Situasi kampus memang beda banget sama SMA. Di kampus ‘perang’ pengaruh pemikiran kental. Aku kalau gak digembleng di Majelis Taklim 31 waktu SMA mungkin udah ikut begajulan sama temen temen. Penting makanya pembinaan kepribadian islami sejak awal masuk SMA. Kalau sudah di kampus kita tinggal beatle aja.
Selain aktif di musolla kampus, aku juga ikut tim softball kampus. Latihan di lapangan softball Senayan. Sempat sekali ikut turnamen antar kampus se Jakarta. Kalah. Geng softball ini kumpulan anak agak the have. Aku juga gak tahu kenapa dulu itu bisa nyasar ikutan klub softball kampus. Padahal aku kan geng anak misqueen.
Sebagai aktivis musolla aku bikin kelompok studi Kalam. Isinya kajian tentang isu keislaman kontemporer. O ya waktu di kampus iisip gak ada Masjid. Kita kalau jumatan mesti keluar kampus. Musolla juga hanya dipakai buat solat jamaah 5 waktu. Tempatnya kecil cuman muat 40-50 jamaah sekali solat. Acara kajian islam biasanya pake lokasi di luar kampus. Sekali waktu pernah bikin dauroh buat adik angkatan di villa depkes daerah Cipanas. Acara 3 hari itu jadi ajang pengkaderan aktifis islam kampus.
Kakak angkatan yang aktifis HMI kayak bang Yosri Fajar, bang Azmi Daud, bang Edysas akhirnya juga tertarik ke kelompok tarbiyah yang aku ikuti. Gerakan anak anak tarbiyah di kampus swasta kayak iisip ini memang tak sebesar gerakannya di kampus negeri macam UI, ITB, IPB, UGM, Brawijaya dll. Tapi setidaknya di kampus iisip ada bibit tarbiyah yang mulai ditanam.
Semester 5 aku sempat kost di sekitar kampus. Sewa kamar kecil buat dua orang. Aku sekamar sama Boim Lebon salah seorang geng penulis cerita Lupus besutan Hilman Hariwijaya. Boim ini anaknya lucu, item, keriting dan gemesin. Kalau ketemu pengennya nabok aja. Sekarang Boim Lebon kerja di RCTI dan produktif sebagai penulis. Aktif juga di Forum Lingkar Pena yang dibikin Helvy dan kawan kawan.
Sementara dengan geng nongkrong aku bikin semacam ‘majalah’ kampus independen. Namanya Pengaponz. Isinya lebih ke info hiburan. Ada cerpen, cerbung, gosip gebetan, info kost sekitar kampus, sampai ramalan bintang. Majalah bukan dicetak. Tapi dipotokopi. Diperbanyak sesuai PO yang udah dibikin. Gak banyak sih eksemplarnya paling 50-100 eksemplar. Terbit juga gak jelas temponya. Sesuka suka kita aja. Otak majalah ini Fahri Asiza penulis buku anak Gramedia. Sekarang penulis skenario sinetron Dunia Terbalik.
Terus siapa cowok yang berhasil mendapatkan Ayu? Mahasiswa mana yang beruntung? Alkisah rektor waktu itu pak AM Hoetasoehoet punya anak laki. Namanya Ilham Parsaulian Hutasushut. Bang Ilham ini lulusan ITB Bandung. Dia jadi dosen di IISIP ngajar mata kuliah IAD Ilmu Alamiah Dasar. Entah gimana cerita detailnya yang jelas Bang Ilham sama mbak Yayuk jadian dan gak lama kemudian nikah. Waktu lamaran babe aku juga yang nerima lamaran Hoetasoehoet. Jadi gegara pernikahan itu aku jadi sodaraan sama pak Rektor.
Aku lupa tahun berapa mbak Yayuk sama Bang Ilham nikah. Yang jelas babe meninggal dunia Februari 1988. Berarti lamaran sebelum itu. Aku ingat resepsi pernikahan di aula Balai Kota DKI. Berarti mbak Yayuk menikah saat semester 6 atau 7. Dan habis nikah tetap kuliah sampai selesai.
Terus nasib lo gimana Brur? Apakah masih tetap menjomblo dan ngurusin kegiatan musolla? Ya gak kaku kaku amat sik. Kita mah orangnya fleksibel. Bisa masuk di kelompok mana aja. Ada sedikit story juga sama urusan hubungan dengan teman wanita di kampus ini. Tapi gak semeriah Ayu-Ilham yang bikin patah hati banyak mahasiswa. Aku mah silent aja. Tapi dalam. Haha.