Tahun 70-an Cibeureum adalah sebuah desa. Letaknya di Cimahi yang masih bagian dari kota Bandung. Semakin tahun Cibeureum makin berkembang. Seperti juga daerah daerah lain di pulau Jawa.
Rumah orang tua di Cibeureum cukup luas. Walau rumah dinas tentara tapi bukan rumah petak kecil. Seingatku halamannya besar. Pagar halaman ditanami pohon bluntas. Di bagian belakang masih ada tnah kosong juga. Ada pohon alpukat besar lebat daunnya. Karena ini komplek tentara maka disekeliling komplek dibangun pager tembok tinggi. Di balik tembok tinggi waktu itu terhampar sawah. Belum jadi perumahan padat. Jadi aku waktu kecil kalau mau lihat sawah mesti naik pohon alpukat dulu. Dari atas pohon itulah aku puas memandang sawah yang terbentang.
Tentang pohon alpukat besar belakang rumah itu aku ingat suatu saat di serang ulat bulu yang jumlahnya ribuan. Ulat bulu ini palanya kayak ada antena dua buah kanan kiri. Warnanya hitam coklat abu abu. Besarnya sekelingking tangan orang dewasa, Saking banyaknya itu pohon sampai habis daunnya. Tinggal meranggas ranting seperti habis disambar petir. Untuk mengusir ulat bulu yang jumlahnya ribuan itu mesti diambil satu satu dimasukkan ember dan dikubur dalam tanah. Tapi asiknya setelah diserang ulat bulu itu tak berapa lama pohon alpukat itu tumbuh kembali daun daunnya. Bertambah lebat dan muncul buah buah alpukat yang besar besar. Banyak sekali buahnya sampai bisa bagi bagi ke tetangga.
Kami keluarga besar. Babe dan ibu anaknya 7. Jarak kelahiran antar anak hanya berselang sekitar 2 tahun. Kakak sulung perempuan lahir Februari 1958, kemudian disusul kedua lahir November 1959. Kemudian berturut turut lahir tahun Agustus 1962, April 1965, April 1968, Mei 1970 dan Januari 1972. Selain kami keluarga sekandung, di rumah juga ada om dan bulik yang tinggal bersama kami. Biasanya ada adik dari ibu atau adik babe yang tinggal di rumah. Selain sekolah atau bekerja. Om dan bulik kami juga punya tugas mengurus kami yang masih kecil kecil. O iya kami memanggil ayah dengan sebutan Babe. Gak mecing sik Babe sama ibu. Mungkin karena perawakan bapak yang tinggi besar tentara pulak maka cocok dipanggil babe. Sementara ibu perawakannya biasa saja. Tidak kurus dan tidak gemuk.
Aku gak tahu gimana dulu orangtuaku bisa jadian. Lupa apakah mereka sempat pacaran atau dijodohkan orang. Sekilas pernah denger sih cerita ibu. Babe datang ke rumah mbah kakung dan mbah putri di Solo ngelamar ibu. Waktu itu katanya mbah kakung dan mbah putri ragu mau menerima lamaran babe. Soalnya tentara. Prajurit pula. Dalam pandangan mereka tentara itu kasar, keras dan suka main tangan. Gak kebayang nanti anak perempuan merek kalau nikah sama tentara ntar kalo marah digebukin sampe ringsek. Tapi entah kenapa akhirnya simbah menerima lamaran babe. Dan lebih sedih lagi abis dinikahin anak perempuannya langsung dibawa ke Cimahi.
Apa kenangan yang paling diingat waktu ente kecil bersama babe Brur? Gak banyak sih. Beberapa yang aku ingat suatu sore waktu hujan mobil dinas babe merek Gaz pernah ditabrak sama mobil tangki pertamina yang bawa bahan bakar. Entah gimana kejadiannya mobil tangki pertamina warna merah putih itu parkir depan rumah dan supirnya turun selesain urusan sama babe. Ngerik juga dia urusan sama tentara,
Ingatan yang lain adalah aku dan adikku dibawa jalan jalan ke masjid Agung di Bandung. Sempat lihat pake baju seragam aku dan adikku berfoto dengan latar belakang masjid Agung Bandung. Ridwan Kamil waktu itu belum jadi walikota sik. Pidi Baiq juga belum bikin film Dilan. Ntah foto itu sekarang ada dimana. Lupa nyimpennya.
Babeku ini emang selain tentara tapi islamnya militan. Makanya kalau ngajak anak anaknya juga maennya ke masjid. Kebiasaan ngajak maen ke masjid ini juga berlanjut saat pindah ke Jakarta. Tapi ntar yak cerita masjid di Jakarta. Sekarang babnya masih di Cibeureum.
Penghuni komplek tentara kalau salat Jumat mesti ke Masjid di luar komplek. Mesjid yang ada dalam komplek tidak dipake jumatan. Mungkin statusnya masih musholla. Dipakai buat solat jamaah 5 waktu penghuni saja.
Nah suatu Jumat aku dibawa serta sama babe. Aku duduk samping babe dengerin khotbah Jumat. Gak rewel sik. Aku kan anaknya pendiam dan penurut. Gak ada kegaduhan saat jamaah mendengarkan khotbah. Keributan terjadi justru saat sholat Jumat. Baru rakaat pertama ternyata aku kencing di celana. Kebayang kan? Air kencing ku meleber kemana mana. Membasahi sajadah ku dan sajadah sekelilingku. Batal sudah salat jumat babeku. Sajadahnya dikencingin sama anaknya yang ganteng ini.
Tapi alhamdulillah babe gak marah tuh. Aku hanya diam saja dengan wajah tanpa dosa. Disaat jamaah lain keluar dari masjid, babeku sedang sibuk ngepel lantai masjid bekas air pipisku. Najis.
Mungkin kalau aku waktu itu dimarahin sama babe bisa jadi trauma dan gak mau ke masjid lagi. Padahal namaya anak kecil ya emang begitu. Apalagi jaman itu kan belum ada teknologi pampers. Wajarlah anak ngompol di celana. Air pipis najis bisa cepat dibersihkan. Tapi kalau trauma mendalam anak kecil dimarahi orang tua karena pipis atau berisik di masjid bisa berabe. Anak jadi takut ke masjid.
Alhamdulillah karena kearifan babeku waktu itu aku jadi cinta masjid. Sampe sekarang.