Dogubayezit ini kota di timur Turki. Masuk di provinsi Agri. Daerah Turki timur ini turisnya tak sebanyak Turki barat. Apalagi yang dari Indonesia. Orang Indonesia biasanya hanya sekitar Istanbul, Bursa, dan paling jauh ke Capadocia naik balon udara.
Tujuan kaki ke Sogubayezit adalah istana Ishak Pasha sekitar 5 km dari pusat kota Dogubayezit. Tempatnya keren, nangkring diatas bukit dengan panorama pegunangan sekitar. Istana ini jadi kokoh pada 1784. Perlu waktu 99 tahun membangunnya. Diinisiasi oleh Abdi Pasha kemudian dilanjutkan keturunannya.
Masih berdiri kokoh dan cantik sampai kini.
Masuk ke istana bayar 20 lira. Kita bebas berkeliling semua sudut istana. Foto-foto dan eksplore setiap kamar. Ada 116 kamar di istana ini. Dominasi warnanya elegan. Kombinasi warna cokelat, merah dan krem. Berdiri di atas tanah seluas 7600 meter persegi istana Ishak Pasha berada di jalur sutera, rute perdagangan antara wilayah timur dan barat.
Istana ditutup jam 5 sore untuk umum. Paling cakep memang lihat istana Ishak Pasha saat matahari terbenam. Sambil ngopi di cafe yang berada di sisi atas bukit. Pemandangannya beautiful. Sayang kemarin kita datang jam 2 siang. Saat lagi panas terik. Bukan apa apa karena kita ada trip lagi kunjungi lembah Diyadin.
Distrik Diyadin Agri ini ada ngarai yang keren. Kami sampai lokasi ini pas jelang sunset. Ngarai setinggi 50 meter lebih membuat landscape indah di sore itu. Di tengahnya membelah sungai Murat. Kalau di Indonesia lembah Diyadin ini mirip dengan lembah Harau di Sumatera barat. Tapi masih keren Lembah Harau sik menurut saya. Kalau dengan Ngarai Sianok di Bukittinggi bagusan Ngarai Diyadin sedikit . Untuk sampai lembah ini kita hanya perlu parkir mobil di pinggir jalan raya. Jalan kaki melalui jalan setapak sekitar 5 menit udah sampai di lembah dan bisa main air di sungai Murat yang agak bau belerang. Puas foto foto kami langsung cabut ke penginepan Lukman Hakim.
Yang kita cari sebenarnya pemandian air panasnya. Penginepannya sik sedehana sekali. Cuman ada 2 bed. Jadi karena kami berlima 3 orang tidur di kasur. Satu di bawah dan yang seorang di mobil. Kenapa gak sewa kamar lagi? Kamar sudah full karena cuma ada 4 kamar. Yang mereka jual pemandian privat air panasnya. Ada yang publik dan ada yang privat pool. Kami memilih yang privat. Tarifnya 50 lira buat sejam berendam di air panas alami ini. Karena penuh nunggu antrian baru jam 11 malam dapat giliran. Sambil ngantuk kita berendam di air panas. Alhamdulillah usai berendam air panas alami kurang dari sejam rasanya semua capek dan pegal berkurang. Tidurpun jadi nyenyak.
Oh ya sekedar info di Diyadin ini hampir semua resto tutup pas saat maghrib. Jadi ketika kami mau cari makan keliling kota gak ada yang buka. Akhirnya beli roti keras dan selai cokelat buat mengganjal perut. Info lain lagi pengelolaan pemandian air panas ini kurang pro. Masih amatiran dan bikin kesel. Air di kamar mati. Jadi kita wudhu buat solat pakai air mineral. Semalam sewa kamar 400 lira dan gak dapat sarapan. Kebanyakan para turis lokal datang hanya mandi berendam saja. Usai itu cabut.