#23KAMPUNGMELAYU

Ummi terus lanjut walau tanpa Aad. Kantor pindah lagi ke daerah Kampung Melayu Kecil. Karena Bambang anaknya sudah nambah gak cocok lagi berbagi ruangan dengan Ummi. Akhirnya aku yang tugas nunggu kantor. Mimih sedih aku keluar dari rumah gang Duren. Tapi ya mau bagaimana lagi tugas negara memanggil. Gang Duren Utan Kayu-Kampung Melayu gak terlalu jauh. Jadi kami sering nengok mimih.

Ternyata bete juga ya berkantor di rumah. Soalnya kita gak kemana-mana. Pindah kamar doang. Rumah kampung Melayu ini cukup besar 2 lantai. Agak masuk gang kecil tapi masih bisa masuk mobil. Daerah perumahan padat dan langganan banjir. Karena letaknya tak jauh dari bibir kali ciliwung. Pernah waktu banjir besar air hampir masuk rumah. Sementara tetangga beda RT yang letaknya di bawah air kali sudah hampir sampai atap rumah.

Aku dan keluarga kecil dengan anak satu tempatin lantai bawah. Sementara lantai atas buat kantor Ummi. Kantor masuknya dari pintu samping bukan pintu utama. Jadi privacy gak terganggu. Aku lupa di kampung melayu ini Ummi satu tahun atau 2 tahun. Yang jelas buat aku ini pelajaran bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Rumah ini letaknya di perkampungan padat. Dengan tetangga rumah saling dempet. Sebagai keluarga baru dan pendatang tentu mesti bisa menyesuaikan diri. Alhamdulillah aku gak pernah kelahi sama tetangga.

Sementara itu suami isteri Dadi dan Septi bikin majalah but remaja. Namanya Annida. Annida waktu itu terbit tahun 1991. Septi sebagai pemimpin redaksinya, Dadi sebagai pimpinan usaha. Suami isteri ini selain usaha katering juga mulai berdakwah ke kalangan remaja muslimah lewat majalah. Bedanya dengan Ummi yang redaksinya bapak bapak. Septi merekrut mahasiswi UI yang masih gadis belia. Selain Septi yang lulusan IKIP Jakarta ada beberapa mahasiswi UI yang gabung antara lain Helvy Tiana Rosa, Dian Yasmina Fajri, Inayati, Dewi Fitri Lestari dan Haula Rosdiana. Lo masih inget aja Brur kalo nama lengkapnya anak anak gadis cantik?

Jadi begini ceritanya kenapa aku inget bener nama nama mereka. Dua tahun Annida yang dirintis Dady dan Septi tirasnya stag gak naik naik. Dulu andalan pemasukan majalah kita ya cuman tiras. Belum ada pemasukan dari iklan. Maka kalau tiras cuman sedikit ya pasti gak nutup ongkos produksi. Alias rugi. Aku usul sama Indra supaya Annida bergabung aja jadi satu manajemen. Ya dengan syarat kebijakan redaksionalnya kita yang atur. Aku lihat majalah Annida ini segmennya remaja tapi pendekatan redaksionalnya dewasa. Rubrikasinya terlalu banyak dan kesannya ‘menggurui’ mereka. Gak cocok.

Jaman itu ada majalah Anita Cemerlang. Isinya cerita pendek dan cerita bersambung sama hiburan ramalan bintang. Laku keras. Maka saya usul dibawah manajemen Ummi nanti kita ubah Annida jadi seri kisah Islami. Isinya ya cerita pendek dan cerbung tapi nuansanya islami. Bukan sekedar cinta cintaan aja. Tim redaksi Ummi setuju. Akhirnya aku yang lobi Daddy dan Septi.

Daddy dan Septi ini kan ‘mertua’ku hehe. Jadi gak susah meyakinkan bahwa Annida nanti punya prospek bagus buat dakwah di kalangan remaja. Tentu dengan sentuhan yang beda. Akhirnya deal. Tahun 1993 Annida resmi gabung dengan Ummi dengan sentuhan gaya baru. Jadilah majalah Seri Kisah-kisah Islami Annida dengan redaksi yang sama tapi gaya berbeda. Yang berubah cuman pemimpin redaksinya aja. Tadinya Septi sekarang aku ditugaskan manajemen Ummi jadi pemred Annida.

Jadi kenapa akutuh kenal bener nama nama mahasiswi Ui redaksi Annida itu karena hampir tiap pekan rapat sama mereka. Para mahasiswi kampus ternama dengan talenta luar biasa. Pemrednya anak IISIP gak jelas lulusnya kapan. Gak bisa bikin cerpen pula. Haha. Biasa rapat sama bapak bapak ngurus Ummi. Sekarang rapat bareng para gadis ngurus cerpen.

Cerita HTR Alhamasah nama pena Helvy waktu itu yang judulnya Ketika Mas Gagah Pergi menandai era baru sastra islami di indonesia. Dia jadi cover dan cerita utama. Annida gaya baru edisi pertama itu habis tak tersisa. Kita para redaksi makin ceria dan tambah semangat. Akhirnya sesuai dengan prediksi. Cerita islami mulai digemari. Menjamur menggurita. Bukan hanya di majalah Annida saja. Tapi sudah merambah ke penerbit buku.

Emang lo bisa Brur bikin cerpen? Kan anak buah pada jago jago semua? Masak pemrednya malah kagak bisa bikin cerpen? Ya habis gimana. Kita cuman punya ide doang. Yang pinter pinter kan mereka. Udah syukur alhamdulillah mereka mau dipimpin sama mabruri yang dhoif ini. Jadi. Di Annida aku gak nulis cerpen tapi cuman pegang rubrik Kafe Nida sama bikin skrip buat komik Senyum Nida.

Rubrik Kafe Nida ini cuman satu halaman, Pembaca bertanya Nida menjawab. Pertanyaan dikirim lewat kartu pos. (Dulu belum ada WA. Maap) nanti saya yang tugas jawab. Jawabannya biasanya ngaci bener. Tanya apa jawabnya apa. Gak nyambung. Tapi lucu. Di bagian belakang majalah Annida ada komik strip Senyum Nida. Si Nida Ciri khasnya jilbab panjang yang ujungnya meliuk kayak keris, sama kaca mata Nida yang framenya gede nenggelamin hidung Nida. Aku yang bikin naskah skrip. Nanti Fauzi yang bikin gambar komiknya. Ini juga bikin ngakak para akhwat jaman dulu. Walopun sering garing sik leluconnya. Tapi mayan dah.

Yah. Alhamdulillah Annida dan Ummi terus berkembang. Dengan ide dan kreasi baru. Pola pemasaran yang baru juga. Dan sistem keagenan yang lebih terbuka. Aku sekarang hidup di dua kaki. Di majalah Ummi sebagai redaktur. Di Annida sebagai pemred. Enak dong Brur gaji dobel? Enak apaan? Gaji mah tetep. Kerjaannya aja nambah jadi dobel. Tapi aku hepi kok. Santuy aja.

Diterbitkan oleh brurmabrur

Pernah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Ummi dan Annida. Kini aktif sebagai Presiden Komunitas Bambu Wulung. Sebuah komunitas yang mewadahi para pekerja, pemikir dan penyuka seni budaya. Ketua Bidang Humas PKS 2020-2025. Bisa dihubungi di ahmad.mabruri@gmail.com

Tinggalkan komentar