#05SOLO

Ibuku asalnya Solo. Simbah kakung dan simbah putri tinggal di Nusukan. Mbah Kakung kiai di ndalem mangkunegaran. Biasa mimpin doa, tahlil dan acara-acara keagamaan di lingkungan keraton Surakarta. Sedangkan mbah putri entrepreneur. Bisniswoman. Beliau punya kios di pasar Nusukan. Komoditi dagangannya sembako. Mulai dari kelapa parut, minyak goreng, sampe tahu tempe ada semua.

Mbah Kakung pendiam. Banyak zikir dan kalau bicara juga tak ingin mendominasi. Mbah putri sebaliknya. Senang ngobrol dan ingin tahu segala macam topik pembicaraan. Mulai masalah sosial kemasyarakatan, bisnis sampai politik. Ngobrol sama mbah putri seru. Kita bisa debat panjang. Orangnya gak cepet menyerah. Kalau ada argumen argumen baru dia bisa lanjutin lagi itu obrolan walau udah pindah topik.

Ibuku anak ke-2 dari 9 bersaudara. Sifat mbah kakung lebih nurun ke ibu. Pendiam, ngalahan dan lebih nrimo. Mbah putri cocok ngobrol sama babeku. Sama sama keras. Gak mau kalah dan suka debat. Kalau lebaran keluarga besar mbah Muchtarom Adnan kumpul di Nusukan. Biasanya simbah masak tengkleng kepala kambing. Jangan ditanya lah masalah rasa. Sedap!

Solo ini katanya barometer politik nasional. Kalo Solo suhu politiknya belum panas berarti kondisi nasional masih aman. Tapi kalo Solo udah mulai bakar bakaran maka politik nasional mesti waspada. Biasanya nular ke daerah-daerah lain.

Pilihan politik di keluarga besar simbah di Solo biasanya seragam. Tak ada perbedaan signifikan. Walau mbah kakung tata cara peribadatannya sejalan dengan para nahdhiyin tapi gak masalah juga dengan sikap babeku yang muhammadiyah. Babeku gak suka acara tahlilan dan semacamnya. Mbah kakung sebaliknya. Beliau yang penyelenggara dan memimpin tahlilan. Gak pernah ada masalah soal beginian di keluarga besar kami.

Begitu juga pilihan pilihan politik. Jaman orba kalo tentara ya mesti Golkar. Aku sendiri sejak boleh memilih waktu lulus SMA selalu golput. Walaupun di RT jadi panitia pemilihan di TPS tapi aku sendiri gak pernah milih salah satu dari 3 partai yang ikut pemilu waktu itu. Sampai kemudian kita bikin partai sendiri setelah reformasi.

Fenomena menarik saat Joko Widodo yang orang Solo dan tinggalnya tetangga kecamatan Nusukan nyalon presiden. Keluarga besar Nusukan terbelah. Satu pihak pro Jokowi satunya lagi anti. Pro dan kontra ini sampai menjalar di grup WA keluarga. Sesuatu yang sebelumnya tak pernah terjadi.

Ibu yang biasanya selalu nurut sama pilihan politiknya dengan aku yang pengurus DPP PKS ini tiba tiba ‘mbalelo’. Maka saat pilres 2014 Prabowo-Hatta vs Jokowi-JK keluarg Solo ‘pecah’. Ibu yang biasanya gak terlalu ngotot milih presiden tetiba jadi fanatik bener sama Jokowi. Pokoknya apa yang dilkukan Jokowi bagus gak ada yang jelek. Hal ini juga diikuti oleh kakak, bulik dan sepupuku yang lain.

Dahsyat bener memang ini efek Jokowi buat keutuhan keluarga besar. Fenomena terpolarisasinya masyarakat menjadi 2 kubu aku rasakan bukan hanya di level keluarga tapi sudah sampai level bangsa. Dan secara tidak sadar fenomena ini berlangsung sampai sekarang. Untung saja ibuku dan bulikku kemudian ‘sadar’. Pilihan ke Jokowi di pilpres 2014 tidak membawa bangsa ini ke tanda tanda kemajuan. Bahkan kehidupan demokrasi, ekonomi dan keutuhan bangsa semakin memprihatinkan. Pilpres 2019 kemarin mereka sudah say goodbye dengan Jokowi. Tapi pilihan calon lainnya juga gak banyak. Sistem oligarki politik di Indonesia bikin kader terbaik bangsa tak bisa maju jadi calon presiden. Pilihannya itu itu saja dan gak bermutu.

Makanya pilpres 2019 yang memunculkan calon presiden Prabowo-Sandi vs Jokowi-Ma’ruf masyarakat dibikin miskin pilihan. Hasilnya? Kita tahulah. Walau berdarah darah. Makan korban jiwa banyak akhir politiknya jadi lucu. Kayak nonton srimulat. Kelihatannya dari pertama berantem beneran. Eh akhirnya ‘happy ending’. Lucu tapi miris. Pemimpin pemimpin nirempaty. Ya sudah.

Waktu Jokowi jadi walikota Solo aku pernah makan siang bareng di Loji Gandrung. Rumah dinas walikota Solo. Waktu itu sekitar 2010-an aku nemenin Tifatul Sembiring menkominfo yang lagi kunjungan kerja di Solo. Selama makan siang bareng bertiga itu aku dengerin gak ada hal hal atau ide yang keren dari Jokowi. Biasa aja. Cuman memang media pandai benar mengemas walikota Solo ini jadi barang bagus.

Solo buat aku memang hanya jadi tempat pulang mudik saja. Kalau ditanya orang Brur lo aslinya dari mana? Solo! Nusukan. Padahl aku gak pernah tinggal di Solo. Ngomong jawa kromo inggil juga gak bisa. Ngomong jawa ngoko juga gak pas.

Mabrur ini emang cocoknya jadi anak Tanjung Priok bukan wong solo. Haha.

Diterbitkan oleh brurmabrur

Pernah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Ummi dan Annida. Kini aktif sebagai Presiden Komunitas Bambu Wulung. Sebuah komunitas yang mewadahi para pekerja, pemikir dan penyuka seni budaya. Ketua Bidang Humas PKS 2020-2025. Bisa dihubungi di ahmad.mabruri@gmail.com

Tinggalkan komentar