah kita seriusin kerjaan kita. Biar hasilnya juga berkah dan manfaat buat ummat.
#brurmabrur #selfiegrafie #365harimenulis