Kantor Ummi di Duren Tiga ini letaknya nyempil. Pas dibelokan yang hampir membentuk sudut 90 derajat. Nah kantor Ummi pas diujung siku. Ada jalan masuk satu mobil. Ketemu pintu gerbangnya. Kalau sudah masuk gerbang ada halaman cukup luas bisa muat 3 mobil dan beberapa motor. Buat ambil dan antar majalah dari percetakan ke para agen, Ummi masih sewa mobil pick up harian. Belum ada aset berharga yang dimiliki. Kecuali alat tulis kantor. Sistem tik naskah manual sudah diganti dengan komputer. Setting huruf di tempat mas Tun Aji sudah ditinggalkan.
Para kru Ummi-Annida mulai menambah skill. Aidil dikursuskan desain grafis di Inter Study. Ilustrator Fauzi dan Dedy Ramdhan juga menambah ilmu dengan ikut seminar dan workshop. Jangan membayangkan kantor Ummi itu seperti kantor di kawasan Thamrin Sudirman ya. Ini kantor majalah pergerakan. Tak ada plang nama identitas. Yang tahu itu kantor media ya cuman pegawainya saja. Orang lain yang lewat tahunya itu rumah biasa.
Indra dan aku mulai merintis pembentukan badan hukum yang legal buat Ummi dan Annida. Pilihannya waktu itu kita bikin badan hukum koperasi. Namanya Koperasi Insan Media Ummu Salihah. Disingkat Kimus. Memang gak lazim sih media massa berbadan hukum koperasi. Tapi gak papa sebagai sebuah rintisan menuju perizinan mesti dilakukan. Ummi juga dicetak masih menggunakan mesin cetak kecil. Masih cetak di salah seorang ikhwan yang punya bisnis percetakan. Semua dikerjakan dan diorderkan antar teman saja. Alhamdulillah semuanya berkah. Gaji juga sudah bisa tepat waktu tiap akhir bulan. Gak pake dicicil nunggu setoran dari para agen.
Vespa bekas warna coklat tua yang dulu aku beli awal nikah juga sudah ganti. Dengan sedikit tabungan dan pinjem uang ke ibu, aku bisa beli vespa eksklusif 2 seken warna biru yang rada bagusan. Vespa milik Agus Jatmiko kakaknya Septi itu masih mulus. Seneng bener aku naik vespa itu. Antar isteri kemana mana lebih mantap. Bawa anak balita juga asik asik aja. Jarang mogok pula. Naik vespa yang lama aku pernah hampir celaka soalnya. Waktu itu isteri masih kuliah di al hikmah aku jemput pulang. Di daerah jalan Saharjo saat sedang melaju kencang tiba tiba ban belakang pecah. Vespa oleng ke kanan ke kiri. Alhamdulillah gak sampai jatuh terpelanting mencium aspal. Aku masih bisa kendalikan vespa sehingga selamat. Isteri waktu itu lagi hamil anak pertama. Setelah di periksa ke bengkel ternyata bukan hanya bocor tapi pecah. Pecah ban luar itu disebabkan gesekan ban dengan per shocbeker belakang. Ban jadi tipis dan robek. Alhamdulillah yang pecah ban belakang kalau ban depan mungkin bisa lain urusan.
Tugas bantu penerbitan bulettin jumat di kantor LPPD Khairu Ummah berhenti. Aku ditugaskan yang lebih menantang yaitu mengurusi dakwah di Sumatera. Ada Yayasan Bumi Andalas yang bergerak di bidang pendidikan, sosial dan dakwah. Aku ditempatkan di bagian pendidikan politik dan media. Wilayah kerjanya ya mulai dari provinsi Lampung sampai provinsi Aceh. Biasanya sebulan sekali kita kunjungi kota kota di sumatera. Kadang aku naik kendaraan umum bus antar lintas sumatera. Atau kalau kita perginya barengan kita sewa mobil selama sepekan buat mengunjungi kota kota di sumatera.
Penugasan di Sumatera ini menambah wawasan dan pengalaman. Jalan sampai kota yang jauh di luar pulau Jawa tentu banyak peristiwa terjadi. Asiknya lagi setiap kita jalan darat pasti menyeberangi selalt sund. Naik kapal ferry merak-bakauheni sudah tak asing lagi.
Agen Ummi di sumatera juga lumayan gencar menambah pelanggan. Terutama di universitas negeri. Dari mulai Unila, Unsri, Unand, Usu sampai Unsyiah Banda Aceh. Jaringan dakwah yang terbentuk itu kemudian berkembang bukan hanya untuk syiar Islam. Tapi ada juga unsur bisnisnya. Jual majalah Ummi dan Annida pada waktu hasilnya lumayan. Bisa buat bayar uang kuliah. Buya Mahyeldi yang sekarang jadi Gubernur Sumbar Terpilih dulunya juga mantan agen majalah Ummi.
Isteriku sebelum nikah jualan Ummi. Sekali terbit bisa habis 100-200 eksemplar. Tabungannya lumayan dari hasil jualan Ummi. Gak sampe bisa buat beli emas sekilo sih. Tapi bisa lah beli bakso sama es campur yang enak di pasar Sunangiri. Pas nikah sama aku tentu masih tetap jualan. Bahkan lebih banyak lagi. Diskonnya dapat lebih gede soalnya.
Itulah yang disebut berkah. Kita gak cuman ngomong doang masalah keberkahan dalam dakwah ini. Tapi sudah ngerasain bener bahwa berkah dari apa yang kita peroleh bikin hidup jadi tambah tenang. Kalau hidup kita tenang, mau cari apalagi memangnya di dunia ini?