Lulus SMP Muhammadiyah tahun 1982 aku diterima di SMA Negeri 31 di Jalan Kayumanis Timur. Jarak rumah ke SMA 31 agak jauh. Sekitar 4 Kilometer. Tapi aku tetap jalan kaki pergi pulang. Rutenya nyebrang jalan lewat Pasar Palmeriam. Nyebarang rel kereta api. Trus motong jalan lewat gang kecil. Nanti langsung nembus ke depan pintu gerbang SMA 31.
Semua anak kelas 1 waktu itu masuk siang. Kelasku masuk pertama di kelas 1 sebelas lanjut ke kelas 1 IPA 6, 2 IPA 3 dan terakhir 3 IPA 2. Ada dua orang temen SMP yang juga diterima di 31. Arman dan Dede Janata. Mereka berdua tinggal di bukit duri Manggarai. Kalau berangkat sekolah selalu nyamper dulu ke rumah. Baru nanti kita bertiga jalan bareng ke sekolah.
Mulai dari kelas 1 aku sudah gabung di ekskul Majelis Taklim 31. Ketua majelis taklimnya waktu itu kakak kelas 2 Abrory MD Jabbar. Namanya mirip mirip sama aku. Tapi ganteng dan pinteran kak Abrory. Sampai sekarang masih suka kontak dengan kak Abrory. Dia salah satu pengacara dan budayawan. Suka dengan lukisan dan musikalisasi puisi. Tinggal di kawasan elit Pondok Indah. Beberapa kali bikin acara di rumahnya.
Ketua Majelis Taklim angkatan aku Rahmat Imanuddin. Aku waktu itu jadi seksi perpustakaan MT31 bareng dengan Ariono Anggar. Nah pas kita kelas 3, ketua MT31 dijabat Abdullah Muaz atau Bang Uwo. Beliau sekarang pimpinan pondok pesantren Assyifa Subang. Fadly Zon yang sekarang politisi Gerindra adik kelas Abdullah Muaz. Fadly ini masih keponakan penyair Taufik Ismail. Taufik Ismail tinggal di jalan Utan Kayu Raya. Satu deret dengan Komunitas Utan Kayu 68H.
Urusanku selama di SMA selain sekolah adalah urusan majelis taklim. Dari mulai kelas 2 udah sibuk rekrutmen cari adik kelas yang mau ikut ngaji. O ya waktu itu yang dominan mempengaruhi kegiatan keislaman di SMA 31 dari HMI, PII dan Tarbiyah. Aku sempat ikut ngaji dengan mentornya bang Ka’ban salah satu ketua HMI. Waktu bang Ka’ban masih kuliah di Jayabaya kalau gak salah. Aku ikut kelompok pengajian malam di daerah rumah komplek Pertamina jalan Pemuda.
Gak lama sih ngaji sama bang Ka’ban karena sejak kelas 2 di SMA 31 masuk mentoring agama Islam. Bagain dari program MT31. Diajarkan di kelas kelas sebagai bagian dari pembinaan dan perekrutan anggota MT31. Majelis Taklim ini tidak dibawah OSIS ya. Kalau di tempat lain kan ada seksi Rohis yang masih dibawah OSIS. Tapi di 31 namanya MT31 dan markasnya di Musolla. Dia punya mekanisme sendiri dalam memilih ketua dan menyusun pengurusnya.
Di MT 31 selain berorganisasi dan belajar islam kita juga ada grup musikalisasi puisi dan teater, Didi Petet tercatat pernah menjadi peltih teater di MT31. Yang agak lama dan sudah dianggap saudara yaitu Mas Wess. Pelatih musikalisasi puisi. Asalnya dari Jogja dan karena waktu itu masih bujangan sempat tinggal di rumah Matraman selama sekitar satu tahun. Selain latihan musikalisasi puisi di sekolah maka musholla Matraman yang dikelola babe jadi markas kedua. Anak anak majelis taklim sering ngumpul di musholla ini. Letaknya paling strategis soalnya. Pinggir jalan besar dan halaman luas.
Yang rutin ngasih pengajian di mentoring MT 31 adalah Bang Anca atau nama lengkapnya Ihsan Arlansyah Tanjung, mahasiswa psikologi UI. Ada juga Ustadz Lani dan beberapa ustadz lain. Dulu lagi rame penolakan asas tunggal Pancasila buat landasan ormas. HMI sempat pecah. PII juga. Mereka banyak yang kemudian bergerak di bawah tanah.
Orang bilang masa sma adalah masa paling indah. Apalagi cinta monyet masa SMA. Cuman itu gak berlaku buat aku. Selama SMA ini gak ada cewek yang aku taksir dan gak ada cewek yang naksir aku. O iya karena sejak kelas 1 aku sudah masuk akil baligh jadi badanku gak kecil lagi. Suara sudah pecah dan badan juga jadi tinggi. Kalau kata si Doel anak betawi kerjaanku selama di SMA sembahyang dan mengaji. Haha…
Mushola Matraman Raya di mess rumahku jadi pusat kegiatan kedua setelah sekolah. Di musholla ini juga aku belajar jadi imam solat dan belajar ceramah kultum kalo babe lagi gak di rumah. Aku juga mulai ‘ngajar’ ngaji Alquran temen temen sebaya yang tinggal bareng di mess.
Bukan hanya anak SMA 31. Sejak kang Harna buka bimbel KBIM (Kelompok Belajar Intelektual Muslim) gratis buat anak kelas 3 SMA yang mau kuliah, musholla ini kalau siang jadi tempat belajar. Muridnya dari berbagai SMA Negeri. Mulai SMA 1, 3, 4, 7, 8, 31, 37 dll. Habib Aboe Bakar yang sekarang jadi sekjen PKS dulu pernah jadi murid disini. Tapi selain murid Aboe juga sebagai pengajar materi materi islam. Iya sih. Selain bimbel fisika, kimia, biologi, matematika semua murid wajib ikut materi keislaman.
Cuman KBIM di musholla ini gak sampai setahun. Tetanggaku pada komplain. Ini kelompok belajar apaan? Kok murid perempuannya yang belajar pakai jilbab lebar lebar beud warna hitam dan abu. Pakai cadar pulak! Mereka protes ke babe. Aliran islam apaan ini?
KBIM akhirnya pindah ke masjid Jami’ Matraman. Di seberang Taman Amir Hamzah. Di lantai 2 ada 2 ruangan yang bisa dipakai buat kegiatan bimbel. Setelah dari situ KBIM berubah nama jadi Nurul Fikri dan tempatnya pindah ke daerah Kenari.