Gak pernah kebayang sih kantor Ummi sampe ke jalan Dukuh sini. Letaknya di belakang kantor Jasa Marga pinggir tol jagorawi. Entah siapa yang nemuin rumah disini. Secara kru Ummi rumahnya gak ada yang deket deket sini. Tapi ya mungkin pertimbangan murah dan nyaman akhirnya kita kontrak juga. Kalau jumatan kita jalan kaki ke masjid Jasa Marga atau naik motor.
Ummi dan Annida alhamdulillah makin maju. Karyawan makin banyak. Selain tim redaksi ada divisi usaha juga. Penanganan agen makin rapih. Karena agen majalah umum sekarang mukai order Ummi dan Annida. Sentra keagenan majalah di Senen, Budi Utomo dan agen besar mulai pesan. Mitra dengan agen umum ini ada plus minusnya. Plusnya majalah kita tersebar luas di lapak mereka, terminal, pasar, dan kios kios majalah lain. Jadi kita gak usah datangin satu satu. Mereka sudah punya jaringan. Minusnya adalah soal diskon dan waktu bayar. Mereka ini minta diskon gede terus sistem bayarnya 3-1. Kita kirim majalah yang ke-3 mereka bayar kiriman kesatu. Duit kita banyak nyangkut disini. Tapi ya karena kita butuh jaringan mereka terpaksa kita ikut.
Pemimpin umum sekaligus pemimpin redaksi dipegang Indra Sakti, aku Redaktur Pelaksana. Pimpinan usaha dikomadoi Ferous. Ada inisiatif waktu itu manajemen Ummi di merger dengan majalah Ishlah. Negosiasi berlangsung cukup alot. Dari pihak Ishlah, Arifinto almarhum bersikeras digabung aja biar grup majalah makin kuat. Tapi aku dan Indra masih ragu. Soalnya laporan keuangan Ishlah waktu itu gak bagus. Ngerinya kalau Ummi gabung nanti kondisi Ummi ketularan gak bagus.
Mardani Ali Sera dulu salah satu redaksi Ishlah. Ada juga Untung Wahono, Syamsu Hilal dan beberapa kawan lain. Ishlah kontennya lebih berat. Kita tahu sendiri lah warga +62 ini umumnya gak begitu suka bacaan yang berat berat. Di televisi aja rating paling tinggi sinetron bukan program berita. Jadi wajar juga sih kalau Ishlah agak berat dari segi usaha. Dan akhirnya setahun atau dua tahun setelah rundingan proses merger itu Ishlah berhenti terbit. Ummi dan Annida terus maju dan nantinya jadi majalah resmi yang punya SIUPP Surat Izin Usaha Penerbitan Pers.
Situasi politik indonesia jelang reformasi 1998 memanas. Demo demo mahasiswa mulai marak. Kondisi ekonomi juga dirasakan makin berat. Tapi anehnya kenapa tiras Ummi perlahan naik? Nah kita juga kurang tahu penyebabnya. Hanya bisa menduga saja. Mungkin di jaman susah ini perlu kembali ke ajaran agama yang benar. Atau ada juga analisa bahwa tulisan tulisan di Ummi solutif mengatasi permasalahan keluarga.
Ummi mulai bikin rubrik khusus anak anak. Permata namanya. Tadinya hanya berupa rubruik 4 halaman saja dan menjadi baguan dari rubrikasi Ummi. Tapi ke depan rubrik ini berkembang menjadi ‘majalah’ sendiri dengan jumlah halaman 16. Otomatis karena rubrik bertambah maka karyawan juga nambah.
Perjalanan kunjungan ke kota kota di Sumatera menjadi tugas rutin. Dalam 2 bulan minimal kita kunjungan sekali ke kota di Sumatera. Bisa sekali jalan 3 kota. Atau kalau agenda tak terlalu padat bisa cuman satu kota saja.
Update perkembangan situasi politik Indonesia biasanya kita diskusikan di kantor Yayasan Sidik Mampang Prapatan. Sidik singkatan dari Studi dan Informasi Dunia Islam Kontemporer. Teman teman dari berbagai kota di Indonesia biasanya datang dan diskusi tentang perkembangan situasi kondisi daerahnya.
Tokoh dan Pengamat politk nasional banyak diundang diskusi dengan teman aktifis untuk menmbah wawasan dan perspektif baru. Kita yang belum begitu melek politik akhirnya jadi terbuka. Indonesia tidak sesang baik- baik saja.