#19KAYUMANIS7

Selama majalah Ummi terbit sudah lebih 10 kali pindah ‘kantor’. Pertama kali di rumah kontrakan bang Aad di Bukit Duri (aku belum bergabung), setelah itu belakang Kantor Pos Utan Kayu, pindah lagi ke Kayumanis 1, terus ke Cipinang Ketoprak, balik lagi ke Kayumanis 7 samping apotik Kayumanis. Dilanjutkan ke Kampung Melayu Kecil, Cipinang Muara, Duren Tiga, Jalan Dukuh Kampung Rambutan, Jalan Kemuning Utan Kayu dan berakhir di Jalan Mede Utan Kayu. Total hampir 11 kali pindah kantor. Mungkin urutan pindahnya ada yang gak pas. Tapi seingatku itulah markas Ummi selama terbit 28 tahun.

Enaknya kerja di Ummi itu gak kaya kantor beneran. Tapi kayak rumah sendiri. Pertama kali aku dapat tugas bikin naskah, mesti bawa mesin tik sendiri dari rumah. Mesin tik antik punya babe karena hurufnya miring, Bukan tegak seperti biasa. Ngetiknya juga sambil nyender di tembok sementara mesin tik ditaruh di lekar meja kecil yang biasa buat ngaji. Makan siang kadang disiapin isterinya Bambang Sunaryo atau kita beli di warteg.

Kantor di Kayumanis 7 ini lebih besar dibanding Utan Kayu sebelumnya. Letaknya persis apotik Kayumanis. Bambang Sunaryo dan keluarga nempati bagian depan. Kantor Ummi bagian belakang. Pintunya masuk lewat garasi. Di dalam masih ada sedikit taman terbuka. Kantor Ummi di Kayumanis ini karena cukup besar sering dipakai buat ‘rapat rapat gelap’ aktifis dakwah. Waktu itu sebutannya organisasi tanpa bentuk atau OTB.

Dulu proses nerbitin majalah ribet amat gak kayak sekarang. Komputer kita belum punya. Naskah yang sudah ditulis pakai mesin tik dikumpulkan dan dibawa ke tempat setting. Ada langganan ketik setting namanya mas Tun Aji di bukit diri. Naskah yang sudah diketik ulang, bentuknya jadi gulungan panjang. Kemudian dipotong-potong sesuai dengan dummy yang sudah disiapkan. Mesti pas nempelnya dan bener halamannya. Kalau lihat Aidil nge-layout isi majalah Ummi dulu perasaan capek bener. Mesti bungkuk lama badannya. Andalannya kotak kaca, cutter sama lem kertas.

Bentuk fisik majalah Ummi gak seperti majalah wanita umumnya. Formatnya mungil sebesar buku tulis waktu SD. Sudah kecil tipis pula. Sudah tipis hitam putih pula. Makanya waktu itu harga majalah Ummi 500 perak aja. Sementara harga majalah wanita lainnya sekitar 3000-5000 rupiah. Mulai dari redaksi, pemasaran, distribusi sampai pencarian iklan kita bangun jaringan sendiri.

Pasar Ummi adalah para mahasiswi di perguruan tinggi. Diedarkan melalui perantaraan para mentor yang membina pengajian di kampus. Distribusi majalah dilakukan saat mereka pertemuan rutin pekanan. Jangan harap bisa dapatkan majalah Ummi di lapak penjual majalah/koran pinggir jalan. Semuanya berjalan semi tertutup. Tapi rapih. Duit dari penjualan majalah itu kemudian diputar kembali buat cetak majalah berikutnya.

Terus modal Ummi dari mana Brur? Nah itu dia. Gak jelas. Bang Aad yang paham dari mana asal muasal duit buat nyetak Ummi. Aku dulu tugasnya di redaksi. Gak ngurusin duit dan distribusi. Ummi ini hampir semua tulisan bentuknya artikel atau feature. Gak ada news. Jadi gak banyak liputan. Yang ada wawancara nara sumber buat bahan laporan utama. Misal Laporan Utama bulan Mei tentang pendidikan muslimah. Aku tugasnya wawancara para tokoh pendidik. Nara sumber banyakan para ustadz dan ustadzah kita juga. Jarang tokoh nasional.

Berkahnya Ummi berbanding lurus dengan banyaknya muslimah yang hijrah pake jilbab. Ummi ini bacaan muslimah kampus perkotaan. Oplahnya makin nambah sesuai dengan makin aktifnya Lembaga Dakwah Kampus (LDK) di perguruan tinggi negeri. Perlahan tapi pasti oplah Ummi makin merangkak naik. Artinya isi Ummi diterima dan disenangi pembaca. Alhamdulillah.

Hampir semua isi Ummi di produksi sendiri. Aad, Indra, Bambang tiga mahasiswa psikologi UI yang jadi pemasok tulisan. Mungkin karena ditulis dengan pendekatan psikologis yang benar, dakwah bil qalam ini mudah diterima pembaca. Banyak juga yang menjadikan tulisan di Ummi sebagai bahan buat ngisi kultum atau kajian islam.

Aku juga makin semangat kerja di Ummi. Peran aku yang tadinya cuman bantu melengkapi artikel, kini udah mulai meningkat. Usulanku buat tema Laporan Utama mulai diakomodir. Jatah untuk mengisi rubrik tetap juga mulai diberikan. Korespondensi dengan pembaca mulai banyak. Surat pembaca yang masuk PO BOX Ummi selain berisi tulisan dan usulan dari pembaca juga permintaan jadi agen di kota mereka.

Biasanya yang minta jadi agen adalah toko buku Islam yang berada di sekitar kampus. Bacaan buku islam juga lagi bagus penjualannya saat itu. Yang gak kalah lakunya adalah busana muslimah. Tiga produk ini kemudian jadi ladang bisnis yang cukup menjajikan. Banyak yang tadinya cuman iseng kemudian berkembang jadi bisnis serius.

Kalau Ummi sih dari awal udah serius. Kalau gak serius mana bisa jadi majalah. Bikin majalah kan mesti serius. Mulai dari konsep, target pembaca, pembuatan konten, pemasaran, distribusi, manajemen agen dll. Majalah ini produk intelektual. Cuman dibikin gaya pop sehingga enak dibaca dan menarik.

Ayo siapa yang dulu langganan Ummi?

Diterbitkan oleh brurmabrur

Pernah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Ummi dan Annida. Kini aktif sebagai Presiden Komunitas Bambu Wulung. Sebuah komunitas yang mewadahi para pekerja, pemikir dan penyuka seni budaya. Ketua Bidang Humas PKS 2020-2025. Bisa dihubungi di ahmad.mabruri@gmail.com

Tinggalkan komentar