#51KARS

Selama perjalanan 12 hari keliling Turki bagian timur kami hanya nginap semalam saja di setiap kota. Kecuali di Van saat kedatangan dan di Istanbul saat jelang pulang.

Di Kars kami menginap di apartemen. Keren apartemennya 2 kamar dan lengkap peralatan dapurnya. Asik bisa nyeduh kopi dan masak mie instan. Sayang saya gak bawa mie instan favorit.

Kunci apartemen ditaruh di box dengan kode kunci pengaman yang dikirim oleh pemilik. Usai menginap kita taruh kunci di box itu lagi dan langsung pergi. Tak pernah bertemu muka dengan pemiliknya. Komunikasi hanya melalui chat di aplikasi Airbnb

Kars kota paling ujung timur Turki berbatasan langsung dengan Armenia. Ikon dari kota ini adalah benteng Kars yang berdiri kokoh di atas bukit.

Kastil Kars dibangun pada 1153 oleh Firuz Akay atas perintah Sultan Melik Izzedin Kerajaan Seljuk. Lantas dihancurkan akibat penyerbuan tentara Mongol dari Timur pada 1386. Kemudian dibangun lagi oleh Lala Mustafa Pasha pada 1579 atas perintah Sultan Murat III.

Waktu kami kesana pintu gerbang masih ditutup. Ditunggu sampai jam 8.30 pagi belum dibuka juga. Padahal papan pengumuman buka jam 8.00. Akhirnya kami balik badan dan sarapan dibawah benteng. Ada cafe Kocatepe yang konon sudah berdiri sejak 1949. Konon ini adalah rumah kopi pertama yang berdiri di Turki. Rasa kopinya standard kopi Turki. Kalau kata bang Soni gak nendang. Tapi karena lapar maka kopi latte dan croisant lumayanlah sebagai pengganjal perut.

Habis sarapan langsung menuju masjid Fethiye. Lokasinya tak jauh dari benteng Kars. Naik mobil cuman 5 menit. Dulunya mesjid ini adalah gereja. Dibangun atas perintah Alexander Nevisky abad ke-19.
Struktur bangunannya masih bergaya romawi. Tidak seperti mesjid pada umumnya di Turki. Menurut info bangunan ini pernah dipakai sebagai tempat olahraga pada awal proklamasi Republik Turki. Baru pada 1986 dijadikan masjid. Karena masih pagi kami hanya foto foto di luar masjid. Tidak masuk ke dalam. Karena kami mau lanjutkan kunjungan ke museum perang.

Nama museumnya Kafkas Cephesi Harp Tarihi Muzesi. Atau museum perang Kaukasia. Masuk ke museum ini tiketnya 20 lira. Bangunan museum merupakan salah satu dari 46 bastion (benteng pertahanan) yang dibangun saat perang. Dikenal juga dengan Bloody Bastion karena semua prajurit di benteng ini manjadi martir. Digambarkan dalam museum ini makam para prajurit ditandai dengan sepatu perang mereka. Dijejer sedemikian rupa dan ditutup kaca. Kiri kanannya dipasang kaca seribu yang bisa memantulkan efek ribuan bayangan. Jumlahnya sekitar 10 ribuan prajurit yang mati.
Benteng ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Selim III pada 1803. Perang Kaukasia berlangsung pada 1828.

Agak serem sih museumnya karena suasananya temaram. Apalagi diorama patung lilin yang menggambarkan suasana rumah sakit dan ruang operasi dibikin mirip dengan patung prajurit yang sedang dirawat. Kalau sendirian kesini tiba tiba ada yang colek kan rada gimana gitu.

Kami terkesan dengan pernak pernik peninggalan perang di museum ini. Seragam tentara, senjata yang digunakan sampai cuplikan video dokumenter hitam putih saat tentara yang berjalan gontai dibawah hujan salju saat perang.

Usai dari museum kami bergegas lanjutkan perjalanan. Kali ini ke Trabzon. Kota metropolis yang ada di tepi laut hitam. Perjalanan dari Kars sekitar 6,5 jam. Jadi kami berangkat lebih awal biar tidak kemalaman di Trabzon.

#brurmabrur #selfiegrafi #365harimenulis

Diterbitkan oleh brurmabrur

Pernah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Ummi dan Annida. Kini aktif sebagai Presiden Komunitas Bambu Wulung. Sebuah komunitas yang mewadahi para pekerja, pemikir dan penyuka seni budaya. Ketua Bidang Humas PKS 2020-2025. Bisa dihubungi di ahmad.mabruri@gmail.com

Tinggalkan komentar