#05SOLO

Ibuku asalnya Solo. Simbah kakung dan simbah putri tinggal di Nusukan. Mbah Kakung kiai di ndalem mangkunegaran. Biasa mimpin doa, tahlil dan acara-acara keagamaan di lingkungan keraton Surakarta. Sedangkan mbah putri entrepreneur. Bisniswoman. Beliau punya kios di pasar Nusukan. Komoditi dagangannya sembako. Mulai dari kelapa parut, minyak goreng, sampe tahu tempe ada semua.

Mbah Kakung pendiam. Banyak zikir dan kalau bicara juga tak ingin mendominasi. Mbah putri sebaliknya. Senang ngobrol dan ingin tahu segala macam topik pembicaraan. Mulai masalah sosial kemasyarakatan, bisnis sampai politik. Ngobrol sama mbah putri seru. Kita bisa debat panjang. Orangnya gak cepet menyerah. Kalau ada argumen argumen baru dia bisa lanjutin lagi itu obrolan walau udah pindah topik.

Ibuku anak ke-2 dari 9 bersaudara. Sifat mbah kakung lebih nurun ke ibu. Pendiam, ngalahan dan lebih nrimo. Mbah putri cocok ngobrol sama babeku. Sama sama keras. Gak mau kalah dan suka debat. Kalau lebaran keluarga besar mbah Muchtarom Adnan kumpul di Nusukan. Biasanya simbah masak tengkleng kepala kambing. Jangan ditanya lah masalah rasa. Sedap!

Solo ini katanya barometer politik nasional. Kalo Solo suhu politiknya belum panas berarti kondisi nasional masih aman. Tapi kalo Solo udah mulai bakar bakaran maka politik nasional mesti waspada. Biasanya nular ke daerah-daerah lain.

Pilihan politik di keluarga besar simbah di Solo biasanya seragam. Tak ada perbedaan signifikan. Walau mbah kakung tata cara peribadatannya sejalan dengan para nahdhiyin tapi gak masalah juga dengan sikap babeku yang muhammadiyah. Babeku gak suka acara tahlilan dan semacamnya. Mbah kakung sebaliknya. Beliau yang penyelenggara dan memimpin tahlilan. Gak pernah ada masalah soal beginian di keluarga besar kami.

Begitu juga pilihan pilihan politik. Jaman orba kalo tentara ya mesti Golkar. Aku sendiri sejak boleh memilih waktu lulus SMA selalu golput. Walaupun di RT jadi panitia pemilihan di TPS tapi aku sendiri gak pernah milih salah satu dari 3 partai yang ikut pemilu waktu itu. Sampai kemudian kita bikin partai sendiri setelah reformasi.

Fenomena menarik saat Joko Widodo yang orang Solo dan tinggalnya tetangga kecamatan Nusukan nyalon presiden. Keluarga besar Nusukan terbelah. Satu pihak pro Jokowi satunya lagi anti. Pro dan kontra ini sampai menjalar di grup WA keluarga. Sesuatu yang sebelumnya tak pernah terjadi.

Ibu yang biasanya selalu nurut sama pilihan politiknya dengan aku yang pengurus DPP PKS ini tiba tiba ‘mbalelo’. Maka saat pilres 2014 Prabowo-Hatta vs Jokowi-JK keluarg Solo ‘pecah’. Ibu yang biasanya gak terlalu ngotot milih presiden tetiba jadi fanatik bener sama Jokowi. Pokoknya apa yang dilkukan Jokowi bagus gak ada yang jelek. Hal ini juga diikuti oleh kakak, bulik dan sepupuku yang lain.

Dahsyat bener memang ini efek Jokowi buat keutuhan keluarga besar. Fenomena terpolarisasinya masyarakat menjadi 2 kubu aku rasakan bukan hanya di level keluarga tapi sudah sampai level bangsa. Dan secara tidak sadar fenomena ini berlangsung sampai sekarang. Untung saja ibuku dan bulikku kemudian ‘sadar’. Pilihan ke Jokowi di pilpres 2014 tidak membawa bangsa ini ke tanda tanda kemajuan. Bahkan kehidupan demokrasi, ekonomi dan keutuhan bangsa semakin memprihatinkan. Pilpres 2019 kemarin mereka sudah say goodbye dengan Jokowi. Tapi pilihan calon lainnya juga gak banyak. Sistem oligarki politik di Indonesia bikin kader terbaik bangsa tak bisa maju jadi calon presiden. Pilihannya itu itu saja dan gak bermutu.

Makanya pilpres 2019 yang memunculkan calon presiden Prabowo-Sandi vs Jokowi-Ma’ruf masyarakat dibikin miskin pilihan. Hasilnya? Kita tahulah. Walau berdarah darah. Makan korban jiwa banyak akhir politiknya jadi lucu. Kayak nonton srimulat. Kelihatannya dari pertama berantem beneran. Eh akhirnya ‘happy ending’. Lucu tapi miris. Pemimpin pemimpin nirempaty. Ya sudah.

Waktu Jokowi jadi walikota Solo aku pernah makan siang bareng di Loji Gandrung. Rumah dinas walikota Solo. Waktu itu sekitar 2010-an aku nemenin Tifatul Sembiring menkominfo yang lagi kunjungan kerja di Solo. Selama makan siang bareng bertiga itu aku dengerin gak ada hal hal atau ide yang keren dari Jokowi. Biasa aja. Cuman memang media pandai benar mengemas walikota Solo ini jadi barang bagus.

Solo buat aku memang hanya jadi tempat pulang mudik saja. Kalau ditanya orang Brur lo aslinya dari mana? Solo! Nusukan. Padahl aku gak pernah tinggal di Solo. Ngomong jawa kromo inggil juga gak bisa. Ngomong jawa ngoko juga gak pas.

Mabrur ini emang cocoknya jadi anak Tanjung Priok bukan wong solo. Haha.

#04GEMOLONG

Silsilah keluarga dari pihak babe agak ruwet. Ruwet maksudnya bukan karena asal usul gak jelas tapi justru sangat jelas dan banyak cabangnya aku jadi agak susah menghapalnya. Babeku Suharno Priyoprasojo lahir di Gemolong kabupaten Sragen sebuah kecamatan yang dekat dengan Surakarta atau Solo. Kalau lebaran kami sekeluarga hampir tiap tahun mudik ke Gemolong tempat ibunya babe dan ke Nusukan Solo tempat orangtuanya ibu.

Kami biasa memanggil mbah Salam atau mbah Ngeseng ke ibunya babe. Kalau gak salah nama aslinya mbah Sapuan. Salam atau Ngeseng itu nama dukuhnya atau desanya. Yang agak bikin ruwet itu karena mbah Salam ibunya babe ini pernah menikah dengan 4 orang laki-laki. Maksudnya Mbah Salam suaminya meninggal kemudian nikah lagi. Dan itu terjadi sampai 4 kali. Kadang ketika menikah suaminya ini duda dan bawa anak juga. Bisa kebayang kan rantai silsilahnya seperti apa. Sodaraku jadi banyak. Ada sodara yang satu kakek satu nenek. Ada juga sodara karena satu kakek beda nenek. Atau satu nenek beda kakek. Ada juga yang masih sodara tapi beda kakek dan beda nenek. Hehe…

Aku ngebayangin mbahku ini cantik bener waktu muda. Ya iyalah nikah sampai 4 kali berarti kan banyak laki laki tertarik walau mbah waktu itu sudah janda beranak banyak. Sodara kandung babeku yang seibu sebapak cuman ada dua. Babeku dan pakde Rodhi seorang tentara RPKAD yang hilang waktu latihan di perairan Cilacap. Adik dan kakak tiri babe banyak yang beda bapak akibat ibunya babe yang nikah 4 kali ini. Kami para cucu ini kalau kumpul lebaran mesti buka catatan silisilah dulu untuk memposisikan kita ini cucu dari garis mana.

Alhamdulilahnya semua silsilah keluarga dari pihak babe ini tercatat rapih. Babeku seorang pencatat yang keren. Kalau ada sodara baru ketemu dia minta bikin pohon kelurganya. Nama lengkap suami isteri dan nama lengkap anak anaknya beserta tanggal lahir mereka. Nanti babe bikin rantai silsilahnya. Di rak buku babe aku pernah temukan sebuah buku tebal terbitan Yaumika singkatan dari Yayasan Umat Islam Kaliyoso. Kaliyoso ini kalau gak salah nama tempat di Kalijambe Sragen. Masih dekat dengan Gemolong juga. Nah di buku tebal sekitar 300 halaman inilah bisa diurut ke atas kita ini turunan dari siapa. Ternyata kalau ditelusuri aku ini masih keturunan Ken Arok!

Ken Arok ini pendiri kerajaan Tumapel atau terkenal dengan kerajaan Singosari. Lahir 1182-1247 di Jawa Timur. Kisah bagaimana Ken Arok yang asalnya berandalan suka mencuri dan berjudi kemudian mengambil alih kekuasaan Tunggul Ametung di kerajaan Tumapel. Trus Ken Arok merebut Ken Dedes yang cantik, isteri Tunggul Ametung. Kisah intrik sejarah yang menarik. Sila deh baca sendiri tentang Ken Arok dan Ken Dedes ini. Kelamaan kalau ditulis disini. Bisa berjilid-jilid jadi buku ntar.

Rumah mbah Salam ini masih rumah jawa asli. Gebyok dari kayu jati berbentuk persegi. Kalau kita lebaran di rumah mbah Salam biasanya gak lama. Paling cuman semalam saja. Soalnya di rumah mbah Salam masih desa bener. Masak masih pake kayu. Listrik juga belum masuk kalau gak salah. Tipi jangan ditanya lah. Makanya anak anak gak begitu betah kalau ke Gemolong. Kita lebih seneng lebaran di Nusukan Solo tempatnya simbah dari pihak ibu.

Di suku jawa dikenal filosofi bibit, bebet dan bobot. Orang kalau lagi cari mantu atau cari jodoh dilihat 3 kriteria ini. Bibit artinya dia dari keturunan mana. Bebet artinya kesiapan untuk menafkahi. Atau intinya aspek finansial atau ekonomi. Bobot artinya kepribadian, pendidikan, akhlak dan kedudukan atau pangkat. Jadi kalau lo mau ngelamar putri jawa pastikan dulu bibit, bebet dan bobot lo emang keren. Kalau gak ya dengan halus ntar ditolak. Hehe.

Ternyata di era saya aktif di PKS ketemu sama mas Tamim mantan ketua umum PB PII (Pelajar Islam Indonesia) yang asalnya dari Gemolong juga. Allahu yarham Mas Mutammimul Ula suami mbak Wiwik Wirianingsih ini kalau ketemu sering ngobrol tentang Gemolong. Mas Tamim dan babe ada kemiripan sifat yaitu teliti dalam administrasi. Entah apakah orang Gemolong memang terlahir jadi orang yang tertib dan teliti atau hanya kebetulan saja.

Ada yang orang Gemolong disini?

#03CIBEUREUM

Tahun 70-an Cibeureum adalah sebuah desa. Letaknya di Cimahi yang masih bagian dari kota Bandung. Semakin tahun Cibeureum makin berkembang. Seperti juga daerah daerah lain di pulau Jawa.

Rumah orang tua di Cibeureum cukup luas. Walau rumah dinas tentara tapi bukan rumah petak kecil. Seingatku halamannya besar. Pagar halaman ditanami pohon bluntas. Di bagian belakang masih ada tnah kosong juga. Ada pohon alpukat besar lebat daunnya. Karena ini komplek tentara maka disekeliling komplek dibangun pager tembok tinggi. Di balik tembok tinggi waktu itu terhampar sawah. Belum jadi perumahan padat. Jadi aku waktu kecil kalau mau lihat sawah mesti naik pohon alpukat dulu. Dari atas pohon itulah aku puas memandang sawah yang terbentang.

Tentang pohon alpukat besar belakang rumah itu aku ingat suatu saat di serang ulat bulu yang jumlahnya ribuan. Ulat bulu ini palanya kayak ada antena dua buah kanan kiri. Warnanya hitam coklat abu abu. Besarnya sekelingking tangan orang dewasa, Saking banyaknya itu pohon sampai habis daunnya. Tinggal meranggas ranting seperti habis disambar petir. Untuk mengusir ulat bulu yang jumlahnya ribuan itu mesti diambil satu satu dimasukkan ember dan dikubur dalam tanah. Tapi asiknya setelah diserang ulat bulu itu tak berapa lama pohon alpukat itu tumbuh kembali daun daunnya. Bertambah lebat dan muncul buah buah alpukat yang besar besar. Banyak sekali buahnya sampai bisa bagi bagi ke tetangga.

Kami keluarga besar. Babe dan ibu anaknya 7. Jarak kelahiran antar anak hanya berselang sekitar 2 tahun. Kakak sulung perempuan lahir Februari 1958, kemudian disusul kedua lahir November 1959. Kemudian berturut turut lahir tahun Agustus 1962, April 1965, April 1968, Mei 1970 dan Januari 1972. Selain kami keluarga sekandung, di rumah juga ada om dan bulik yang tinggal bersama kami. Biasanya ada adik dari ibu atau adik babe yang tinggal di rumah. Selain sekolah atau bekerja. Om dan bulik kami juga punya tugas mengurus kami yang masih kecil kecil. O iya kami memanggil ayah dengan sebutan Babe. Gak mecing sik Babe sama ibu. Mungkin karena perawakan bapak yang tinggi besar tentara pulak maka cocok dipanggil babe. Sementara ibu perawakannya biasa saja. Tidak kurus dan tidak gemuk.

Aku gak tahu gimana dulu orangtuaku bisa jadian. Lupa apakah mereka sempat pacaran atau dijodohkan orang. Sekilas pernah denger sih cerita ibu. Babe datang ke rumah mbah kakung dan mbah putri di Solo ngelamar ibu. Waktu itu katanya mbah kakung dan mbah putri ragu mau menerima lamaran babe. Soalnya tentara. Prajurit pula. Dalam pandangan mereka tentara itu kasar, keras dan suka main tangan. Gak kebayang nanti anak perempuan merek kalau nikah sama tentara ntar kalo marah digebukin sampe ringsek. Tapi entah kenapa akhirnya simbah menerima lamaran babe. Dan lebih sedih lagi abis dinikahin anak perempuannya langsung dibawa ke Cimahi.

Apa kenangan yang paling diingat waktu ente kecil bersama babe Brur? Gak banyak sih. Beberapa yang aku ingat suatu sore waktu hujan mobil dinas babe merek Gaz pernah ditabrak sama mobil tangki pertamina yang bawa bahan bakar. Entah gimana kejadiannya mobil tangki pertamina warna merah putih itu parkir depan rumah dan supirnya turun selesain urusan sama babe. Ngerik juga dia urusan sama tentara,

Ingatan yang lain adalah aku dan adikku dibawa jalan jalan ke masjid Agung di Bandung. Sempat lihat pake baju seragam aku dan adikku berfoto dengan latar belakang masjid Agung Bandung. Ridwan Kamil waktu itu belum jadi walikota sik. Pidi Baiq juga belum bikin film Dilan. Ntah foto itu sekarang ada dimana. Lupa nyimpennya.

Babeku ini emang selain tentara tapi islamnya militan. Makanya kalau ngajak anak anaknya juga maennya ke masjid. Kebiasaan ngajak maen ke masjid ini juga berlanjut saat pindah ke Jakarta. Tapi ntar yak cerita masjid di Jakarta. Sekarang babnya masih di Cibeureum.

Penghuni komplek tentara kalau salat Jumat mesti ke Masjid di luar komplek. Mesjid yang ada dalam komplek tidak dipake jumatan. Mungkin statusnya masih musholla. Dipakai buat solat jamaah 5 waktu penghuni saja.

Nah suatu Jumat aku dibawa serta sama babe. Aku duduk samping babe dengerin khotbah Jumat. Gak rewel sik. Aku kan anaknya pendiam dan penurut. Gak ada kegaduhan saat jamaah mendengarkan khotbah. Keributan terjadi justru saat sholat Jumat. Baru rakaat pertama ternyata aku kencing di celana. Kebayang kan? Air kencing ku meleber kemana mana. Membasahi sajadah ku dan sajadah sekelilingku. Batal sudah salat jumat babeku. Sajadahnya dikencingin sama anaknya yang ganteng ini.

Tapi alhamdulillah babe gak marah tuh. Aku hanya diam saja dengan wajah tanpa dosa. Disaat jamaah lain keluar dari masjid, babeku sedang sibuk ngepel lantai masjid bekas air pipisku. Najis.

Mungkin kalau aku waktu itu dimarahin sama babe bisa jadi trauma dan gak mau ke masjid lagi. Padahal namaya anak kecil ya emang begitu. Apalagi jaman itu kan belum ada teknologi pampers. Wajarlah anak ngompol di celana. Air pipis najis bisa cepat dibersihkan. Tapi kalau trauma mendalam anak kecil dimarahi orang tua karena pipis atau berisik di masjid bisa berabe. Anak jadi takut ke masjid.

Alhamdulillah karena kearifan babeku waktu itu aku jadi cinta masjid. Sampe sekarang.

#02CIMAHI

Sejak lahir sampai kelas 3 SD aku tinggal di Cibeureum Cimahi Jawa Barat. Kota ini nempel dengan kota Bandung. Pusat pendidikan TNI banyak lokasinya di Cimahi. Semua saudara kandungku lahir di rumah sakit Dustira Cimahi. Rumah sakit milik TNI AD. Dari 7 bersaudara hanya aku yang numpang lahir di Tanjung Priok Jakarta.

Tak banyak ingatanku dengan kota ini. Yang kutahu kami tinggal di komplek tentara Pusdikint (Pusat Pendidikan Intendans). Aku masih ingat bentuk kompleknya melingkar. Rumah-rumahnya hampir sama semua. Di tengah komplek ada lapangan luas tempat kita olah raga main bola atau main volley. Dekat lapangan ada masjid tempat kita solat jamaah. Kalau ngadu maen bola biasanya dibagi jadi anak blok kaler lawan anak blok kidul.

Aku ingat di sebelah kiri masuk komplek ada pabrik kerupuk punya orang Cina. Pabriknya besar. Pintu gerbangnya tinggi pakai lempengan besi. Seberang pabrik kerupuk kantor tentara. Di deretan kantor itu ada TK Berdikari. Nah, disitulah almamater TK gue. Kebetulan yang jadi kepala sekolah ibu sendiri jadi aku dilulusin TK dengan cum laude walau usia belum memadai.

Di umur 5 tahun aku sudah diterima sekolah dasar. Jadi lo jenius Brur? Ya kagak juga. Biasa aja sih. Prestasi akademik tidak ada yang menonjol. Bahkan untuk pelajaran menulis selalu dapat angka merah. Tulisanku jelek bener. Gak kebaca. Mungkin itu yang menginspirasi cita citaku untuk jadi dokter. Bukankah jadi dokter mesti bisa bisa nulis resep dengan tulisan yang tak bisa dibaca? Haha.

Kecepatan masuk sekolah 2 tahun ini bikin aku jadi murid paling kecil di kelas. Ini berujung pada penempatan posisi duduk. Aku selalu dikasih meja paling depan. Kadang persis di depan meja guru. Keuntungannya aku jadi gak bisa nyontek kalau ujian. Ya di depan kita bu guru gimana nyonteknya?

Apa yang paling menarik selama sekolah TK dan SD di Cimahi? lupa lupa inget sih. Tapi kalau gak salah waktu TK aku paling seneng jajan lepet isi oncom yang disiram sambel kacang. Perasaan itulah makanan paling lezat di dunia. Sebelum masuk kelas bisa dipastikan aku mampir makan lepet siram bumbu kacang.

Kalau berangkat ke TK aku selalu bareng ibu jalan kaki. Karena letaknya masih dalam komplek. Dekat sama rumah. Paling cuman 10 menit sampai. Tak lupa kalau sekolah bawa celana ganti. Soalnya masih suka ngompol di celana. Ahai.

SD ku letaknya agak jauh dari rumah. Sekitar 4 kilometer dari rumah. SD Negeri Cibeureum letaknya ke arah Kebon Kopi. Posisi di pinggir jalan raya. Untuk sampai sekolah ada 2 cara. Bisa lewat depan komplek dan menyusuri trotoar jalan hingga sampai sekolah. Bisa juga lewat belakang komplek. Melewati perumahan kampung dan pematang sawah yang waktu itu masih terbentang luas.

Rute ke sekolah biasanya berangkat lewat depan komplek pulang lewat belakang. Kita anak komplek tentara berangkatnya bareng maen samper samperan dulu. Biasanya rombongan berempat atau berlima kita jalan kaki berangkat sekolah. Masih inget nama temen-temen SD? Sumpah udah pada lupa!

Yang inget cuman kegembiraan kita saat pulang sekolah. Karena lewat pematang maka sering pulang sekolah kita cari belut di sawah. Ngerusak tanaman padi yang lagi ditanam. Maen lumpur. Lempar-lemparan taik kebo. Atau mandi di bekas air kobangan sawah yang abis panen. sebuah kemewahan masa kecil yang tak didapatkan anak anak kota jaman now. Ganjarannya apa? Sampai rumah ya mesti dijewer kupingnya sama ibu karena baju jadi kotor gak karuan. Atau karena sandal jepit ilang kerendem lumpur. Kotor itu baik kata iklan sabun. Bener sih yang kotor cuman baju dan celana kita. Tapi hati kita bersih.

Satu lagi yang aku ingat saat kecil adalah kesibukan di rumah yang penuh sembako. Babe karena masih prajurit kasta rendahan maka untuk menambah penghasilan buka warung kecil kecilan. Gula karungan dimasukin plastik sekiloan. Begitu juga tepung, minyak goreng dan lain lain. Saya sik masih kecil ngegerocokin aja. Yang kerja ibu dan kakak yang sudah besar.

Warung kita letaknya di depan komplek hampir pinggir jalan raya Cimahi. Kalau gak salah ingat sebelah kanan jalan kalau arah masuk komplek. Selain buka warung kecil babe juga buka warung seduh jamu. Seingat saya jamu air mancur. Yang nungguin warung ponakan bapak namanya mas Nur.

Ada satu kejadian yang aku inget suatu saat warung pernah kena tipu. Modusnya dengan cara di hipnotis. Jadi yang jaga warung dibikin gak sadar. Dia nyerahin uang dan sejumlah barang ke orang yang ngehipnotis itu. Baru sadar setelah beberapa saat orang itu pergi.

Rugi? Ya iyalah. Tapi hikmahnya kita jadi kudu banyak zikir kalau lagi jaga warung. Biar gak mempan dihipnotis. Zikir gak mesti waktu solat aja ternyata. Di luar solat juga kita mesti banyak zikir.

Belagu amat lo Brur!

Haha… ampun. Anak kecil sok tahu.

#01TANJUNGPRIOK

Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta jadi tempat bersejarah buatku. Di sebuah klinik kecil aku lahir. Kalau kata ibu sih sejak di ambulan aku udah mbrojol. Istilah jawa untuk kelahiran yang lebih cepat. Waktu itu kapal laut yang membawa jamaah haji pulang dari Saudi Arabia merapat di dermaga Tanjung Priok. Turun dari kapal ibu langsung digotong ke ambulan. Nah di ambulan aku udah berontak gak sabar keluar sebelum sampai klinik. Mungkin karena mabok laut. Capek dan lelah usai ikut prosesi haji.

Jadi gimana ceritanya lo bisa kebawa naik kapal Brur? Hehe. panjang sik urusannya. Waktu itu babe dan ibu berangkat haji. Berangkat dari rumah di Cimahi Jawa Barat menuju Jakarta. Waktu itu tahun 1968 sebagian besar calon jamaah haji belum naik pesawat terbang. Tapi naik kapal laut. Kebayang kan berat bener ini perjalanan. Dari jakarta menuju pelabuhan Jedah butuh waktu sebulan. Di tanah suci kurang lebih sebulan juga. Pulang ke tanah air naik kapal laut sebulan lagi. Total perjalanan haji pergi pulang sekitar 3 bulan. Puas bener itu pergi haji. Jadi bener dulu orang orang kalau nganter haji semua sodara ikut. Sambil nangis nangis mereka lepas orang tua yang pergi haji. Karena mungkin itu adalah pertemuan terakhir. Perjalanan haji berat. Nyawa taruhannya. Cerita babe selama berangkat di kapal menuju Saudi Arabia aja hampir tiap hari calon jamaah haji solat jenazah. Ada aja calon jamaah haji yang meninggal di kapal. Mayit yang meninggal di kapal usai disolatkan dikasih pemberat dan dibuang ke laut.

Horror yak. Tapi itulah seninya berhaji jaman dulu. Musti siap lahir batin. Korbankan harta dan jiwa. Maka gak salah ganjaran haji mabrur adalah surga. Ibadahnya berat bener ini. Main fisik segala.

Yang agak unik emang ibuku sih. Kenapa emak emak hamil 6 bulan bisa lolos berangkat haji? Bukannya orang hamil gak boleh berangkat haji? Konon kata babe, ibuku tuh gak mau ditinggal sama babe. Cinta mati lah sama babe. Jadi walau hamil tetep maksa ikut haji. Ya qadarullah gimana ceritanya ane gak tahu persis yang jelas ibu akhirnya berangkat haji bareng babe. Denger cerita sih waktu diperiksa kesehatan yang maju adiknya ibu. Mukanya mirip. Tapi pas berangkat naik kapal ibu yang masuk. Sambil pake mantel besar buat nutupin perut yang lagi hamil. Tahu bener atau gak deh ini cerita. Mungkin cuman rumor atu bisa jadi hoax. Haha.

Sebenarnya tahun 1968 itu ada juga jamaah haji yang naik pesawat. Tapi harganya muahal beud. Naik kapal laut 400 ribu sedangkan naik pesawat 1,4 juta. Tiga kali lipet lebih mahal. Makanya jumlah jamaah yang naik kapal laut lebih banyak dibanding naik pesawat. Gakpapa lama yang penting murah. Jamaah haji naik kapal laut ini katanya terakhir tahun 1979. Habis itu perusahaannya pailit. Sebab biaya haji naik kapal laut tahun itu lebih mahal dibanding pesawat. Yah emang hukum dagang begitu. Orang maunya cepet dan murah. Gak mau lagi lama dan mahal. Kalau kita masih keukeh lama dan mahal ya tinggal dadah dadah aja. Bakalan bangkrut.

Jadi pas sampai Mekkah Madinah umur ane di kandungan masuk 8 bulan. Ikut deh kemana aja ibu pergi. Ziarah ke jabal Uhud, wukuf di Arafah, nginep di Mina, thawaf, sha’i semua ibadah dan ziarah gak bisa lepas. Ane ngikut aja. Ngawal ibu. Ya iya lah masak mau di tinggal di hotel. Cucian kotor kaleee…

Alhamdulillah ibu sehat sehat aja walau hamil tua. Justru yang sakit malah babe. Jadi ibu yang ngerawat babe selama sakit di tanah suci. Hebat bener dah ibu gue mah. I love you ibu! Sehat terus ya bu. Sekarang udah usia 85 tahun. Udah sepuh. Tapi masih rajin tilawah walau diatas kasur atau di kursi roda. Surga menunggumu. Aamiin

Orang tuaku ini tergolong nekad juga yak, waktu berangkat haji mereka ninggalin 4 orang anak yang masih kecil kecil. Kakakku yang paling tua waktu itu umur 10 tahun, yang kedua 9 tahun, ketiga 6 tahun dan keempat masih umur 3 tahun. Kebayang kan pengorbanan mereka saat berhaji. Meninggalkan anak masih kecil, pergi saat hamil melintasi samudera lautan. Ane mah kagak sanggup dah. Suer.

Jadi aku lahir sebagai anak kelima. Tepat saat kapal laut Mei Abeto merapat di darmaga pelabuhan Tanjung Priok. Waktu itu 9 April 1968 M bertepatan dengan 10 Muharram 1388 H. Babe kasih nama aku Ahmad Mabruri Mei Akbari. Agak panjang sik namanya tapi ini demi mengakomodir berbagai peristiwa yang mengiringi aku saat lahir. Ahmad artinya terpuji sama dengan Muhammad. Mabruri artinya diterima. Semacam doa supaya haji orangtuaku diganjar dengan haji mabrur. Mei adalah nama depan kapal laut yang membawa ke tanah suci. Sedang Akbari berkaitan dengan haji waktu itu yang bertepatan dengan wukuf Arafah jatuh pas hari Jumat. Jadi haji Akbar.

Orang yang tahu nama panjangku Ahmad Mabruri Mei Akbari selalu menuduh aku lahir bulan Mei. Mereka berhusnuzon begitu karena ada potongan nama Mei terselip di namaku. Sama seperti Agustini biasanya lahir Agustus atau Aprilia lahir April. Khusus buat aku pengecualian. Mei itu bukan bulan kelahiranku. Mei nama kapalku. Aku lahirnya April. Ngejebak bener ya?

Hidup memang kadang penuh jebakan kawan.