#09PONDOKJATI

Lulus SD mestinya tahun 1978. Cuman karena waktu itu Daoed Yoesoef mendikbud bikin kebijakan perpanjangan sekolah 1 semester maka tahun itu kita kelulusannya bukan di Desember 1978 tapi di Juni 1979. Iseng aja ya pak menteri. Tahun ajaran baru semua mundur 6 bulan. Aku gak ngerti alasannya apa. Mungkin skor masih imbang. Sehingga perlu perpanjangan waktu.

Di sistem pendaftaran berdasarkan rayonisasi aku diterima di SMP Negeri 97 Galur Sari Utan Kayu. Lumayan jauh kalau jalan kaki dari rumah. Udah gitu babe maunya aku sekolah di Muhammadiyah. Biar ada landasan agama yang kuat. Akhirnya aku nyusul kakak sekolah di SMP Muhammadiyah V Kayumanis. Letaknya persis di seberang stasiun kereta api Pondok Jati. Jarak dari rumah ke sekolah sekitar 2 kilometer saja. Cukup jalan kaki tak usah naik kendaraan umum.

Masuk di kelas 1A aku badannya paling kecil. Duduk sebangku paling depan dengan Koswara Edi yang badannya kecil juga. Bedanya aku badan kecil karena masih muda. Belum masuk usia baligh. Kalau Engkos begitu panggilannya 3 tahun usianya diatasku. Tapi emang badannya kecil. Walau kecil Engkos nyalinya besar. Sering kelahi. Sama anak yang badannya gede dia gak takut.

Sampai sekarang kita alumni SMP masih komunikasi di grup whatsapp. Engkos ternyata sudah meninggal beberapa tahun lalu karena sakit. Gusti Taufik temen sebangku waktu kelas 3 D juga meninggal 2 bulan karena terinfeksi covid-19.

Di SMP ini tak banyak peristiwa menonjol. Biasa saja. Naik kelas 2 aku mulai sering main sepulang sekolah. Biasanya pulang ke rumah. Ganti baju sekolah. Makan siang. Terus naik sepeda main sama temen geng SMP. Pulang sore setelah ashar atau kadang menjelang maghrib baru sampai rumah.

Walau sekolah di Muhammadiyah waktu itu jarang guru perempuan yang pakai hijab. Apalagi murid perempuannya. Seingatku hanya bu Mariana yang pakai kerudung. Beliau mengajar baca Alquran.

Pemakaian hijab baru mulai marak sekitar tahun 83-an. Itu juga banyak drama. Pelarangan jilbab di sekolah. Murid-murid yang dikeluarkan dari SMA Negeri karena kekeuh gak mau lepas jilbab saat di sekolah. Sampai heboh jilbab beracun. Dan akhirnya muncul gelombang demo jilbab. Akhirnya pemerintah menyerah. Jilbab diperbolehkan dipakai di sekolah negeri. Dan sampai sekarang jilbab bukan hanya sekedar untuk menutup aurat. Bahkan lehih sebagai gaya hidup.

Diterbitkan oleh brurmabrur

Pernah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Ummi dan Annida. Kini aktif sebagai Presiden Komunitas Bambu Wulung. Sebuah komunitas yang mewadahi para pekerja, pemikir dan penyuka seni budaya. Ketua Bidang Humas PKS 2020-2025. Bisa dihubungi di ahmad.mabruri@gmail.com

Tinggalkan komentar