Ini kota gak ada matinya. Selalu berdenyut pagi siang sore malam. Sepertinya hampir semua bangsa di dunia ada di New York. Setelah 3 hari di Washington DC kami 10 rombongan wartawan Indonesia bergeser ke kota New York melalui darat.
Kalau selama ini lihat suasana New York di film film Hollywood kini kita bisa langsung merasakan getarannya. Gedung pencakar langit di kiri kanan jalan utama. Trotoar berasap yang muncul dari saluran drainase bawah tanah. Central Park yang membelah kota. Dan tentunya merasakan transportasi umum subway.
KBRI New York dan rumah dinas duta besar Indonesia untuk PBB jadi singgahan pertama. Setelah itu tentu mengunjungi ground zero. Lokasi menara kembar WTC yang hancur di bom pada peristiwa 11 September 2001. Sebenarnya bukan hanya 2 menara kembar WTC yang hancur. Ada total 10 termasuk 7 gedung dan plaza WTC yang terletak di kawasan lower Manhattan tersebut.
Yang terpenting dari kunjungan ke New York adalah Islamic Cultural Center. Sebuah pusat kebudayaan Islam yang terletak di 3 Avenue antara jalan 96 dan 97. Masjid yang dibangun pada 1987 ini baru selesai dan digunakan pada April 1991. ICC NY jadi masjid pertama dan terbesar di NY.
Salah satu imam masjid saat itu adalah ustadz Shamsi Ali asal Indonesia. Kami berdiskusi hangat tentang kehidupan keislaman warga Amerika pasca peristiwa 911. Salah satu hikmahnya adalah ketertarikan orang Amerika pada Islam. Dan ternyata gelombang warga Amerika yang masuk Islam bertambah pesat sejak 911. Mereka penasaran atas stigma yang digulirkan media bahwa ajaran Islam identik dengan kekerasan dan terorisme. Sikap kritis masyarakat Amerika ternyata justru sebaliknya semakin mereka pelajari Islam semakin yakin bahwa Islam pembawa kedamaian.
Ustadz Shamsi menceritakan bahwa hampir tiap hari di masjid ICC NY ada warga yang bersyahadat. Karena sebelumnya saya pribadi sudah kenal dengan ust Shamsi beliau menawarkan untuk ngajak sarapan keesokan harinya. Beliau janji akan jemput saya di hotel dan sarapan di sekitar Queens tempat tinggalnya.
Esoknya saya sudah sarapan di sebuah resto halal milik warga keturunan Pakistan. Berdua berbincang dengan ust Shamsi kami bicara masalah dakwah di Amerika khsusnya di NY city. Pengunjung resto rerata sudah mengenal ust Shamsi. Mereka menyapa dan ucapkan salam. Oh ya di daerah Queens ini ada masjid Al Hikmah yang didirikan oleh komunitas orang Indonesia yang tinggal di NY. Tempat para diaspora Indonesia berkumpul dan berkegiatan.
Tak lengkap rasanya ke NY tapi tak mampir ke patung Liberty. Salah satu icon NY terletak di sebelah selatan pulau Ellis. Untuk kesana kita mesti naik kapal ferry. Sayang waktu itu tidak bisa masuk ke dalam patung karena sedang ada perbaikan. Jadi cuman puas poto poto dengan latar belakang patung Liberty.
Pulang dari patung Liberty aku terpisah dari rombongan! Keasyikan nawar kaos oblong saat mau masuk stasiun kereta bawah tanah aku di tinggal. Celingak celinguk semua kawan sudah gak ada di sekitar. Aku bergegas ke bawah stasiun ternyata mereka juga sudah tak kelihatan. Dengan modal bahasa inggris pas pasan aku nanya ke petugas. Ke peron mana aku mesti naik kereta dan turun dimana nanti. Untungnya aku bawa cover kunci hotel yang ada nama dan alamat hotelnya. Mau naik gojek tapi dulu belum ada 😊
Singkat cerita setelah beberapa kali bertanya akhirnya aku sampai juga di hotel. Aku dikasih selamat sama kawan kawan wartawan. Selamat jadi Newyorker Brur. Kesasar sendiri di kota New York tapi bisa pulang ke hotel lagi tanpa diantar polisi 😀
#brurmabrur #selfiegrafi #365harimenulis