Kantor Ummi di Kayumanis 1 ini gak lama. Posisinya hampir dekat ke arah jalan Pramuka. Seberang rel kereta api nanti ketemu pasar burung Pramuka. Seingat aku cuman beberapa bulan saja. Kantor ini rumah kontrakannya Adriano Rusfi pimpinan Ummi. Di sampingnya ada semacam paviliun. Karena kita redaksi cuman berlima jadi kantor sering sering pindah juga gak masalah. Barang cuman sedikit dan gak bakalan ada klien yang datang juga.
Adriano Rusfi atau biasa dipanggil bang Aad ini bukan turunan Meksiko tapi urang awak asal Sumatera Barat. Badannya kecil imut tapi nyalinya gede. Kalau nulis tajam dan kalau punya mau susah dilawan. waktu itu Ummi mau mulai ekspansi. Masuk tahun ketiga mesti ada perubahan. Format yang tadinya mungil seukuran buku tulis anak SD mulai berubah agak besar dikit. Untuk menggenjot tiras mesti buka keagenan yang lebih luas. Selama ini keagenan Ummi basisnya masih kampus. Agennya anak mahasiswa aktivis islam yang nyambi jualan Ummi buat nambah biaya kuliah. Belum ada keagenan yang profesional.
O ya selain Ummi yang sudah terbit ada juga majalah yang lebih dulu eksis yaitu Sabili. Kalau Ummi terbit mulai 1989, Sabili yang dikomandoi Zainal Muttaqin terbit 1988. Sabili lebih galak isinya. Pembelaan kepada politik keumatan sangat kental. Zainal Muttaqin mahasiswa politik di UI. Biasanya aktivis islam saat itu kalau beli majalah atau ngeagenin majalah selalu couple Sabili dan Ummi. Sabili buat konsumsi politik dan wawasan keislaman. Ummi buat para muslimah membangun keluarga islami.
Balik lagi ke Adriano Rusfi. Dia punya ide untuk cantumin daftar agen Ummi se Indonesia. Maksudnya agar orang yang mau langganan bisa langsung kontak alamat dan no telpon yang ada di majalah itu. Maksudnya bagus buat pengembangan Ummi ke depan tapi ada faktor keamanan ketika nama nama agen diumumkan beserta alamat lengkap dan nomor kontaknya.
Maka pada Ummi terbitan terbaru di cetak nama agen seluruh Indonesia. Ditaruh di halaman 2 cover depan dan halaman 3 cover belakang. Setelah majalah jadi semua ternyata ada yang protes berkaitan pemunculan nama nama agen itu. Dalihnya masalah keamanan dakwah yang masih rawan dan terbacanya peta dakwah gerakan tarbiyah di masa itu. Akhirnya diputuskan agar daftr nama agen itu ditarik sebelum Ummi diedarkan. Nah, masalah muncul trkait teknis ‘penghilangan’ nama agen itu, Mau bikin cover baru dan ganti cover lama. Atau menghapus dengan tiner daftar agen itu.
Kalau yang pertama akan nambah biaya. Ummi gak punya duit. Kalau opsi kedua waktunya bakal lama. Karena proses menghapus dengan tiner ini gak bisa cepat. Majalah dibuka, ambil kapas celupin tiner kemudian menggosok daftar agen yang sudah tercetak di halaman 2 dan 3 cover. Kebayang kan ribetnya?
Tapi walau ribet karena biaya murah yang diambil opsi 2. Jadilah kita kerja keras berhari-hari ngapusin cetakan pakai tiner. Oplah waktu itu sekitar 10 ribu eksemplar. Kebayangkan pegelnya? Nah hal inilah yang bikin Aad konflik dengan pengurus Ummi lainnya. Aad anggap gak masalah pencantuman nama agen itu. Tapi Indra, Bambang dan aku serta yang lainnya maunya dihapus demi keamanan. Mulailah pecah di dalam Ummi. Kata sepakat gak kunjung tiba. Ujung-ujungnya Aad cabut. Indra Sakti menggantikan posisi Aad.
Itulah khas orang-orang media. Kalau ide idenya gak tersalurkan ya cabut. Bikin yang baru lagi. Majalah majalah nasional waktu itu juga banyak pengelolanya yang konflik. Majalah Gatra sebagian pimpinan dan wartawannnya bikin majalah Gamma. Sebelumnya awak Gatra juga dulu bekas awak Tempo yang gak puas dengan pengelola majalah Tempo.
Jadi jangan dikira semua berjalan mulus mulus aja. Sabili yang dipimpin Zainal Muttaqin juga gak sepi dari konflik baik di awal terbit maupun saat Sabili sudah besar. Dulu selain Sabili muncul juga majalah Ishlah. Salah satu sebab munculnya Ishlah kalau tak salah juga karena gak cocok dengan manajemen Sabili pimpinan Zainal Muttaqin.
Mengelola gagasan dari banyak kepala memang bukan perkara mudah. Walau sama sama lahir dari rahim tarbiyah tapi tak semua pikiran bisa diseragamkan. Kalau kaos partai mah gampang diseragamin. Tinggal order ke konveksi. Yang susah memang mempersempit jurang perbedaan.
Ummi tetap lanjut kok. Walau pimpinan berganti tapi misi menyebarkan gagasan tak boleh berhenti. Di bawah komando Indra perlahan tapi pasti Ummi makin besar. Badan hukum yang menjadi landasan legal sebuah penerbitan juga mulai diurus.
Yup. Lanjut!