Pagi usai subuh dari Diyadin kami lanjut cabut ke Igdir. Tujuannya adalah Balik Golu atau Danau Ikan. Perjalanan sekitar 2 jam dari Diyadin menyusuri pegunungan dan perkampungan. Hampir kami kira kesasar karena google map mengarahkan ke jalan sempit tak beraspal. Setelah melewati banyak bukit barulah kami dikejutkan dengan pemandangan danau biru yang diapit bukit indah.
Tak ada orang sama sekali di danau itu. Hanya kami berlima saja. Danau Ikan atau Balik Golu masih alami. Tak ada bangunan disekitarnya. Bukan kawasan komersil juga. Yang ada kami lihat di sekitar danau adalah kotoran sapi dan kambing. Tandanya ini tempat menggembala ternak. Sambil sarapan roti dicocol selai cokelat kami menyapu danau dengan pandangan mata. Tak lupa mengabadikan keindahan Balik Golu dengan kamera.
O iya selama di Turki kami tidak melihat warga Turki memakai masker. Mulai dari bandara Istanbul sampai kedai kopi yang kami datangi di berbagai kota, hampir semua tak bermasker.
Puas bermain dan foto foto di danau kami lanjut ke tempat bersejarah Tarihi Igdir Kervansarayi sebuah rumah singgah buat para musafir pada zaman Turki Utsmani.
Semua musafir yang mampir mesti dilayani dengan sebaik baiknya oleh pemerintahan Turki Utsmani. Diberikan penginapan, makanan dan bahkan bekal perjalanan jika mereka kekurangan.
Sayang pada saat ke lokasi pagar halaman rumah besar mirip aula masih digembok. Tak ada tanda tanda penjaga. Jadi kami tak bisa masuk. Hanya foto foto bagian luar bangunan yang masih kokoh. Arsitekturnya khas Turki Utsmani terlihat pada pintu masuk yang melengkung dan ornamennya.
Karena sudah siang dan sarapan kami pagi tadi kurang nendang akhirnya mampir di restoran ikan Bozdag Alabalik Tesisleri. Sudah sepekan menu makan didominasi kebab, doner, tavuk dan sejenisnya. Pilihan makan ikan jadi membangkitkan selera. Apalagi kami makan siang dipinggir sungai Aras, dibawah pohon zaitun dan diladeni oleh anak pemilik restoran yang ramah, muda dan ganteng.
Yang unik disepanjang bibir sungai Aras diborder oleh kawat berduri. Dan ada peringatan dilarang melintas sungai. Ternyata sungai itu menjadi pembatas antara Turki dan Armenia. Jadi kalau habis makan kita terinspirasi untuk nyeberang ke Yerevan ibukota negara Armenia tinggal nyebur sungai saja akan sampai Armenia.
Selama di perjalanan beberapa kali mobil di stop tentara Turki terkait pemeriksaan dokumen. Tentata Turki atau Jandarma biasanya ada 3 sampai 5 orang bersenjata lengkap. Mereka kumpulkan pasport kemudian di cek dan diinput ke tablet yang mereka bawa. Sekitar 4x lebih mobil di stop. Alhamdulillah tidak ada yang dipersulit. Karena kita turis dan akan berkunjung ke beberapa kota di Turki langsung diminta meneruskan perjalanan.
Yang apes ketika kami akan mengunjungi Gunung Ararat. Dari kejauhan terlihat puncak Ararat diselimuti salju. Rencana kita akan ke gunung Ararat yang dalam cerita merupakan tempat bahtera Nabi Nuh terdampar. Kami sudah excited banget. Tapi… pas sudah hampir dekat tempat tujuan mobil kami dihadang tentara. Tempat tertutup buat publik. Kami diminta balik. Ya sudah. Belum rezeki.
Ada juga tempat yang akan kita kunjungi lobang bekas jatuhnya meteor. Konon lobang terbesar kedua di permukaan bumi. Tapi kita sudah dapat info tidak bisa masuk karena dijaga tentara. Publik dilarang masuk.
Setelah makan siang kami menuju Ani Citadel. Tempat peninggalan arkeologis kerajaan Armenia sekitat abad ke-11. Areanya sangat luas karena jaman dulu menjadi pusat kota kerajaan Armenia. Di dalamnya ada pasar, gereja, kuburan dan sebagainya. Setelah ditaklukan kerajaan Seljuk di dalamnya dibangun masjid. Saking luasnya tempat yang kita mau kunjungi akhirnya kita sewa mobil listrik berbentuk kereta kencana. Lumayan harganya 250 lira keliling semua spot. O ya tiket masuk ke Ani Citadel ini 50 lira per orang.
Di tengah panas terik jam 2 siang Ani Citadel banyak dikunjungi para keluarga Turki. Banyak juga yang bawa anak kecil. Dan mereka hepi hepi aja jalan keliling area gak naik kereta ‘kencana’.
#brurmabrur #selfiegrafi #365harimenulis