#07KEBONMANGGIS

Pindah ke Jakarta berarti pindah sekolah juga. Babe juga pindah kantor. Kalau aku gak salah Babe kantornya di Kobek Komando Perbekalan jalan Tongkol Jakarta Utara. Sebenarnya dari TNI AD sudah sediakan perumahan baru buat Babe. Rumah itu nanti jadi milik Babe. Letaknya di Pondok Gede. Tapi karena Pondok Gede waktu tahun 75 itu jauh bener dari pusat kota dan masih sepi, jatah rumah gak diambil. Malah dikasihkan ke anak buah babe.

Mbak Tuti kakak sulung masuk sekolah PGA (Pendidikan Guru Agama) Darul Mukminin di daerah Prumpung Jatinegara. Mbak Leli kakak nomor dua di SMTK (Sekolah Menengah Teknologi Kerumahtanggaan) Negeri di bilangan Pasar Baru. Mas Agus kakak nomor tiga di ST (Sekolah Teknik) jalan Kramat Raya. Mbak Piping kakak nomor empat di SD Pandawa. Ini sekolah punya isteri tentara. Tempatnya di dalam komplek Bearland. Aku masuk SD Negeri Kebon Manggis 09 pagi. Sedangkan dua adik laki laki Mahmud dan Iyan belum sekolah masih Balita.

Karena kecepetan masuk SD maka saat pindah kelas 3, guru di Kebon Manggis nyuruh aku masuk kelas 1 lagi. Umurku juga masih 7 tahun. Badanku juga masih kecil kayak anak cacingan. Ya jelas aku gak mau lah. Aku tetep mau masuk kelas 3. Pak Sadeli Sunyoto kepala sekolah SD waktu itu akhirnya aku tetap masuk di kelas 3. Pak Sadeli ini aku ngebayanginnya mirip dengan lagu Oemar Bakrie ciptaan Iwan Fals. Pak Sadeli rumahnya di Jalan Slamet Riyadi. Kalau ke sekolah naik sepeda kumbang. Pasti lewat depan rumahku. Rambutnya di sisir rapih belah pinggir dan selalu pakai minyak rambut tancho. Jadi kayak ada efek basah dan gak mudah berantakan. Pake kemeja selalu putih lengan pendek. Sepatu pantopel dan tas kulit. Cuman apa dari kulit buaya atau kulit biawak aku gak ngerti. Pak Sadeli selain kepala sekolah dia mengajar pelajaran menggambar. Nah akautuh seneng bener dengan pelajaran ini. Gambaranku bagus bagus. Pontennya selalu diatas 8.

SD Kebon Manggis 09 ini gak jauh dari rumah. Hanya sekitar 1 kilometer. Aku sekolah jalan kaki menyusuri troroar yang lebar. Letak sekolah agak masuk sedikit di jalan Kebon Manggis 1. Setelah melewati Kelurahan sebelah kanan itulah sekolahanku. Jajanan apa yang paling suka disekolahan? Krupuk mie kuning besar yang dicelup kuah sambel. Sebenarnya bisa juga pake sambel saos ubi yang diletakkan diatas kerupuk mie. Makannya nanti kerupuk dipotek dan dicocol ke sambel ubi itu. Tapi aku lebih suka yang kerupuknya direndam sebentar di kuah cabe. Lebih meresap bumbunya. Dan dapat sensasinya.

Di depan sekolahan aku ingat itu rumah penyanyi Wiwik Sumbogo. Lo inget aja Brur?. Ya ingetlah secara adiknya Wiwik Sumbogo sekelas ama sayah. Haha. Namanya Dyah Widiandari. Panggilannya Widi. Paling cantik di kelas sik. Yah namanya juga keluarga artis. ketularan cantiklah. Tapi kalo pinter mah masih pinteran gue.

Selama 4 tahun lebih satu semester aku sekolah di Kebon Manggis. Ada beberapa peristiwa yang masih teringat dan gak bakal lupa. Gak berapa lama awal masuk kelas 3 aku jadi korban perundungan atau bullian temen sekelas. Pasalnya aku pernah beabe di celana. Wkwkwk. Ini mungkin karena pagi pagi aku males antri mau buang air besar di rumah. Udah gitu toilet di sekolahan you know lah joroknya minta ampun. Mungkin aku mules abis makan krupuk mie maka kejadian dah. Sejak kejadian aku berak di celana dalam kelas itu aku dibulli sama temen temen. Nasib emang.

Peristiwa kedua adalah waktu kelas 5. Aku main lari-larian sama temen waktu jam istirahat. Karena kurang hati hati aku kepeleset dan jatuh dengan tangan kiri membentur pinggiran got. Akibatnya lengan atas sebelah kiri patah dan sendi tangan bergeser. Aku nangis kejer. Orang rumah dikabarin. Tapi karena bapak masih kerja maka yang jemput aku pak Bakri. Pak Bakri ini tukang tambal ban yang mangkal di depan rumah matraman raya. Dengan badannya yang besar aku digendong pulang ke rumah. Sampai di rumah aku dilarikan ke RSPAD Gatot Subroto. Tanganku di gips dan mesti pakai gendongan. Hampir sebulan lebih tanganku terbungkus gips. Waktu dibuka kulit jadi belang dan gak keliatan kurus pucat. Lebih dari dua bulan aku mesti bolak balik rumah sakit untuk fisio terapi. Pasalnya tanganku bengkok gak bisa diluruskan. Alhamdulillah lama kelamaan bisa lurus juga walaupun gak lurus lurus amat sih.

Guru yang paling galak adalah pak Bambang guru matematika. Anak anak yang nilai ulangannya 5 kebawah disuruh maju ke depan kelas menghadap papan tulis. Pak Bambang lalu ambil penggaris kayu yang panjangnya 1 meter. Dan pantat murid kw 5 itu kena tampar penggaris. Kejam ya? Lo pernah kena juga Brur? Ya iya lah. Kan gue pinter cuman pelajaran ngegambar doang sama biologi. Kalau matematika ampun kita. Underdog.

Temen SD yang masih keinget Nugra Bintas, juara kelas, ganteng anak perwira kolonel rumahnya di Kesatrian Raya. Teman sebangku Upit nama lengkapnya Prihantoro. Pinter juga badannya agak kecil pantaran saya. Ada juga Albertus Sucahyo. Katolik taat yang kabarnya sekarang jadi pastor. Kalau gak salah dia lanjut ke sekolah seminari di Magelang. Yang perempun? Ada Novarini anak padang. Pinter juga. Kelak dikemudian hari aku malah berteman sama kakaknya Novarina yang ketemu di pengajiannya Johan Efendi di jalan Proklamasi. Ada juga Erna anak Bearland yang mukanya mirip Wiwit. Wiwit ini rumahnya satu mess dengan aku di Matraman Raya. Wiwit anaknya pak Sutrisno yang menempati ruangan depan mess. Sekilas Erna dan Wiwit mukanya hampir sama. Mereka duduk sebangku. Tapi lama kelamaan aku pernatiin ternyata mukanya beda. Haha… labil bener sih lo Brur. O ya ada juga Ester dan Susan. Mereka ini tinggal di panti asuhan seberang Kebon Manggis. Letaknya di pinggir jalan Matraman Raya tapi nomor ganjil. Nama panti asuhannya Vincentius puteri kalau gak salah.

Yang bandel ada juga namanya Munkar. Dia anak Bearland. Pangkat bapaknya belum banyak. Alias masih prajurit. Kalau pulang sekolah dia gak langsung pulang. Nongkrong dulu di ujung jalan mau masuk Bearlanf depan warung pakde. Ntar kalau ada anak kecil lewat yang bukan anak Bearland dia palakin. Dimintain duit buat jajan. Aku beberapa kali diajak malakin bareng. Tapi hati nuraniku berkata ini bukan perbuatan terpuji. Maka aku tolak. Prinsipku lebih baik gak jajan daripada jajan dari hasil malak.

Aku jadi teringat ceramahnya pak Tifatul Sembiring yang sering diulang ulang. Daging yang tumbuh dari makanan haram dan uang yang haram maka nerakalah tempatnya. Ngerik ya.

Ah bisa aja lo Brur. Berak masih di celana aja belagu!

Diterbitkan oleh brurmabrur

Pernah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Ummi dan Annida. Kini aktif sebagai Presiden Komunitas Bambu Wulung. Sebuah komunitas yang mewadahi para pekerja, pemikir dan penyuka seni budaya. Ketua Bidang Humas PKS 2020-2025. Bisa dihubungi di ahmad.mabruri@gmail.com

Tinggalkan komentar