#02CIMAHI

Sejak lahir sampai kelas 3 SD aku tinggal di Cibeureum Cimahi Jawa Barat. Kota ini nempel dengan kota Bandung. Pusat pendidikan TNI banyak lokasinya di Cimahi. Semua saudara kandungku lahir di rumah sakit Dustira Cimahi. Rumah sakit milik TNI AD. Dari 7 bersaudara hanya aku yang numpang lahir di Tanjung Priok Jakarta.

Tak banyak ingatanku dengan kota ini. Yang kutahu kami tinggal di komplek tentara Pusdikint (Pusat Pendidikan Intendans). Aku masih ingat bentuk kompleknya melingkar. Rumah-rumahnya hampir sama semua. Di tengah komplek ada lapangan luas tempat kita olah raga main bola atau main volley. Dekat lapangan ada masjid tempat kita solat jamaah. Kalau ngadu maen bola biasanya dibagi jadi anak blok kaler lawan anak blok kidul.

Aku ingat di sebelah kiri masuk komplek ada pabrik kerupuk punya orang Cina. Pabriknya besar. Pintu gerbangnya tinggi pakai lempengan besi. Seberang pabrik kerupuk kantor tentara. Di deretan kantor itu ada TK Berdikari. Nah, disitulah almamater TK gue. Kebetulan yang jadi kepala sekolah ibu sendiri jadi aku dilulusin TK dengan cum laude walau usia belum memadai.

Di umur 5 tahun aku sudah diterima sekolah dasar. Jadi lo jenius Brur? Ya kagak juga. Biasa aja sih. Prestasi akademik tidak ada yang menonjol. Bahkan untuk pelajaran menulis selalu dapat angka merah. Tulisanku jelek bener. Gak kebaca. Mungkin itu yang menginspirasi cita citaku untuk jadi dokter. Bukankah jadi dokter mesti bisa bisa nulis resep dengan tulisan yang tak bisa dibaca? Haha.

Kecepatan masuk sekolah 2 tahun ini bikin aku jadi murid paling kecil di kelas. Ini berujung pada penempatan posisi duduk. Aku selalu dikasih meja paling depan. Kadang persis di depan meja guru. Keuntungannya aku jadi gak bisa nyontek kalau ujian. Ya di depan kita bu guru gimana nyonteknya?

Apa yang paling menarik selama sekolah TK dan SD di Cimahi? lupa lupa inget sih. Tapi kalau gak salah waktu TK aku paling seneng jajan lepet isi oncom yang disiram sambel kacang. Perasaan itulah makanan paling lezat di dunia. Sebelum masuk kelas bisa dipastikan aku mampir makan lepet siram bumbu kacang.

Kalau berangkat ke TK aku selalu bareng ibu jalan kaki. Karena letaknya masih dalam komplek. Dekat sama rumah. Paling cuman 10 menit sampai. Tak lupa kalau sekolah bawa celana ganti. Soalnya masih suka ngompol di celana. Ahai.

SD ku letaknya agak jauh dari rumah. Sekitar 4 kilometer dari rumah. SD Negeri Cibeureum letaknya ke arah Kebon Kopi. Posisi di pinggir jalan raya. Untuk sampai sekolah ada 2 cara. Bisa lewat depan komplek dan menyusuri trotoar jalan hingga sampai sekolah. Bisa juga lewat belakang komplek. Melewati perumahan kampung dan pematang sawah yang waktu itu masih terbentang luas.

Rute ke sekolah biasanya berangkat lewat depan komplek pulang lewat belakang. Kita anak komplek tentara berangkatnya bareng maen samper samperan dulu. Biasanya rombongan berempat atau berlima kita jalan kaki berangkat sekolah. Masih inget nama temen-temen SD? Sumpah udah pada lupa!

Yang inget cuman kegembiraan kita saat pulang sekolah. Karena lewat pematang maka sering pulang sekolah kita cari belut di sawah. Ngerusak tanaman padi yang lagi ditanam. Maen lumpur. Lempar-lemparan taik kebo. Atau mandi di bekas air kobangan sawah yang abis panen. sebuah kemewahan masa kecil yang tak didapatkan anak anak kota jaman now. Ganjarannya apa? Sampai rumah ya mesti dijewer kupingnya sama ibu karena baju jadi kotor gak karuan. Atau karena sandal jepit ilang kerendem lumpur. Kotor itu baik kata iklan sabun. Bener sih yang kotor cuman baju dan celana kita. Tapi hati kita bersih.

Satu lagi yang aku ingat saat kecil adalah kesibukan di rumah yang penuh sembako. Babe karena masih prajurit kasta rendahan maka untuk menambah penghasilan buka warung kecil kecilan. Gula karungan dimasukin plastik sekiloan. Begitu juga tepung, minyak goreng dan lain lain. Saya sik masih kecil ngegerocokin aja. Yang kerja ibu dan kakak yang sudah besar.

Warung kita letaknya di depan komplek hampir pinggir jalan raya Cimahi. Kalau gak salah ingat sebelah kanan jalan kalau arah masuk komplek. Selain buka warung kecil babe juga buka warung seduh jamu. Seingat saya jamu air mancur. Yang nungguin warung ponakan bapak namanya mas Nur.

Ada satu kejadian yang aku inget suatu saat warung pernah kena tipu. Modusnya dengan cara di hipnotis. Jadi yang jaga warung dibikin gak sadar. Dia nyerahin uang dan sejumlah barang ke orang yang ngehipnotis itu. Baru sadar setelah beberapa saat orang itu pergi.

Rugi? Ya iyalah. Tapi hikmahnya kita jadi kudu banyak zikir kalau lagi jaga warung. Biar gak mempan dihipnotis. Zikir gak mesti waktu solat aja ternyata. Di luar solat juga kita mesti banyak zikir.

Belagu amat lo Brur!

Haha… ampun. Anak kecil sok tahu.

Diterbitkan oleh brurmabrur

Pernah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Ummi dan Annida. Kini aktif sebagai Presiden Komunitas Bambu Wulung. Sebuah komunitas yang mewadahi para pekerja, pemikir dan penyuka seni budaya. Ketua Bidang Humas PKS 2020-2025. Bisa dihubungi di ahmad.mabruri@gmail.com

Tinggalkan komentar