Setelah kunjungan pertama 2004 ke Amerika dan keliling 4 kota Washington DC, New York, Memphis dan Chicago. Saya lama gak ke luar negeri lagi. Maklumlah namanya juga wartawan. Kalau memang tak ada tugas liputan ke LN ya cuman ngerjain pekerjaan rutin menulis saja.
Ceritanya pada 2009-2014 saya tugas di kementerian Komunikasi dan Informatika. Saat itu menteri Kominfo nya Tifatul Sembiring. Tifatul pernah menjadi Presiden Partai Keadilan Sejahtera periode 2005-2010. Saat Susilo Bambang Yudhoyono menjabat Presiden RI periode ke-2 Tifatul diangkat jadi salah satu menterinya.
Nah selama lima tahun Tifatul Sembiring jadi menkominfo saya mendampingi beliau sebagai staf khusus bidang humas dan media. Selama periode itulah saya banyak melakukan kunjungan ke luar negeri. Baik mendampingi menteri maupun mengikuti berbagai kegiatan di kementerian kominfo.
Salah satu agenda tahunan yang tidak pernah terlewatkan oleh jajaran kementerian kominfo adalah pameran broadcasting dunia NAB Show yang berlangsung di Las Vegas Amerika Serikat.
National Associations of Broadcasters adalah asosiasi advokasi utama untuk lembaga penyiaran Amerika. Rutin tiap tahun di sekitar April atau Mei menyelenggarakan konferensi dan pameran terkemuka tentang evolusi penyiaran, media dan hiburan.
Tahun 2011 saya dan delegasi kementerian kominfo sempat mengikuti konferensi dan melihat pameran industri siaran dunia. Berbagai inovasi terbaru soal penyiaran dan hiburan ditampilkan di pameran ini. Acara berlangsung di Las Vegas Convention Centre. Mirip seperti Jakarta Convention Centre tapi spacenya sekitar 5 atau 6 kali lebih luas dari JCC. Soalnya selama 5 hari lihat pameran disana belum semua stand dimasukin. Kaki udah pegel keliling pameran tapi gak selesai selesai juga. Jangan ditanya lah soal inovasi penyiaran yang saat itu baru diluncurkan. Selain sudah lupa saya juga basicnya bukan media penyiaran tapi media cetak. Setidaknya kunjungan ke Las Vegas ini membuka wawasan baru tentang media. Banyak perubahan dan lanskap media yang begitu cepat berubah karena adanya inovasi baru. Terutama masalah digitalisasi media.
Yang tidak lupa di Las Vegas adalah industri judi dan pertunjukan yang gak ada matinya. Las Vegas dijuluki sebagai the sin city. Kota tempat bikin dosa. Ya gimana gak dosa kalau semua loby hotel di Las Vegas isinya tempat bermain judi yang buka 24 jam! Segala macam jenis mesin judi ada di setiap hotel. Selain itu kalau kita keluar hotel bertebaranlah brosur para pelacur lengkap dengan foto dan nomor telepon. Siap di booking kapan saja dan dipanggil ke kamar hotel. Asal harga cocok.
Kota ini kalau pagi sampai siang tak terlalu kelihatan ada aktivitas. Tapi semakin sore sampai tengah malam semakin bergeliat dan semarak. Masing masing hotel punya pertunjukan yang berbeda beda. Ada circus, opera, balet, music, tinju, dan lain lain. Hampir semua seni pertunjukan ada d Las Vegas. Selama 5 hari saya yang biasa bangun subuh ke masjid sekarang dengar adzan saja enggak. Masjid juga gak ada. Yang ada hanya tempat judi. Untung iman kita rada kuat. Jadi gak tergoda nyoba nyoba mesin judi. Apalagi manggil yang ada di brosur.
Kunjungan ke Vegas membuka kesadaran bahwa ladang dakwah yang belum kita datangin itu masih banyak. Ladang ladang buat kita menyebar kebaikan masih terbuka lebar. Walaupun Las Vegas termasuk 10 kota paling ‘berdosa’ di dunia tapi tetap saja ditengah gelimang manusia berbuat dosa ada kesempatan siapapun untuk mencari pahala.
#brurmabrur #selfiegrafi #365harimenulis