#29MERAK-BAKAUHENI

Pernah di ulang tahun Annida yang keberapa aku lupa, Helvy ngusulin bikin buku antologi cerpen kru Annida. Judulnya 9 Mata Hati. Sembilan ini jumlah kru Annida waktu itu; Mabruri, Septi, Helvy, Dian, Avi, inayati, Haula, Dianti dan Mala. Masing -masing bikin dua cerpen jadi total ada 18 cerpen yang ada di buku itu. Yang bingung kan aku. Walau pemred Annida tapi aku kan gak pernah bikin cerpen. Tapi Helvy kekeuh minta nulis 2 cerpen gak boleh gak. Harus he eh.

Karena sepanjang tahun 93-98 aku tugas di yayasan Bumi Andalas yang wilayah kerjanya di Sumatera maka banyak perjalanan darat yang aku lakukan. Dan kalau jalan darat pasti lah melintasi selat sunda dengan kapal ferri. Kota yang menghubungi dua pulau itu adalah Merak di Pulau Jawa dan Bakauheni di Pulau Sumatera. Jadi aku tuh udah gak hitungan naik kapal ferri nyeberang selat sunda. Dulu biar dapat harga murah sebelum berangkat kita minta surat sakti ke teman yang kerja di departemen perhubungan. Fathony kalau gak salah namanya tinggal di Tangerang. Berbekal surat sakti itu kita bisa gratis ongkos mobil. Jadi cuman bayar ongkos orang saja. Yah namanya juga masih jaman susah. Jadi segala cara mesti dilakukan. Yang penting tugas bisa diselesaikan.

Nah perjalanan naik kapal ferri yang sekitar 2 jam inilah jadi inspirasi aku bikin cerpen. Karena basic ku jurnalis jadi baru bisa nulis kalau melihat atau mengalami peristiwa. Makanya kalau suruh nulis cerpen yang ngayal ngayal gitu aku gak bisa. Aku amati bagaimana petugas parkir di kapal ferri yang begitu presisi mengatur mobil parkir di badan kapal. Mulai dari mobil truk pengangkut barang, mobil bus penumpang, mobil pribadi sampai motor roda 2.

Melintas selat sunda biasanya kita tengah malam. Nah yang aku heran di tengah malam itu ada beberapa mbak mbak penjual jamu gendong yang menawarkan jamunya kepada penumpang ferri. Terutama ke para supir truk barang dan supir bus penumpang. Luar biasa pengorbanan mereka mencari nafkah. Meninggalkan rumah, menjual jamu dengan resiko dilecehkan oleh pembelinya yang mayoritas laki berprofesi supir.

Dari pengamatan itulah kemudian lahir cerpen Merak-Bakauheni. Berkisah tentang seorang gadis penjual jamu berjilbab yang berani melawan pelecehan para pembelinya. Ya tentu semua itu hanya fiksi. Mungkin ada kejadiannya seperti itu mungkin juga tidak. Yang jelas itulah cerpen pertama kali yang aku tulis selama jadi pemred Annida.

Cerpen ke-2 aku judulnya lupa tapi cerita sekitar kejadian sehari hari yang aku lihat. Diberi bumbu imajinasi dan tentu selalu ada hikmah yang bisa dipetik dari cerita itu. Sebab kalau cuman sekedar buat cerpen tapi gak ada isinya sayang waktu dan tenaga. Sayang kertas dan tinta juga. Apalagi kalau cerpen yang kita buat malah jadi inspirasi berbuat maksiat. Tambah dosa aja kita. Pernah ada yang ngirim link di youtube, film pendek yang dibikin berdasarkan cerpenku ini. Aku sendiri malah gak tahu apa apa. Judulnya aja sudah lupa. Setelah bikin 2 cerpen buat buku antologi itu aku gak pernah bikin cerpen lagi. Haha.

Perjalanan ke sumatera ku pertama kali adalah membersamai rombongan dari Dompet Dhuafa Republika menyalurkan bantuan buat korban kebakarn hutan. Kejadian sekitar tahun 95-an peristiwa kebakaran hutan di bererapa titik sekitar provinsi Lampung dan Sumatera Selatan. Selama sepekan waktu itu tim Bumi Andalas dan tim Dompet Dhuafa mendatangi beberapa kota di lokasi kebakaran. Aku ingat ketua DD waktu itu Eri Sudewo turun langsung memimpin rombongan. Bumi Andalas membantu menyambungkan DD dengan binaan da’i mitra Bumi Andalas yang berdakwah di tempat terdampak kebakaran hutan.

Isteri sudah biasa ditinggal ke luar kota. Alhamdulilah waktu itu masih tinggal sama mertua. Jadi walau kerap ditinggal tetap ada yang menemani. Anak juga baru satu atau dua jadi tidak terlalu repot. Tapi setelah anaknya banyak juga sering ditinggal sih. Yah namanya juga Mabrur senengnya kan kabur kabur.

Diterbitkan oleh brurmabrur

Pernah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Ummi dan Annida. Kini aktif sebagai Presiden Komunitas Bambu Wulung. Sebuah komunitas yang mewadahi para pekerja, pemikir dan penyuka seni budaya. Ketua Bidang Humas PKS 2020-2025. Bisa dihubungi di ahmad.mabruri@gmail.com

Tinggalkan komentar