#54DIYARBAKIR

Di kota ini kami nginap di apartemen. Mirip seperti di Kars beberapa hari lalu. Bedanya yang punya apartemen ada waktu kita masuk. 2 kamar tidurnya disewakan ke kami. Sementara dia tidur di kamar yang lain.

Pemiliknya relatif masih muda. Warga negara Turki keturunan suku Kurdi. Sejak kami datang dia selalu bilang bahwa Turki ini penjajah dan bangsa Kurdi di Turki akan merdeka.

#52TRABZON

Setelah menyusuri bagian timur Turki kami mulai agak ke tengah bagian utara. Perjalanan 6.5 jam dari Kars ke Trabzon melewati jalanan yang berkelok dan mendaki. Di beberapa tempat yang cukup tinggi bahkan jalanan aspal tertutup kabut. Kami terpaksa melambatkan laju mobil.

Di sebuah bukit yang ada lapangan agak datar kami bahkan menepikan mobil. Selain pandangan tertutup kabut kita juga melihat ada pemandangan menarik. Ternyata selain kami ada sebuah keluarga juga sedang menepi. Bedanya kami sekalian cari tempat buat buang air kecil mereka semacam makan bareng keluarga memanggang daging domba.

Melihat perawakan kami yang beda dengan orang Turki mereka membuka komunikasi dan menawarkan makanan yang mereka santap. Alhamdulillah karena memang lagi lapar kami sambut domba bakar dan semangka iris manis. Mereka masih asing dengan Indonesia. Sehingga kami mesti membuka peta di ponsel dan menjelaskan posisi Indonesia. Begitu juga masalah bahasa. Mereka tak paham bahasa Inggris, sehingga mesti di translate melalui google.

Akhirnya sore hari kami sampai Trabzon. Sebelum sampai kota, beberapa kali kami melewati terowongan yang menembus bukit. Bukan hanya jarak meteran. Tapi selain banyak terowongan yang menembus bukit. Jaraknya juga sampai lebih dari 5 km. Sangat panjang dan menantang.

Trabzon kebetulan sedang merayakan kemenangan kesebelasannya sebagai juara liga sepakbola Turki. Di sepanjang jalan terlihat baliho dan bendera Trabzon FC. Ucapan selamat sebagai champion. Tempat pertama yang kita datangi adalah official store Trabzon FC. Biasa. Beli jerseynya biar ada kenang kenangan dibawa pulang.

#brurmabrur #selfiegrafi #365harimenulis

#51KARS

Selama perjalanan 12 hari keliling Turki bagian timur kami hanya nginap semalam saja di setiap kota. Kecuali di Van saat kedatangan dan di Istanbul saat jelang pulang.

Di Kars kami menginap di apartemen. Keren apartemennya 2 kamar dan lengkap peralatan dapurnya. Asik bisa nyeduh kopi dan masak mie instan. Sayang saya gak bawa mie instan favorit.

Kunci apartemen ditaruh di box dengan kode kunci pengaman yang dikirim oleh pemilik. Usai menginap kita taruh kunci di box itu lagi dan langsung pergi. Tak pernah bertemu muka dengan pemiliknya. Komunikasi hanya melalui chat di aplikasi Airbnb

Kars kota paling ujung timur Turki berbatasan langsung dengan Armenia. Ikon dari kota ini adalah benteng Kars yang berdiri kokoh di atas bukit.

Kastil Kars dibangun pada 1153 oleh Firuz Akay atas perintah Sultan Melik Izzedin Kerajaan Seljuk. Lantas dihancurkan akibat penyerbuan tentara Mongol dari Timur pada 1386. Kemudian dibangun lagi oleh Lala Mustafa Pasha pada 1579 atas perintah Sultan Murat III.

Waktu kami kesana pintu gerbang masih ditutup. Ditunggu sampai jam 8.30 pagi belum dibuka juga. Padahal papan pengumuman buka jam 8.00. Akhirnya kami balik badan dan sarapan dibawah benteng. Ada cafe Kocatepe yang konon sudah berdiri sejak 1949. Konon ini adalah rumah kopi pertama yang berdiri di Turki. Rasa kopinya standard kopi Turki. Kalau kata bang Soni gak nendang. Tapi karena lapar maka kopi latte dan croisant lumayanlah sebagai pengganjal perut.

Habis sarapan langsung menuju masjid Fethiye. Lokasinya tak jauh dari benteng Kars. Naik mobil cuman 5 menit. Dulunya mesjid ini adalah gereja. Dibangun atas perintah Alexander Nevisky abad ke-19.
Struktur bangunannya masih bergaya romawi. Tidak seperti mesjid pada umumnya di Turki. Menurut info bangunan ini pernah dipakai sebagai tempat olahraga pada awal proklamasi Republik Turki. Baru pada 1986 dijadikan masjid. Karena masih pagi kami hanya foto foto di luar masjid. Tidak masuk ke dalam. Karena kami mau lanjutkan kunjungan ke museum perang.

Nama museumnya Kafkas Cephesi Harp Tarihi Muzesi. Atau museum perang Kaukasia. Masuk ke museum ini tiketnya 20 lira. Bangunan museum merupakan salah satu dari 46 bastion (benteng pertahanan) yang dibangun saat perang. Dikenal juga dengan Bloody Bastion karena semua prajurit di benteng ini manjadi martir. Digambarkan dalam museum ini makam para prajurit ditandai dengan sepatu perang mereka. Dijejer sedemikian rupa dan ditutup kaca. Kiri kanannya dipasang kaca seribu yang bisa memantulkan efek ribuan bayangan. Jumlahnya sekitar 10 ribuan prajurit yang mati.
Benteng ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Selim III pada 1803. Perang Kaukasia berlangsung pada 1828.

Agak serem sih museumnya karena suasananya temaram. Apalagi diorama patung lilin yang menggambarkan suasana rumah sakit dan ruang operasi dibikin mirip dengan patung prajurit yang sedang dirawat. Kalau sendirian kesini tiba tiba ada yang colek kan rada gimana gitu.

Kami terkesan dengan pernak pernik peninggalan perang di museum ini. Seragam tentara, senjata yang digunakan sampai cuplikan video dokumenter hitam putih saat tentara yang berjalan gontai dibawah hujan salju saat perang.

Usai dari museum kami bergegas lanjutkan perjalanan. Kali ini ke Trabzon. Kota metropolis yang ada di tepi laut hitam. Perjalanan dari Kars sekitar 6,5 jam. Jadi kami berangkat lebih awal biar tidak kemalaman di Trabzon.

#brurmabrur #selfiegrafi #365harimenulis

#50IGDIR

Pagi usai subuh dari Diyadin kami lanjut cabut ke Igdir. Tujuannya adalah Balik Golu atau Danau Ikan. Perjalanan sekitar 2 jam dari Diyadin menyusuri pegunungan dan perkampungan. Hampir kami kira kesasar karena google map mengarahkan ke jalan sempit tak beraspal. Setelah melewati banyak bukit barulah kami dikejutkan dengan pemandangan danau biru yang diapit bukit indah.

Tak ada orang sama sekali di danau itu. Hanya kami berlima saja. Danau Ikan atau Balik Golu masih alami. Tak ada bangunan disekitarnya. Bukan kawasan komersil juga. Yang ada kami lihat di sekitar danau adalah kotoran sapi dan kambing. Tandanya ini tempat menggembala ternak. Sambil sarapan roti dicocol selai cokelat kami menyapu danau dengan pandangan mata. Tak lupa mengabadikan keindahan Balik Golu dengan kamera.

O iya selama di Turki kami tidak melihat warga Turki memakai masker. Mulai dari bandara Istanbul sampai kedai kopi yang kami datangi di berbagai kota, hampir semua tak bermasker.

Puas bermain dan foto foto di danau kami lanjut ke tempat bersejarah Tarihi Igdir Kervansarayi sebuah rumah singgah buat para musafir pada zaman Turki Utsmani.

Semua musafir yang mampir mesti dilayani dengan sebaik baiknya oleh pemerintahan Turki Utsmani. Diberikan penginapan, makanan dan bahkan bekal perjalanan jika mereka kekurangan.

Sayang pada saat ke lokasi pagar halaman rumah besar mirip aula masih digembok. Tak ada tanda tanda penjaga. Jadi kami tak bisa masuk. Hanya foto foto bagian luar bangunan yang masih kokoh. Arsitekturnya khas Turki Utsmani terlihat pada pintu masuk yang melengkung dan ornamennya.

Karena sudah siang dan sarapan kami pagi tadi kurang nendang akhirnya mampir di restoran ikan Bozdag Alabalik Tesisleri. Sudah sepekan menu makan didominasi kebab, doner, tavuk dan sejenisnya. Pilihan makan ikan jadi membangkitkan selera. Apalagi kami makan siang dipinggir sungai Aras, dibawah pohon zaitun dan diladeni oleh anak pemilik restoran yang ramah, muda dan ganteng.
Yang unik disepanjang bibir sungai Aras diborder oleh kawat berduri. Dan ada peringatan dilarang melintas sungai. Ternyata sungai itu menjadi pembatas antara Turki dan Armenia. Jadi kalau habis makan kita terinspirasi untuk nyeberang ke Yerevan ibukota negara Armenia tinggal nyebur sungai saja akan sampai Armenia.

Selama di perjalanan beberapa kali mobil di stop tentara Turki terkait pemeriksaan dokumen. Tentata Turki atau Jandarma biasanya ada 3 sampai 5 orang bersenjata lengkap. Mereka kumpulkan pasport kemudian di cek dan diinput ke tablet yang mereka bawa. Sekitar 4x lebih mobil di stop. Alhamdulillah tidak ada yang dipersulit. Karena kita turis dan akan berkunjung ke beberapa kota di Turki langsung diminta meneruskan perjalanan.

Yang apes ketika kami akan mengunjungi Gunung Ararat. Dari kejauhan terlihat puncak Ararat diselimuti salju. Rencana kita akan ke gunung Ararat yang dalam cerita merupakan tempat bahtera Nabi Nuh terdampar. Kami sudah excited banget. Tapi… pas sudah hampir dekat tempat tujuan mobil kami dihadang tentara. Tempat tertutup buat publik. Kami diminta balik. Ya sudah. Belum rezeki.

Ada juga tempat yang akan kita kunjungi lobang bekas jatuhnya meteor. Konon lobang terbesar kedua di permukaan bumi. Tapi kita sudah dapat info tidak bisa masuk karena dijaga tentara. Publik dilarang masuk.

Setelah makan siang kami menuju Ani Citadel. Tempat peninggalan arkeologis kerajaan Armenia sekitat abad ke-11. Areanya sangat luas karena jaman dulu menjadi pusat kota kerajaan Armenia. Di dalamnya ada pasar, gereja, kuburan dan sebagainya. Setelah ditaklukan kerajaan Seljuk di dalamnya dibangun masjid. Saking luasnya tempat yang kita mau kunjungi akhirnya kita sewa mobil listrik berbentuk kereta kencana. Lumayan harganya 250 lira keliling semua spot. O ya tiket masuk ke Ani Citadel ini 50 lira per orang.

Di tengah panas terik jam 2 siang Ani Citadel banyak dikunjungi para keluarga Turki. Banyak juga yang bawa anak kecil. Dan mereka hepi hepi aja jalan keliling area gak naik kereta ‘kencana’.

#brurmabrur #selfiegrafi #365harimenulis

#49DOGUBAYEZIT

Dogubayezit ini kota di timur Turki. Masuk di provinsi Agri. Daerah Turki timur ini turisnya tak sebanyak Turki barat. Apalagi yang dari Indonesia. Orang Indonesia biasanya hanya sekitar Istanbul, Bursa, dan paling jauh ke Capadocia naik balon udara.

Tujuan kaki ke Sogubayezit adalah istana Ishak Pasha sekitar 5 km dari pusat kota Dogubayezit. Tempatnya keren, nangkring diatas bukit dengan panorama pegunangan sekitar. Istana ini jadi kokoh pada 1784. Perlu waktu 99 tahun membangunnya. Diinisiasi oleh Abdi Pasha kemudian dilanjutkan keturunannya.
Masih berdiri kokoh dan cantik sampai kini.

Masuk ke istana bayar 20 lira. Kita bebas berkeliling semua sudut istana. Foto-foto dan eksplore setiap kamar. Ada 116 kamar di istana ini. Dominasi warnanya elegan. Kombinasi warna cokelat, merah dan krem. Berdiri di atas tanah seluas 7600 meter persegi istana Ishak Pasha berada di jalur sutera, rute perdagangan antara wilayah timur dan barat.

Istana ditutup jam 5 sore untuk umum. Paling cakep memang lihat istana Ishak Pasha saat matahari terbenam. Sambil ngopi di cafe yang berada di sisi atas bukit. Pemandangannya beautiful. Sayang kemarin kita datang jam 2 siang. Saat lagi panas terik. Bukan apa apa karena kita ada trip lagi kunjungi lembah Diyadin.

Distrik Diyadin Agri ini ada ngarai yang keren. Kami sampai lokasi ini pas jelang sunset. Ngarai setinggi 50 meter lebih membuat landscape indah di sore itu. Di tengahnya membelah sungai Murat. Kalau di Indonesia lembah Diyadin ini mirip dengan lembah Harau di Sumatera barat. Tapi masih keren Lembah Harau sik menurut saya. Kalau dengan Ngarai Sianok di Bukittinggi bagusan Ngarai Diyadin sedikit . Untuk sampai lembah ini kita hanya perlu parkir mobil di pinggir jalan raya. Jalan kaki melalui jalan setapak sekitar 5 menit udah sampai di lembah dan bisa main air di sungai Murat yang agak bau belerang. Puas foto foto kami langsung cabut ke penginepan Lukman Hakim.

Yang kita cari sebenarnya pemandian air panasnya. Penginepannya sik sedehana sekali. Cuman ada 2 bed. Jadi karena kami berlima 3 orang tidur di kasur. Satu di bawah dan yang seorang di mobil. Kenapa gak sewa kamar lagi? Kamar sudah full karena cuma ada 4 kamar. Yang mereka jual pemandian privat air panasnya. Ada yang publik dan ada yang privat pool. Kami memilih yang privat. Tarifnya 50 lira buat sejam berendam di air panas alami ini. Karena penuh nunggu antrian baru jam 11 malam dapat giliran. Sambil ngantuk kita berendam di air panas. Alhamdulillah usai berendam air panas alami kurang dari sejam rasanya semua capek dan pegal berkurang. Tidurpun jadi nyenyak.

Oh ya sekedar info di Diyadin ini hampir semua resto tutup pas saat maghrib. Jadi ketika kami mau cari makan keliling kota gak ada yang buka. Akhirnya beli roti keras dan selai cokelat buat mengganjal perut. Info lain lagi pengelolaan pemandian air panas ini kurang pro. Masih amatiran dan bikin kesel. Air di kamar mati. Jadi kita wudhu buat solat pakai air mineral. Semalam sewa kamar 400 lira dan gak dapat sarapan. Kebanyakan para turis lokal datang hanya mandi berendam saja. Usai itu cabut.

#48PULAUAKDAMAR

Van berbatasan dengan Iran. Di hotel tempat kami menginap banyak berjumpa turis asal Iran. Pemilik kedai doner di depan hotel juga aslinya dari Iran.

Toprak hotel di Van tempat kami menginap tarifnya 1100 lira buat 2 malam. Sekamar 5 bed. 1 lira sekitar 900 rupiah. Jadi sekitar 990 000 rupiah. Murah kan?
Dapat sarapan pula. Jadi kami tak perlu repot cari sarapan pagi.

Mobil sewaan juga kami pilih yang bahan bakarnya irit. Renault Duster. Bisa pakai elpiji dan bensin. Harga epiji sekitar 10-11 lira. Kami isi full tank elpiji hanya 180 lira. Sementara bensin sekitar 24 lira/liter. Kalau diisi full tank sekitar 1200 lira. Enaknya ada dua bahan bakar kita bisa pilih mana yang paling murah. Elpiji jauh lebih murah. Tarikan mesin sama antara elpiji dan bensin. Yang perlu diperhatikan saat mengendarai adalah kecepatan. Jangan sampai melewati batas 110 km per jam. Karena ada kamera sensor di jalanan yang akan merekam kecepatan mobil. Kalau melebihi otomatis akan ditilang dan akan ditagih ke kartu kredit.

Destinasi selanjutnya adalah pulau Akdamar. Dari hotel sekitar 40 menit ke arah perbatasan dengan Iran.

Perlu waktu 30 menitan naik ferry untuk sampai pulau Akdamar. Harga tiketnya per orang 30 lira untuk pergi pulang. Sementara masuk pulau dan eksplore gereja Akdamar 60 lira per orang.

Gereja Akdamar atau gereja Surp Hac (Salib Suci) dibangun pada abad ke-10 oleh kerajaan Armenia. Komunitas kristen Armenia di Turki saat ini ada sekitar 70 ribu orang. Kebanyakan tinggal di Istanbul.

Usai dari Akdamar kami meluncur ke Cavustepe Kalesi. Sebuah kastil yang didirikan 8 abad sebelum masehi oleh raja Sarduri. Sudah tinggal reruntuhannya saja sih tapi asik pas sudah sampai atas. Untuk sampai ke tempat ini kami gunakan google map. Seperti biasa dia arahkan ke jalan yang paling dekat. Tapi akibatnya kami masuk ke jalan setapak. Pas sampai lokasi ternyata kami ada disisi bawah jurang tempat kastil berada. Walhasil kami harus putar balik mencari jalan yang benar. Penting untuk bawa holder hape agar nyaman saat melihat peta. Karena mobil sewaan tak ada fasilitas ini.

Persinggahan terakhir di Van adalah rumah kucing. Terkenal dengan Ras kucing Turkish Van. Bulunya putih dan yang paling unik adalah warna matanya yang berbeda kiri dan kanan. Bisa yang satu hijau yang sebelahnya biru. Atau kombinasi warna lain. Kucing van turki ini juga jago berenang. Senang bermain dan manja dengan manusia. Kalau berkunjung kesana ada tiket masuk 2,5 lira. Dan kalau mau main dengan kucing sambil ngasih makan mesti nambah 15 lira lagi untuk main sekitar 15 menit.

Yuk yang seneng kucing merapat.

#brurmabrur #selfiegrafi #365harimenulis