#17UTANKAYU

Usai subuh di suatu hari pada Maret 1990 aku dapat perintah. ‘Brur, ente hubungi bang Aad. Dia ada di Utan Kayu kantor majalah Ummi. Ente bantuin di redaksi ya! ‘

Begitulah awal mulanya aku bergabung dengan majalah Ummi. Gak pake lamaran. Gak pake test dan gak pake wawancara. Tapi penugasan!

Siangnya aku temuin bang Adriano Rusfi nama lengkap bang Aad. ‘Kantor’ Ummi yang dimaksud sebenarnya gak layak disebut kantor. Tempatnya di belakang kantor pos Utan Kayu Raya. Masuk kantor lewat gang kecil sebelum kantor pos. Hanya muat motor. Sebelah kiri nanti ada rumah kecil 3 kamar dengan satu ruang tamu. Rumah itu tempat tinggal Bambang Sunaryo. Ada sekat di ruang tamu yang membatasi antara wilayah privat Bambang dan keluarga dengan ‘ruang redaksi’. Gak ada meja kursi ngampar aja. Di kamar satunya lagi baru ada 2 meja dan kursi.

Siang itu aku lapor sama Bang Aad bahwa ditugaskan bantu redaksi Ummi. Di kantor itu ada juga Bambang Sunaryo tuan rumah sekaligus penunggu kantor, Indra Sakti, Aidil Heryana dan Abdul Azis.

Tugas pertama aku di majalah Ummi adalah cari Keris dan Blangkon buat properti pemotretan kover majalah Ummi. Laporan utama majalah Ummi edisi itu membahas adanya praktek perdukunan di kalangan tarbiyah. Sukses aku minjem keris dan blangkon Kak Worri tetanggaku di Bearland. Habis di poto buat kover, dua benda itu aku balikin.

Majalah Ummi terbit pertama kali April 1989. Para pengelolanya ya trio mahasiswa psikologi UI yang saya sebut di atas. Aad, Indra dan Bambang. Ada Aidil bagian layout dan Abdul Azis bagian sirkulasi. Itu aja yang aku sering ketemu di Utan Kayu. Selain mereka banyak juga teman lain yang tidak terlibat langsung di keredaksian. Ada Agus Sudjatmiko, Idris Luthfi, Muchtadi dll yang aku gak terlalu ingat siapa lagi yang membidani Ummi.

Majalah ini diterbitkan dengan modal semangat yang jelas tapi modal dana gak jelas. Statusnya juga majalah liar. Kenapa liar? Karena gak ada badan hukum yang menerbitkan, alamatnya gak jelas, nama nama redaksinya juga nama alias semua. Surat menyurat dan wesel pos buat biaya berlangganan dikirim ke PO Box yang disewa di kantor pos Jatinegara. Jadi kalau ada surat atau wesel buat langganan majalah sampainya ke kotak pos di Jatinegara. Nanti Abdul Azis yang pegang kunci kotak itu akan ngambil ke kantor pos Jatinegara.

Alamat jelas yang tertera di majalah Ummi numpang di alamat rumah bang Idris Luthfi Rambe di Jl Infanteri KPAD Jatiwaringin. Bapaknya tinggal di komplek perwira angkatan darat. Jadi biar aman. Kalau diintelin biar dibales sama bapaknya Idris. O iya. Bapaknya Idris ini juga dosen aku di IISIP. Pak Nazarudin Rambe, SH ini ngajar mata kuliah pengantar ilmu hukum dan sistem hukum Indonesia.

Zaman orde Baru bikin majalah mesti ngurus SIUPP dulu. Surat Izin Usaha Penerbitan Pers. Harus punya badan hukum dan jumlah duit yang buanyak biar izin keluar. Itu baru izinnya, belum lagi modal buat nerbitinnya. Hil yang mustahal bisa dipenuhi oleh anak anak mahasiswa.

Makanya Ummi dibikin underground, diedarkan ke kalangan terbatas tetapi sebisa mungkin dikelola baik biar tetap terbit dan jadi alat dakwah.

Aku inget bener arahan saat ditugaskan di Ummi. Jadikan Ummi sebagai sarana nasyrul fikroh (penyebaran pemikiran), tanmiyatul kafa’ah (pemanfaatan potensi) dan sekaligus sebagai kasbul mai’syah (sumber penghasilan). Jadi 3 prinsip inilah yang selalu dipegang oleh para pengelola Ummi.

Aku merasa mendapat kehormatan bisa gabung di tim Ummi ini. Secara aku emang latar belakang kuliah jurnalistik, aktif sejak SMA di bidang dakwah dan sekaligus buat cari penghasilan juga.

Kalau soal penghasilan di Ummi gak usah kaget deh. Ya pastinya dibawah rata rata. Sebagai pembanding. Waktu aku lulus SMA dan jadi sales kertas komputer gajinya sekitar 180 ribu sebulan. Nah di Ummi ini kita hanya dapat 80 ribu sebulan itupun dibayar nyicil sesuai dengan setoran dari agen penjual Ummi. Jadi kita gajian 2 pekan sekali 40 ribu pekan ke-1 dan sisanya dibayar pekan ke-3. Cukup Brur? Cukup sih enggak tapi berkah. Berkah ini dimensinya lebih luas dari cukup. Karena ukurannya bukan jumlah kuantitas saja. Tapi kemanfaatan secara lahir batin yang bikin hidup makin tenang. Banyak gajinya tapi banyak masalahnya buat apa? Mendingan banyak gajinya dan banyak manfaatnya. Yegak?

Di majalah Ummi inilah separuh usiaku dihabiskan. Mulai dari bujangan tahun 90 sampai Ummi berhenti terbit 2018 aku selalu membersamai Ummi. Besok besok aku akan cerita lebih detail bagaimana kita para lelaki berjuang untuk keberlangsungan terbitnya majalah perempuan.

Memang yang paling ngerti perempuan ya lelaki. Hehe.

Diterbitkan oleh brurmabrur

Pernah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Ummi dan Annida. Kini aktif sebagai Presiden Komunitas Bambu Wulung. Sebuah komunitas yang mewadahi para pekerja, pemikir dan penyuka seni budaya. Ketua Bidang Humas PKS 2020-2025. Bisa dihubungi di ahmad.mabruri@gmail.com

Tinggalkan komentar