#27KEMUNING

Jalan Kemuning Utan Kayu ini adalah kantor terakhir yang di kontrak Ummi. Setelah di Kemuning, Ummi pindah ke kantor milik sendiri di Jalan Mede Utan Kayu. Kantor Kemuning ini banyak menyimpan kenangan dan sejarah. Rumahnya sih sederhana. Tidak terlalu luas dan rumah sudah cukup tua. Halamannya kecil. Hanya bisa buat parkir satu mobil dan beberapa motor saja. Tapi beberapa tonggak penting perjalanan Ummi dirumuskan disini.

Kru Annida mulai merancang pembentukan FLP. Forum Lingkar Pena yang diinisiasi oleh Helvy dan kawan kawan seingatku mulai dibicarakan di kantor ini. FLP memang bukan program yang lahir dari struktur redaksi Annida. Annida menjadi media untuk menyebarluakan visi misi FLP sekaligus menjaring anggota. Sinergi Annida dan FLP ini berhasil mengumpulkan ratusan para penulis di seluruh Indonesia. Cabang-cabang FLP mulai berdiri di berbagai kota. Komunitas para penulis ini kemudian diorganisir dengan baik. Sampai sekarang FLP menjadi organisasi kepenulisan yang besar. Karya para penulisnya tersebar di berbagai perusahaan penerbitn buku. Bahkan ada juga anggotanya yang kemudian bikin penerbitan sendiri.

Sejarah juga mencatat majalah Saksi lahir di kantor ini. Tahun 1998 saat Reformasi Mei menjadi berkah buat media. Saat pemerintah berganti dari Soeharto ke Habibie keran keterbukaan informasi makin lebar. SIUPP Surat Izin Usaha Penerbitan Pers yang dulu sangat sulit di dapat, kini jadi mudah. Indra dan aku mengurus SIUPP Ummi dan Annida ke departemen Penerangan. Waktu itu menterinya Yunus Yosfiah sedangkan yang menjabat Dirjen Pers dan Grafika Dailami. Setelah mengisi formulir dan memenuhi berkas yang dibutuhkan, SIUPP Ummi dan Annida dalam waktu relatif singkat sudah keluar. Tanpa butuh biaya sepeserpun. Di cetakan Ummi dan Annida terbaru dengan bangga kita cantumkan nomor SIUPP dan susunan Redaksi lengkap. Tidak lupa alamat kantor Ummi dan Annida juga sudah tercetak jelas. Lengkap dengan nomor telepon dan email. Semuanya sekarang sudah terang. Ummi Annida bukan majalah gelap lagi. Alhamdulillah

Bersamaan dengan reformasi muncul juga banyak partai politik. Jamaah tarbiyah yang selama ini beroperasi di kampus kampus negeri mendeklarasikan parpol baru dengan nama Partai Keadilan. Aku dan teman teman di Ummi yang lahir dari rahim tarbiyah otomatis bergbung dengan parpol ini. Aku jadi salah satu staf di bagian komunikasi dan informasi Partai Keadilan. Saat deklarasi Partai Keadilan di Al Azhar aku jadi panitia tim media.

Dengan beberapa teman kru Ummi kita bikin majalah Saksi. Awal mulanya sih bukan majalah tapi tabloid mini. Bentuknya seperti tabloid tapi ukurannya mini. Saksi diawal terbit dicetak sederhana 16 halaman dobel folio hitam putih. Kru Ummi yang mayoritas bapak bapak ini kemudian di switch untuk mengurus majalah politik Saksi. Mochamad Bugi yang tadinya sekretaris redaksi Ummi di plot jadi pemimpin redaksi. Sulthoni, Tate Qomarudin dan Suhud Alynudin juga masuk di tim redaksi Saksi. Ada pula Sapto Waluyo wartawan majalah Gatra dan Gamma yang kemudian bergabung. Jam terbangnya yang tinggi di media umum dipakai untuk mengembangkan Saksi. Beda dengan Ummi dan Annida yang terbit bulanan. Saksi ini maunya terbit mingguan tapi lama kelamaan redaksi gak sanggup akhirnya terbit dua mingguan.

Di redaksi Ummi perlu tenaga baru. Masuklah Sitaresmi Soekanto, Maimon Herawati. Ada juga reporter muda Gaib Maruto Sigit dan Arifah. Dua orang ini lulusan jurnalistik IISIP. sementara aku belum lulus juga dari kampus IISIP. Gaib sekarang jadi pemimpin redaksi Radio Trijaya MNC Group. Salah satu alumni Ummi yang karir jurnalisnya cemerlang. Arifah entah sekarang dimana. Selama di Ummi Annida dan Saksi entah sudah berapa puluh orang yang gabung di Ummi. Selain itu banyak juga mahasiswa yang ambil skripsinya tentang majalah Ummi atau Annida.

Sementara aku semakin lama di Ummi semakin nambah pasukan. Setelah anak ke-2 Dini Afnani meninggal di usia sebulan, isteri hamil lagi. Januari 1996 lahir anak ke-3 laki. Waktu itu pas ada kejadian terbunuhnya Yahya Ayyash pejuang Palestina. Yahya Ayyash sang muhandis atau sang insinyur adalah perakit bom jempolan. Ia menjadi target mossad Israel untuk dihabisi. Januari 1996 Yahya Ayyash syahid di bom oleh Israel. Kawan kawan yang punya anak laki dan lahir di sekitar bulan itu ramai ramai namain anaknya dengan Yahya Ayyash. Nama anakku Yahya Muhammad Ayyash.

Yang antar isteri saat melahirkan waktu itu naik mobil Dady. Soalnya sejak di rumah sudah mulai flek keluar darah. Isteriku dibawa ke RS Haji Pondok Gede. Kenapa gak ke Persahabatan yang deket? Isteriku agak trauma di rumah sakit persahabatan. Dulu waktu anak pertama lahir ada sedikit insiden di ruang perawatan. RS Persahabatan ini peninggalan Belanda. Bangunannya tua dan agak serem. Waktu habis melahirkan masuk di ruang perawatan paling ujung. Satu kamar berempat. Kamar mandinya di luar. Jadi kalau mau ke toilet, pasien mesti jalan ke luar kamar. Lampu di koridor dan di kamar mandi tidak terlalu terang. Jadi suasana tambah serem kalau malam.

Bener aja sik setelah aku antar isteri ke toilet. Pas keluar dan masuk ke dalam ruang perawatan isteriku mulai meracau. Teriak teriak gak jelas sampai bikin ribut seisi kamar. Perawat di panggil untuk meredakan. Tapi isteri malah ngamuk nendang apa saja yang ada dekatnya. Aku lihat ini bukan karena sakit fisik. Tapi ada ‘sesuatu’ yang ikut dari toilet di luar. Maka aku dekap isteriku. Aku bacain alfatihah, ayat kursi dan 3 surat terakhir juz amma. Al ikhlas, al falaq da an Nas. Terus aku baca berulang ulang. Alhamdulillah akhirnya isteriku mulai tenang. Tatapan matanya yang tadinya aneh mulai bener. Setelah beberapa saat tenang aku tanya isteriku. Kenapa tadi ngamuk? Dia gak ingat apa apa. Haha.

Diterbitkan oleh brurmabrur

Pernah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Ummi dan Annida. Kini aktif sebagai Presiden Komunitas Bambu Wulung. Sebuah komunitas yang mewadahi para pekerja, pemikir dan penyuka seni budaya. Ketua Bidang Humas PKS 2020-2025. Bisa dihubungi di ahmad.mabruri@gmail.com

Tinggalkan komentar