#40ROMA

Jarak tempuh pesawat dari Madrid ke Roma sekitar 2 jam saja. Sore kami sudah sampai Roma dan langsung ke Colosseum. Selama ini baru lihat saja di film Gladiator. Kini bisa lihat langsung tempat manusia bertarung sampai mati. Mereka yang bertarung adalah para budak yang sudah dilatih oleh pemiliknya. Dijadikan hiburan dan tontonan bagi masyarakat Romawi.

Tempat lain yang wajib dikunjungi tentunya gereja St Peter’s Basilica dan museum Vatican. Konon Gereja Basilica ini adalah gereja paling besar di dunia. Vatican sendiri adalah negara di dalam kota. Di hari selanjutnya kami juga kunjungi air mancur Trevi yang terkenal dan destinasi lainnya.

Inti kunjungan ke Roma sebenarnya masalah peralihan migrasi dari televisi analog ke televisi digital yang kelak diadopsi Indonesia. Mengapa? Karena karakteristik pertelevisian Italia mirip dengan Indonesia.

Italia sendiri menurut UU nya akhir 2006 semua televisi analog harus sudah migrasi ke digital tapi kemudian diundur. Dan baru pada akhir 2012 semuanya sudah beralih ke digital

Indonesia baru secara resmi mengalihkan seluruh siaran TV analog ke siaran TV digital pada 2 November 2022 lalu. TV digital ini gambar dan suaranya jernih hampir tak ada noise. Dan yang paling penting free to air artinya untuk menikmatinya bebas biaya. Beda dengan video on demand yang berbasis internet.

Selama 3 hari pelatihan tentang cara migrasi tv analog ke tv digital sebenarnya bikin pusing. Udah pengantarnya bahasa Inggris. Istilah istilah nya juga banyak yang belum familiar dengan kuping saya. Tapi karena ini tugas negara ya dipaksain untuk ngerti.

Sempat makan pizza di Roma Italia? Ya disempetin dong. Rasanya enggak jauh beda dengan pizza buatan Indonesia. Tapi seenak enaknya pizza tetap lebih enak pecel atau pempek kapal selam. Makanan Indonesia ini kalau soal lezat gak kalah sama makanan negara lain. Cuman masalah promonya saja yang kurang. Kalau di Indonesia restoran pizza jumlahnya bejibun kenapa hanya sedikit saja restoran nasi Padang yang eksis di luar negeri?

#brurmabrur #365harimenulis #selfiegrafi

#39MADRID

Dulu waktu SD dan SMP saya anak gawang. Istilah untuk anak yang ikut klub sepak bola dan ikut kompetisi. Bukan futsal ya. Sebab waktu itu utsal belum setenar sekarang.

Hobi main bola sekarang sudah enggak lagi. Paling nonton bola. Itu juga event tertentu saja seperti piala dunia atau piala asia. Nonton bola di stadion juga jarang banget kecuali dapat tiket gratisan 😊

Ceritanya di Roma ada pelatihan tentang televisi digital. Sekitar 2011 memang sedang ramai tentang transisi perpindahan dari televisi teresterial ke televisi digital. Sebagai bagian dari kominfo yang mengurusi media sudah bener kalau saya dapat pengetahuan tentang tivi digital ini. Terus terang karena bukan orang broadcast soal soal begini saya gak begitu paham.

Terus apa hubungannya antara Roma dengan Madrid? Nah ini jagonya yang bikin jadwal perjalanan anak kominfo. Ceritanya pas hari sabtu lagi ada final piala Champion di stadion Santiago Bernabeu Madrid. Kita berempat berangkat pagi sampai Madrid jelang maghrib. Masuk hotel sebentar taruh koper langsung kita cus ke stadion. Saya termasuk salah satu fans Real Madrid. Jadi sebelum nonton Real Madrid vs AC Milan saya mampir di official store Real di sisi samping stadion. Sudah pasti lengkap ya. Semua ada. Cuman mikir harganya jadi yang dibeli cuman satu jersey resminya aja. Sampai sekarang sudah lebih dari 10 tahun masih awet.

Ketika hari sudah agak gelap baru kita masuk stadion. Berapa harga tiket final piala champion ya pastinya mahal. Soalnya pakai euro. Makanya kita nonton di bagian tribun kursi bagian atas dan dipojok pula.

Rame gak? Ya pasti rame lah. Stadion penuh. Fans nya AC Milan dikasih tempat duduk yang beda dengan pendukung Real. Jadi kayak semacam ada pembatasan. Biar gak kelahi mungkin ya. Saya lupa apakah itu semi final atau final Champion. Yang inget Real Madrid menang 2-1 atas AC Milan.

Pulang nonton kita langsung ke hotel. Maklum berangkat pagi dari Jakarta belum istirahat. Sementara besok siang kita mesti cek out dan terbang ke Roma buat ikut acara intinya. Jadi di Madrid gak kemana mana cuman numpang nonton bola aja.

Tapi keren sik.

Hala Madrid!

#brurmabrur #selfiegrafi #365harimenulis

#38RIODEJANEIRO

Final piala dunia sepakbola 2014 sudah di plot di stadion Maracana kota Rio de Janeiro Brasil. Sudah kebayang kan serunya nonton langsung piala dunia. Nonton bareng di tipi aja heboh apalagi liat langsung di stadion. Auranya pasti beda.

Aku diajak kawan nonton final itu. Tiket dan akomodasi sudah beres. Pesawat juga pake kelas bisnis. Soalnya perjalanan ke Brasil Amerika Selatan ini sekitar 30 jam. Kebayang kan betapa pegelnya duduk lama di pesawat. Belum lagi transitnya.

Cuman yang bikin kurang seru saat final ini pas bulan Ramadhan. Kita lagi puasa. Mau batalin sayang. Gak dibatalin musafir.

Teman teman sudah ingatkan bahwa kita berangkat Sabtu jam 2 pagi. Melalui pesan WA sudah diinstruksikan kumpul di terminal berapa dan pesawat apa.

Saya masih ingat bakda solat Jumat ada demo besar tentang pembebasan Palestina di bundaran HI. Banyak tokoh tokoh masyarakat dan agama yang hadir. Saya tentunya ikutlah soal demo Palestina. Demo di saat Ramadhan ini tidak terlalu banyak yang hadir. Biasanya kalau hari Sabtu atau Ahad bisa memenuhi jalan protokol Thamrin-Sudirman. Tapi karena ini hari Jumat dan suasana puasa peserta demo tidak membludak menutupi ruas jalan.

Usai demo saya langsung pulang ngejar buka puasa di Bogor. Karena lelah habis demo, usai buka puasa saya cepat naik kasur. Jam 11 malam handphone berdering keras. Cek hape ternyata sudah hampir 5x panggilan tak terjawab. Panggilan selanjutnya akhirnya saya angkat.

“Brur udah sampai mana? Kita udah di Bandara ini mau cek in masukin bagasi!“

Hah! Apaan nih? Bukannya besok berangkatnya Sabtu?

“Iya Sabtu jam 2 pagi ini. Sekarang udah jam 11. Tinggal 3 jam lagi berangkat. Lo udah sampe mana?”

Deg!

Langsung auto panik saya. Dalam pikiran saya Sabtu itu masih besok hari lagi. Tapi ternyata berangkatnya memang Sabtu jam 2 pagi. Bukan Sabtu jam 2 siang. Sementara saya beranggapan Sabtu masih siangnya lagi.

Walhasil karena belom siapin apa apa saya jadi gelagapan. Koper, pakaian dan lain lain belum ada yang disiapin. Lemes! Karena akhirnya saya tahu bakalan ditinggal pesawat. Jarak Bogor – Bandara gak bisa lebih cepat dari 2 jam. Dan jika saya berangkat juga gak bisa bakalan lebih cepat. Akhirnya saya cuman bisa duduk lemas. Dan impian nonton final piala dunia sepak bola di Rio de Janeiro pupus sudah. Mabruri salah tafsirkan tanggal berangkat. Rombongan akhirnya berangkat tanpa aku. Dan di pesawat sebelum take off mereka mengirim foto selfi bareng. Saya cuman bisa menatap sambil menangis.

Gagal impian nonton final sepak bola.

Akhirnya nonton final cuman di ruang tamu saja bareng anak isteri di rumah.

#brurmabrur #365hari menuli #selfiegrafi

#37LOSANGELES

Sebenarnya tidak ada agenda resmi di Los Angeles. Hanya mampir sehari semalam sebelum kembali ke Indonesia. Agenda mengunjungi NAB Show di Las Vegas sebenarnya dimulai di New York City. Jadi rombongan mendarat di NY dan berakhir di LA.

Kalau waktu berangkat pesawat transit di Frankut Jerman maka saat pulang pesawat transit di Tokyo Jepang sebelum sampai Jakarta. Jadi ini perjalanan mengelilingi lingkaran bumi.

Amerika Serikat ini negara yang sebagian besar daratan. New York ada di sebelah barat dan Los Angeles ada di sisi timur. Las Vegas ada di tengah Amerika. Jadi perjalanan ke Amerika ini bukan perjalanan singkat dan mudah. Waktunya panjang dan iklimnya juga tidak bersahabat.

Di Los Angeles karena merupakan pusat hiburan jadi kami hanya jalan jalan ke Beverly Hills. Beverly Hills ini kawasan kota mandiri di negara bagian California. Letaknya di barat kota Los Angeles. Tempat para pesohor Amerika tinggal. Tidak begitu jauh dengan Hollywood pusat industri film Amerika. Selain keliling kawasan Beverly Hills tak lupa mampir ke Dolby Theatre tempat pelaksanaan Academy Award atau piala Oscar untuk insan film Amerika. Satu lagi kita berjalan di Hollywood walk of fame trotoar sepanjang 15 blok di Hollywood Boulevard yang menampilkan sekitar 2400 keramik keras berisi gambar atau nama para pelaku industri film Hollywood yang dinilai berjasa bagi perkembangan film Amerika.

Kunjungan saya yang kedua lebih ceria ketimbang saat pertama ke Amerika tahun 2004 lalu. Kalau yang pertama temanya serius dan diisi dengan banyak diskusi dengan berbagai komunitas. Maka kunjungan kedua ini lebih santai dan banyak pelesirnya. Yah namanya juga manusia. Kadang butuh serius kadang ada saatnya rileks. Biar hidup lebih berwarna.

#brurmabrur #selfiegrafi #365harimenulis

#36GRANDCANYON

Salah satu 7 keajaiban dunia adalah Grand Canyon di negara bagian Arizona. Sayang kalau sudah sampai Las Vegas gak mampir ke Grand Canyon. Soalnya perjalanan ke sana hanya sekitar 3-4 jam saja. Sebenarnya untuk mengelilingi ngarai raksasa ini perlu waktu 5-7 hari. Panjang ngarai sekitar 466 km dan lebarnya antara 6-29 km dan kedalaman sekitar 1600 m.

Kami berangkat pagi dari hotel di Las Vegas dijemput oleh minibus travel pembuat perjalanan. Rute terdekat melalui tepi barat melewati hoover dam dan danau Mead. Lalu lintas yang lengang dan jalan lebar membuat perjalanan lancar. Di bendungan kami sempat berhenti sejenak. Melihat bendungan dari dekat.

Gak kebayang sih bisa sampai ke tempat ini. Secara di Indonesia saja masih banyak tempat bagus dan keren belum pernah dikunjungi. Wilayah gunung Bromo saja yang masih di pulau Jawa saya belum pernah kesana. Ini sudah main ke tempat jauh.

Sampai di Grand Canyon memang disuguhi pemandangan menakjubkan. Patahan pegunungan yang seolah olah dipahat membentuk struktur tebing tampak indah. Salah satunya ada yang mirip kepak sayap elang raksasa.

Jauh dibawah ngarai ada sungai Colorado membelah tebing tebing curam. Kalau ditempuh dengan berjalan kaki bisa dipastikan kita gak bakalan sampai ke sungai. Ngeri bener medannya. Terjal dan licin. Tapi inilah hebatnya pengelola taman nasional Grand Canyon. Mereka menyediakn layanan helikopter untuk bisa sampai ke tepi sungai. Mumpung ada kesempatan kamipun memanfaatkan fasilitas itu. Kapasitas 4 orang sekali terbang, kami bergantian naik helikopter agar bisa sampai tepi sungai Colorado.

Sampai di tepi sungai kami ditinggal helikopter. Diberi kesempatan menaiki perahu menyusuri sungai Colorado. Sementara helikopter berangkat ke atas lagi menjemput wisatawan lain yang akan turun. Sekitar 30 menit kami menyusuri sungai Colorado. Dinahkodai oleh lelaki muda suku Indian. Setelah puas menyusuri sungai kami kembali ke pangkalan helikopter. Pilotnya sudah menunggu kami untuk diterbangkan ke arah atas.

Puas kami mengunjungi beberapa spot menarik di Grand Canyon jelang sore kami kembali ke Las Vegas. Sepanjang jalan yang kita lewati banyak tumbuh pohon kaktus raksasa. Mengingatkan saya kalau lihat fim koboi di layar lebar tampak jelas pohon,

#brurmabrur #selfirgrafi #365harimenulis

#35LASVEGAS

Setelah kunjungan pertama 2004 ke Amerika dan keliling 4 kota Washington DC, New York, Memphis dan Chicago. Saya lama gak ke luar negeri lagi. Maklumlah namanya juga wartawan. Kalau memang tak ada tugas liputan ke LN ya cuman ngerjain pekerjaan rutin menulis saja.

Ceritanya pada 2009-2014 saya tugas di kementerian Komunikasi dan Informatika. Saat itu menteri Kominfo nya Tifatul Sembiring. Tifatul pernah menjadi Presiden Partai Keadilan Sejahtera periode 2005-2010. Saat Susilo Bambang Yudhoyono menjabat Presiden RI periode ke-2 Tifatul diangkat jadi salah satu menterinya.

Nah selama lima tahun Tifatul Sembiring jadi menkominfo saya mendampingi beliau sebagai staf khusus bidang humas dan media. Selama periode itulah saya banyak melakukan kunjungan ke luar negeri. Baik mendampingi menteri maupun mengikuti berbagai kegiatan di kementerian kominfo.

Salah satu agenda tahunan yang tidak pernah terlewatkan oleh jajaran kementerian kominfo adalah pameran broadcasting dunia NAB Show yang berlangsung di Las Vegas Amerika Serikat.

National Associations of Broadcasters adalah asosiasi advokasi utama untuk lembaga penyiaran Amerika. Rutin tiap tahun di sekitar April atau Mei menyelenggarakan konferensi dan pameran terkemuka tentang evolusi penyiaran, media dan hiburan.

Tahun 2011 saya dan delegasi kementerian kominfo sempat mengikuti konferensi dan melihat pameran industri siaran dunia. Berbagai inovasi terbaru soal penyiaran dan hiburan ditampilkan di pameran ini. Acara berlangsung di Las Vegas Convention Centre. Mirip seperti Jakarta Convention Centre tapi spacenya sekitar 5 atau 6 kali lebih luas dari JCC. Soalnya selama 5 hari lihat pameran disana belum semua stand dimasukin. Kaki udah pegel keliling pameran tapi gak selesai selesai juga. Jangan ditanya lah soal inovasi penyiaran yang saat itu baru diluncurkan. Selain sudah lupa saya juga basicnya bukan media penyiaran tapi media cetak. Setidaknya kunjungan ke Las Vegas ini membuka wawasan baru tentang media. Banyak perubahan dan lanskap media yang begitu cepat berubah karena adanya inovasi baru. Terutama masalah digitalisasi media.

Yang tidak lupa di Las Vegas adalah industri judi dan pertunjukan yang gak ada matinya. Las Vegas dijuluki sebagai the sin city. Kota tempat bikin dosa. Ya gimana gak dosa kalau semua loby hotel di Las Vegas isinya tempat bermain judi yang buka 24 jam! Segala macam jenis mesin judi ada di setiap hotel. Selain itu kalau kita keluar hotel bertebaranlah brosur para pelacur lengkap dengan foto dan nomor telepon. Siap di booking kapan saja dan dipanggil ke kamar hotel. Asal harga cocok.

Kota ini kalau pagi sampai siang tak terlalu kelihatan ada aktivitas. Tapi semakin sore sampai tengah malam semakin bergeliat dan semarak. Masing masing hotel punya pertunjukan yang berbeda beda. Ada circus, opera, balet, music, tinju, dan lain lain. Hampir semua seni pertunjukan ada d Las Vegas. Selama 5 hari saya yang biasa bangun subuh ke masjid sekarang dengar adzan saja enggak. Masjid juga gak ada. Yang ada hanya tempat judi. Untung iman kita rada kuat. Jadi gak tergoda nyoba nyoba mesin judi. Apalagi manggil yang ada di brosur.

Kunjungan ke Vegas membuka kesadaran bahwa ladang dakwah yang belum kita datangin itu masih banyak. Ladang ladang buat kita menyebar kebaikan masih terbuka lebar. Walaupun Las Vegas termasuk 10 kota paling ‘berdosa’ di dunia tapi tetap saja ditengah gelimang manusia berbuat dosa ada kesempatan siapapun untuk mencari pahala.

#brurmabrur #selfiegrafi #365harimenulis

#34CHICAGO

Menurutku diantara 4 kota yang kami kunjungi, Chicago adalah yang terindah. Kami menginap di hotel bintang 5 dengan kamar besar dan menghadap danau Michigan. Pagi bangun tidur memandang hamparan air biru dan kapal kapal kecil berlayar diatasnya.

Tapi jangan lama lama kalau jalan di ruang terbuka di Chicago. Anginnya kenceng banget. Dan dingin pula. Tak salah kalau kota ini dijuluki the windy city, kota angin. Karena terletak di sebelah Danau Michigan maka kuatnya angin yang bertiup dari danau yang besar itu membuat Chicago selalu berangin.

Aku lupa kemana saja selama di Chicago. Kalau tak salah kami ke University of Chicago. Diskusi tentang penelitian yang dilakukan universitas tentang peninggalan kerajaan Firaun di Mesir.

Selebihnya kami lebih banyak keliling kota menikmati keindahan kota Chicago. Kebakaran besar yang melanda Chicago pada 8-10 Oktober 1871 menewaskan 300 orang dan membuat 100 ribu penduduknya kehilangan rumah. Setara dengan 1/3 penduduk Chicago pada waktu itu. Pusat bisnis Chicago yang dikembangkan sejak 1837 rata dengan tanah.

Tapi 2 dekade kemudian Chicago bangkit dan mendapat julukan sebagai kiblat arsitektur kota modern dunia. Para arsitek lokal dan pejabat kota membangun kembali Chicago menjadi kota yang siap menghadapi kebakaran.

Pembangunan gedung pencakar langit terus berlanjut mengubah wajah Downtown Chicago menjadi kota besar dengan arsitektur yang menawan. Sears Tower (110 lantai, 442 M) yang dibangun pada 1973 pernah menjadi gedung tertinggi di dunia selama 25 tahun sejak berdiri.

Keindahan araitektur ini yang menarik sekitar 52 juta wisatawan yang datang ke Chicago tiap tahunnya.

Aku kalau ada kesempatan ke Amerika lagi. Mau lah balik ke Chicago. Atau kalau ada yang ngajak ikutan race Chicago Marathon aku sik gak nolak. Secara pengen bener ikut lomba lari di luar. Dan konon katanya Chicago Marathon jadi salah satu event marathon dunia yang paling menarik. Kelvin Kiptum atlet maraton asal Kenya baru saja mecahin rekor dunia lari maraton 2023 lalu dengan catatan waktu 2 jam 35 detik. Ngeri kan?

#brurmabrur #selfiegrafi #365harimenulis